Eurasia Lecturer Series 2026 Session 11, Soroti Ancaman Siber di Era Artificial Intelligence (AI)

Sesi foto bersama setelah penutupan Eurasia Lecturer Series 2026 sesi ke-11. (Doc. FISHMed)

Jakarta, 25 Mei 2026 — Fakultas IImu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kembali menyelenggarakan Eurasia Lecturer Series 2026 sesi ke-11 dengan tema “Navigating the Uncertain Futures: Understanding the Transformative Impacts of Artificial Intelligence and Digitalization to Global Society.” Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Ir. Rudy Agus Gemilang Gultom, M.Sc., Guru Besar Tetap Ilmu Komputer Universitas Pertahanan Republik Indonesia sebagai pembicara utama dan Filya Rizky Lestari, S.T. M.Han., selaku moderator yang memandu jalannya diskusi. Melalui kegiatan ini, FISH UNJ menghadirkan diskusi akademik mengenai perkembangan Artificial Intelligence (AI), digitalisasi, dan dampaknya terhadap masyarakat global.

Dalam pemaparannya, Prof. Rudy menjelaskan bahwa Artificial Intelligence (AI) kini telah berkembang menjadi instrumen strategis yang memengaruhi berbagai sektor, mulai dari pertahanan, keamanan, hingga kehidupan sosial masyarakat global. Perkembangan AI yang semakin pesat dinilai turut mengubah pola ancaman digital yang sebelumnya bersifat konvensional menjadi lebih kompleks, cepat, dan sulit dideteksi. Ia juga menyoroti bagaimana AI saat ini tidak hanya dimanfaatkan untuk membantu aktivitas manusia, tetapi juga berpotensi digunakan dalam serangan siber, manipulasi informasi, hingga penyebaran deepfake.

Pemaparan materi mengenai kolaborasi regional dan global oleh pembicara dalam rangkaian Eurasia Lecturer Series 2026 sesi ke-11 (FISH) UNJ. (Doc. FISHMed)

“Kalau robot diprogram untuk melakukan sesuatu, kalau AI diprogram untuk berpikir. AI belajar semuanya. Semakin banyak kita kasih data, semakin pintar,” ujar Prof. Rudy dalam sesi diskusi. Ia menjelaskan bahwa teknologi AI mampu mempelajari pola data, suara, wajah, hingga gestur manusia sehingga dapat menghasilkan konten digital yang menyerupai aslinya. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan baru dalam menjaga keamanan informasi dan privasi digital masyarakat, terlebih dengan berkembangnya teknologi quantum computing yang dapat mempercepat kemampuan AI dalam melakukan proses komputasi dan analisis data.

Prof. Rudy juga menjelaskan bahwa ancaman siber global dan regional saat ini semakin kompleks serta bersifat lintas negara sehingga tidak dapat ditangani secara individual maupun sektoral. Oleh karena itu, cyber security perlu menjadi prioritas utama dalam memperkuat ketahanan digital nasional di tengah transformasi teknologi yang terus berkembang.

Sebagai bentuk solusi, Prof. Rudy menawarkan enam strategi nasional cyber security berbasis Artificial Intelligence (AI) dalam menghadapi ancaman global. Strategi tersebut meliputi pengembangan SDM dan talenta siber nasional, penguatan infrastruktur pertahanan siber nasional, penguatan regulasi dan tata kelola siber, public-private partnership (PPP) dalam cyber security, kolaborasi strategis regional dan global, serta implementasi Sixware Cyber Security Framework.

Dalam sesi tersebut, Prof. Rudy turut memperkenalkan Sixware Cyber Security Framework, sebuah framework keamanan siber yang dikembangkannya sejak 2019. Framework tersebut mengintegrasikan aspek sumber daya manusia, perangkat keras, perangkat lunak, infrastruktur, tata kelola, hingga pendanaan dalam membangun sistem pertahanan siber yang adaptif dan berkelanjutan. Ia juga menyampaikan bahwa framework tersebut saat ini tengah diupayakan untuk dapat menjadi standar nasional melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Penyerahan buku karya pembicara kepada perwakilan FISH UNJ dalam rangkaian Eurasia Lecturer Series 2026 sesi ke-11. (Doc. FISHMed)

Pada akhir sesi, Prof. Rudy turut menyerahkan buku karyanya yang berjudul Cyber Warfare: Sudah Siapkah Kita Menghadapinya? kepada panitia dan perpustakaan FISH UNJ. Penyerahan tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan literasi dan kajian keamanan siber di lingkungan akademik. 

Melalui Eurasia Lecturer Series 2026 sesi ke-11 ini, peserta diajak untuk memahami bahwa perkembangan Artificial Intelligence (AI) dan digitalisasi tidak hanya menghadirkan peluang dalam berbagai sektor kehidupan, tetapi juga memunculkan tantangan baru yang perlu diantisipasi secara kolektif. Diskusi ini sekaligus menegaskan pentingnya kesiapan sumber daya manusia, penguatan literasi digital, serta kolaborasi lintas sektor dalam membangun sistem keamanan siber yang adaptif di tengah perkembangan teknologi global yang terus berubah. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan wawasan bagi mahasiswa dan civitas akademika FISH UNJ dalam menghadapi dinamika transformasi digital di masa depan (BMF/GIC/AG/FISHMed2026).

Share this article

© 2025 Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum – Universitas Negeri Jakarta