Kemahasiswaan Foto bersama sebagai penutup sesi Coaching Clinic Wirausaha Pancasila Sesi 1 bersama narasumber, peserta, dan dosen pengampu (Dok. FISH UNJ) Jakarta, 6 Oktober 2026 — Semangat Sumpah Pemuda tidak hanya menjadi pengingat atas persatuan generasi muda Indonesia, tetapi juga momentum untuk mendorong mahasiswa mengambil peran dalam pembangunan bangsa. Semangat tersebut menjadi landasan pelaksanaan Coaching Clinic Wirausaha Pancasila bersama dosen pengampu Prof. Dr. Harris Fatgehipon yang diselenggarakan di Gedung R.A. Kartini Lantai 5, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Selasa (6/10/2026). Kegiatan yang mengusung tema “Semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928: Melahirkan Wirausaha Muda dari Kampus” ini menghadirkan Askan Naim, S.H., M.H., Owner dan Direktur Utama PT Krakatau Shipyard, sebagai narasumber. Sebanyak 70 mahasiswa dari berbagai program studi dan fakultas di UNJ mengikuti kegiatan, termasuk mahasiswa Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) dengan Program Studi PIPS (Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial), Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Digital, serta Ilmu Komunikasi. Dalam pemaparannya, Askan menekankan bahwa kewirausahaan sesungguhnya memiliki akar yang kuat dalam perjalanan masyarakat Nusantara. Sebagai negeri maritim, Indonesia sejak dahulu tumbuh bersama aktivitas perdagangan dan keberadaan para saudagar yang berperan dalam kehidupan ekonomi sekaligus sosial masyarakat. “Nusantara merupakan negeri maritim, sekaligus negerinya para saudagar. Saat ini kelas sosial saudagar hampir hilang dari Indonesia. Sudah saatnya semangat berwirausaha dikembangkan kembali dari kampus,” ujar Askan. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam melahirkan generasi wirausaha baru yang tidak hanya memiliki kemampuan membaca peluang dan menghasilkan keuntungan, tetapi juga mempunyai orientasi sosial dan kebangsaan. Nilai-nilai Pancasila perlu menjadi fondasi dalam membangun usaha agar aktivitas ekonomi tetap memperhatikan masyarakat dan kepentingan bangsa. “Kampus harus melahirkan banyak wirausaha yang bermental dan berideologi Pancasila, tidak hanya memikirkan keuntungan semata, tetapi memperhatikan kepentingan masyarakat sekitar serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara,” tambahnya. Askan Naim, S.H., M.H. selaku Owner dan Direktur Utama PT Krakatau Shipyard saat pemaparan materi (Dok. FISH UNJ) Pesan tersebut sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, yang menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dalam perjalanan bangsa. Dalam konteks kekinian, kontribusi pemuda dapat diwujudkan melalui keberanian menciptakan peluang, membuka lapangan pekerjaan, dan menghadirkan usaha yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Coaching clinic ini sekaligus mendukung agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education melalui pembelajaran kewirausahaan di lingkungan perguruan tinggi serta SDG 8: Decent Work and Economic Growth melalui penguatan kapasitas mahasiswa untuk menciptakan usaha dan peluang kerja yang produktif. Melalui kegiatan ini, semangat Sumpah Pemuda diharapkan tidak berhenti sebagai ingatan historis, tetapi terus diterjemahkan menjadi tindakan generasi muda: berani berkarya, mandiri secara ekonomi, serta membangun kewirausahaan yang berorientasi pada kemajuan masyarakat, bangsa, dan negara. Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (460) Internasionalisasi (72) Kemahasiswaan (25) Kerjasama (3) Penelitian (25) Pengabdian (27) Pengajaran (56) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (42) Prestasi (14) Prodi (35) Program Unggulan (62) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (37) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
Guest Lecture Globalization Issues Course: Ilmu Komunikasi FISH UNJ dan Vital Strategies Dorong Komunikasi Kreatif dari Social Engagement menuju Social Impact
Pengajaran Rachfiansyah (Ancha), Communication Manager Vital Strategies, membuka sesi guest lecture dengan pemaparan mengenai kampanye pengendalian tembakau dan komunikasi strategis. (Dok. IKom UNJ) Jakarta, 7 Oktober 2026 — Program Studi S1 Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Jakarta menghadirkan NGO Vital Strategies dalam guest lecture mata kuliah Globalization Issues yang diampu oleh dosen Nada Arina Romli, M.I.Kom. dan Noprita Herari, M.I.Kom. Bertajuk “From Social Engagement to Social Impact: Global Tobacco Control Campaigns,” kegiatan ini menghadirkan Yosef Rabindanata, Digital Communication Officer, dan Rachfiansyah (Ancha), Communication Manager Vital Strategies, untuk berbagi pengalaman mengenai peran komunikasi strategis dalam menghubungkan kampanye digital, advokasi, dan perubahan sosial. Vital Strategies merupakan organisasi kesehatan publik global yang bekerja bersama pemerintah dan masyarakat sipil melalui pengembangan sistem data, solusi kebijakan, komunikasi strategis, dan advokasi. Dalam isu pengendalian tembakau, Vital Strategies telah mengembangkan berbagai kampanye di sejumlah negara untuk meningkatkan kesadaran publik, membangun dukungan masyarakat, serta mendorong terciptanya lingkungan dan kebijakan yang lebih mendukung kesehatan publik. Melalui berbagai studi kasus, mahasiswa diajak memahami bahwa keberhasilan kampanye komunikasi tidak semata-mata diukur melalui jumlah likes, views, shares, maupun interaksi di media sosial. Engagement menjadi bagian dari proses yang lebih panjang menuju social impact, mulai dari peningkatan kesadaran dan pengetahuan, perubahan persepsi dan sikap, hingga terbentuknya advokasi, aksi sosial, perubahan perilaku, dan dukungan terhadap kebijakan. Yosef menekankan bahwa kampanye juga perlu memperhitungkan intensitas dan keberlanjutan pesan. Paparan yang dilakukan secara terus-menerus dengan pendekatan serupa justru dapat memunculkan campaign fatigue pada audiens. “Kampanye tidak bisa dilakukan terus-menerus dengan cara yang sama. Ada campaign fatigue. Karena itu, kita perlu melihat kembali kapan kampanye dijalankan, kapan dihentikan, menganalisis bagaimana audiens merespons, kemudian mengevaluasi dan terus menyesuaikan strateginya,” ujar Yosef dalam pemaparan materinya. Tantangan tersebut semakin kompleks di tengah algoritma media sosial yang mempersonalisasi konten berdasarkan perilaku dan preferensi pengguna. Strategi kampanye karenanya perlu ditempatkan sebagai proses yang dinamis dan berulang, mulai dari riset, produksi dan distribusi pesan, pengukuran respons audiens, evaluasi, hingga penyesuaian strategi. Perbedaan karakteristik audiens juga menuntut pendekatan komunikasi yang berbeda, termasuk strategi untuk menjangkau kelompok sasaran yang belum terpapar kampanye. Alfiah Rahmawati (Vira), salah satu content creator dalam kampanye anti tembakau Vital Strategies di media sosial, berbagi temuan mengenai algoritma media sosial dan kemungkinan kampanye menjangkau audiens di luar target awal. (Dok. IKom UNJ) Pembahasan kemudian mengarah pada beragam taktik pemasaran digital industri tembakau, seperti advergaming, influencer promotion, entertainment and content marketing, community and event promotion, surrogate marketing, hingga brand extension. Mahasiswa juga diperkenalkan dengan Canary, inisiatif pemantauan pemasaran tembakau digital yang menunjukkan bagaimana data dapat dikembangkan menjadi bukti untuk mendukung komunikasi publik, pemberitaan media, advokasi, dan kebijakan. Salah satu takeaway penting dari sesi tersebut adalah perlunya menghindari victim-blaming terhadap perokok. Komunikasi kesehatan publik perlu melihat persoalan secara lebih luas dengan mengkritisi struktur dan praktik pemasaran industri yang turut membentuk lingkungan konsumsi. Ketika perubahan pada tingkat kebijakan nasional menghadapi hambatan, advokasi juga dapat diperkuat melalui kerja bersama komunitas, masyarakat sipil, media, dan pemangku kepentingan di tingkat lokal. Dalam konteks tersebut, kreativitas menjadi kekuatan penting untuk membangun pesan yang relevan sekaligus mendorong perubahan. Rachfiansyah menutup diskusi dengan mengingatkan mahasiswa bahwa kreativitas merupakan kompetensi yang perlu terus dikembangkan oleh calon praktisi komunikasi, terutama ketika berhadapan dengan berbagai keterbatasan dalam pelaksanaan kampanye. “Sebagai lulusan komunikasi, kemampuan kreatif itu harus terus diasah. Dalam membuat kampanye akan selalu ada rintangan dan hambatan, tetapi itu bukan berarti kita menghentikan langkah positif yang sedang dilakukan,” ujar Rachfiansyah. Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme mahasiswa Ilmu Komunikasi FISH UNJ dalam mendiskusikan strategi kampanye, algoritma media sosial, dan pengukuran dampak komunikasi bersama para narasumber. (Dok. IKom UNJ) Kegiatan ini sekaligus melanjutkan jejak kolaborasi Vital Strategies dengan sivitas akademika UNJ. Pada 2018, Vital Strategies pernah melibatkan Program Studi Seni Rupa UNJ dalam kampanye #TheyLieWeDie, yang menggunakan seni dan kreativitas sebagai medium advokasi antitembakau sekaligus melibatkan anak muda dalam mengkritisi strategi pemasaran industri tembakau. Kolaborasi dalam isu serupa juga dilakukan pada 2015 bersama Program Studi Bimbingan dan Konseling UNJ melalui kampanye anti tembakau. E-flyer sesi Guest Lecture “From Social Engagement to Social Impact” menghadirkan praktisi NGO dari Vital Strategies pada Mata Kuliah Globalization Issues (Dok. IKom UNJ) Bagi FISH UNJ, guest lecture ini menjadi bagian dari penguatan pembelajaran yang mempertemukan perspektif akademik dengan pengalaman profesional dan persoalan global. Pembahasan pengendalian tembakau memiliki relevansi dengan SDG 3: Good Health and Well-being, sedangkan keterlibatan perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, komunitas, media, dan pemangku kebijakan mencerminkan semangat SDG 17: Partnerships for the Goals. Melalui pembelajaran kolaboratif tersebut, FISH UNJ memperkuat posisinya sebagai lingkungan akademik yang responsif terhadap isu global sekaligus mendorong mahasiswa menggunakan kompetensi komunikasi untuk kepentingan publik. Sesi ini menunjukkan bahwa kreativitas dapat membuka ruang bagi engagement, tetapi kerja komunikasi tidak berhenti pada seberapa banyak orang melihat atau berinteraksi dengan sebuah pesan. Tantangan berikutnya adalah memastikan komunikasi mampu bergerak dari engagement menuju awareness, advocacy, action, dan pada akhirnya social impact. Penulis: Ryan/Andien Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (460) Internasionalisasi (72) Kemahasiswaan (25) Kerjasama (3) Penelitian (25) Pengabdian (27) Pengajaran (55) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (42) Prestasi (14) Prodi (35) Program Unggulan (62) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (37) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
International Lecturer FISH UNJ Hadirkan Akademisi University of Sindh, Bahas Isu Global dan Konstruksi Realitas Media
Sesi International Lecturer untuk Mata Kuliah Globalization Issues pada Prodi S1 Ilmu Komunikasi (Dok. IKom, 2026) Jakarta, 23 September 2026 — Program Studi S1 Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Jakarta (UNJ), menyelenggarakan kegiatan International Lecturer dalam mata kuliah Globalization Issues dengan menghadirkan Abdul Razaque Chhachhar, Ph.D., Assistant Professor pada Department of Media and Communication Studies, University of Sindh, Jamshoro, Pakistan. Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti oleh mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi FISH UNJ angkatan 2024. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya internasionalisasi pembelajaran di lingkungan FISH UNJ dengan membuka ruang akademik lintas negara bagi mahasiswa. Dalam perkuliahan yang diampu oleh Nada Arina Romli, M.I.Kom., mahasiswa tidak hanya mempelajari isu global sebagai rangkaian peristiwa yang melampaui batas negara, tetapi juga diajak memahami bagaimana isu tersebut dipilih, dibingkai, didistribusikan, diinterpretasikan, hingga diperdebatkan melalui media dunia. Mengangkat tema “Global Issues in World Media,” Chhachhar menjelaskan bahwa isu seperti perubahan iklim, perang dan perdamaian, migrasi, pandemi, kemiskinan, kecerdasan artifisial, hak asasi manusia, serta ketahanan pangan dan energi menjadi isu media ketika memasuki ruang komunikasi publik, perdebatan, kebijakan, dan perhatian masyarakat. Ia menekankan bahwa perjalanan sebuah peristiwa menjadi berita global melewati berbagai tahapan, mulai dari observasi, seleksi berita, pemilihan sumber, framing, publikasi, distribusi melalui platform, hingga interpretasi audiens. Pemaparan Materi “Global Issues in Global Media” oleh Abdul Razaque Chhachhar, PhD (Dok. IKom, 2026) Salah satu pembahasan utama dalam kuliah tersebut adalah agenda-setting dan framing. Chhachhar menjelaskan bahwa perhatian media dapat memengaruhi isu apa yang dianggap penting oleh publik, sementara framing menentukan aspek tertentu dari realitas yang ditonjolkan dalam pemberitaan. Peristiwa yang sama, misalnya, dapat dikonstruksi sebagai persoalan keamanan, krisis kemanusiaan, masalah ekonomi, maupun perselisihan politik. “Media may not tell us exactly what to think, but through agenda-setting they influence what deserves our attention, and through framing they shape the lens through which we understand it. Therefore, being globally informed also means learning to ask: what is being highlighted, and what has been left outside the frame?” ujar Chhachhar dalam sesi perkuliahan. Pesan tersebut mengajak mahasiswa untuk tidak berhenti pada aktivitas mengonsumsi informasi. Literasi media global membutuhkan kemampuan membandingkan sumber, memeriksa bukti, mengenali frame, serta menyadari suara atau perspektif yang tidak hadir dalam suatu pemberitaan. Materi perkuliahan juga menegaskan bahwa tidak ada satu media yang dapat memberikan gambaran lengkap atas kompleksitas sebuah isu global. Sesi perkuliahan diakhiri dengan tanya-jawab mahasiswa dengan dosen tamu internasional (Dok. IKom, 2026) Perspektif Global South turut menjadi perhatian penting. Mahasiswa diajak melihat bahwa analisis media global perlu memberi ruang terhadap suara dan pengetahuan yang berasal dari Asia, Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah, dan kawasan lainnya. Sumber berbahasa Inggris maupun perspektif Barat tidak semestinya secara otomatis dianggap universal. Perbandingan media justru perlu mempertimbangkan perbedaan konteks budaya, bahasa, kepemilikan media, akses, audiens, dan cara suatu isu dibingkai. Kegiatan International Lecturer ini relevan dengan komitmen FISH UNJ terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education melalui pembelajaran berkualitas dengan perspektif internasional dan penguatan literasi kritis mahasiswa. Diskusi mengenai akses terhadap informasi, hak asasi manusia, etika media, representasi kelompok rentan, serta akuntabilitas institusi juga beririsan dengan SDG 16: Peace, Justice and Strong Institutions. Sementara itu, kolaborasi akademik antara Universitas Negeri Jakarta dan University of Sindh merepresentasikan semangat SDG 17: Partnerships for the Goals, khususnya melalui pertukaran pengetahuan dan jejaring pendidikan lintas negara. Melalui kegiatan ini, FISH UNJ terus mendorong pembelajaran yang tidak hanya membawa isu global ke dalam ruang kelas, tetapi juga membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk mempertanyakan bagaimana realitas global dikonstruksi dan siapa yang memperoleh ruang untuk mendefinisikannya. Dalam ekosistem informasi yang semakin dipengaruhi media sosial, algoritma, kreator, dan kecerdasan artifisial, kemampuan membaca media secara kritis menjadi bagian penting dari kompetensi calon komunikator di tengah masyarakat global. Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (460) Internasionalisasi (72) Kemahasiswaan (25) Kerjasama (3) Penelitian (24) Pengabdian (25) Pengajaran (54) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (42) Prestasi (14) Prodi (35) Program Unggulan (61) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (37) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
FISH UNJ Perkuat Wawasan Global Mahasiswa melalui Kuliah Umum Internasional bersama UiTM Malaysia
Kerja Sama Internasional FISH UNJ Perkuat Wawasan Global Mahasiswa melalui Kuliah Umum Internasional bersama UiTM Malaysia Jakarta, 09 September 2026 Kuliah umum internasional Program Studi Ilmu Komunikasi UNJ bersama UiTM Malaysia. (Dok. FISH UNJ, 2026) Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) terus memperkuat internasionalisasi pembelajaran melalui kolaborasi akademik lintas negara. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kuliah umum internasional bertajuk “Globalization and Southeast Asian Regionalism: Dynamics and Dilemmas” yang diselenggarakan Program Studi Ilmu Komunikasi UNJ secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2024. Kuliah umum menghadirkan Mohd. Nur Najmi Nuji, M.A. (MIPR, APR), Senior Lecturer sekaligus Course Coordinator Public Relations Department, Faculty of Communication and Media Studies, Universiti Teknologi MARA (UiTM) Shah Alam, Malaysia. Kegiatan dibuka dan dipandu bersama oleh dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UNJ, Nada Arina Romli, M.I.Kom., CPR. Pemaparan materi bersama Mohd. Nur Najmi Nuji, M.A. (MIPR, APR), Senior Lecturer UiTM Shah Alam, Malaysia. (Dok. FISH UNJ, 2026) Globalisasi sebagai Fenomena Multidimensi dan Peran ASEAN Centrality Dalam pemaparannya, Najmi mengajak mahasiswa melihat globalisasi tidak hanya sebagai proses ekonomi, tetapi sebagai fenomena multidimensi yang turut melibatkan dinamika politik, sosial, budaya, teknologi, dan lingkungan. Di tengah dampak globalisasi yang tidak selalu dirasakan secara merata, Asia Tenggara memiliki posisi strategis dalam membangun respons kawasan melalui penguatan ASEAN Centrality dan integrasi regional. “Integrasi regional melalui ASEAN tidak menghilangkan globalisasi, melainkan membantu negara-negara di Asia Tenggara mengelolanya secara kolektif.” — Mohd. Nur Najmi Nuji, M.A. (MIPR, APR) Pembahasan kemudian diarahkan pada tiga pilar utama ASEAN, yaitu Komunitas Politik-Keamanan, Komunitas Ekonomi, serta Komunitas Sosial-Budaya, sekaligus bagaimana perkembangan tersebut berpengaruh terhadap praktik komunikasi strategis dan diplomasi publik di kawasan Asia Tenggara. Decolonizing PR: Membaca Komunikasi melalui Konteks Lokal Menariknya, kuliah umum tidak hanya membawa mahasiswa pada perspektif global, tetapi juga mengajak mereka membaca kembali komunikasi melalui konteks lokal. Melalui pembahasan mengenai “Decolonizing PR”, mahasiswa diperkenalkan pada pentingnya menelaah kembali dominasi perspektif Barat dalam teori dan praktik kehumasan serta mempertimbangkan nilai-nilai komunikasi yang hidup di masyarakat Asia Tenggara. Nilai seperti musyawarah mufakat, penghormatan terhadap relasi sosial, serta filosofi Jawa “Ajining diri dumunung ana ing lathi” menjadi contoh bagaimana praktik komunikasi dapat dipahami melalui konteks budaya lokal. Perspektif tersebut menegaskan bahwa komunikasi strategis tidak semata berkaitan dengan penyampaian pesan, tetapi juga dengan kemampuan memahami nilai, identitas, dan cara masyarakat membangun keharmonisan sosial. Sesi diskusi interaktif bersama mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2024. (Dok. FISH UNJ, 2026) Generasi Muda sebagai Aktor Diplomasi Informal Diskusi berlangsung interaktif ketika mahasiswa membahas posisi generasi muda sebagai aktor diplomasi informal (Youth as Diplomatic Actors). Mahasiswa diajak melihat bahwa diplomasi pada era digital tidak lagi hanya berlangsung melalui hubungan resmi antarnegara, tetapi juga melalui interaksi masyarakat, komunitas, media, dan generasi muda di ruang digital. Mahasiswa juga diperkenalkan pada Issue Analysis Framework sebagai kerangka untuk membaca persoalan komunikasi secara lebih sistematis. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu mengidentifikasi isu global dan regional, tetapi juga memahami aktor, kepentingan, konteks, serta konsekuensi komunikasi yang menyertainya. Memperkuat Jejaring Akademik Internasional FISH UNJ Pelaksanaan kuliah umum internasional ini menjadi bagian dari komitmen FISH UNJ dalam menghadirkan pengalaman pembelajaran yang semakin terbuka terhadap perspektif internasional sekaligus tetap berpijak pada konteks sosial dan budaya kawasan. Kolaborasi dengan akademisi dari UiTM Malaysia juga membuka ruang pertukaran pengetahuan antara Indonesia dan Malaysia sebagai dua negara yang memiliki kedekatan geografis dan budaya sekaligus menghadapi dinamika komunikasi global yang terus berkembang. Melalui kegiatan tersebut, FISH UNJ terus mendorong mahasiswa untuk memiliki perspektif global, sensitivitas terhadap konteks lokal, serta kemampuan berpikir kritis dalam membaca perubahan komunikasi di tingkat regional maupun internasional. Upaya ini sekaligus memperkuat jejaring akademik internasional FISH UNJ dalam mendukung pendidikan tinggi yang adaptif terhadap dinamika masyarakat global. Penulis: AndienAulia/RyanFatehTim FISH Media Center 2026 Tag: FISH UNJ, UiTM Malaysia, Kuliah Umum Internasional, Ilmu Komunikasi UNJ, ASEAN Centrality, Decolonizing PR, Diplomasi Publik Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (460) Internasionalisasi (72) Kemahasiswaan (22) Kerjasama (3) Penelitian (24) Pengabdian (25) Pengajaran (53) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (41) Prestasi (14) Prodi (34) Program Unggulan (61) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (34) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
PKKMB FISH UNJ 2026, MELALUI TEMA “THE BEGINNING OF INFINITY” SIAP MENYAMBUT MAHASISWA BARU DENGAN MENGAJAK BERKEMBANG DAN BERKARYA
Kemahasiswaan Jakarta, 24 Agustus 2026 · Tim FISH Media Center Pimpinan fakultas & Koordinator Program Studi se-FISH dengan mahasiswa baru FISH 2026. (Doc. FISHMed, 2026) Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) sukses menyelesaikan kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB FISH 2026) yang berlangsung di Gedung Dewi Sartika, Lantai 2, Aula Latief, Kampus A UNJ. Melalui tema “The Beginning of Infinity: Menjelajahi Cerita, Merangkai Makna,” PKKMB FISH UNJ 2026 menjadi simbol awal perjalanan mahasiswa untuk berkembang dan berkarya. Kegiatan ini diselenggarakan untuk memperkenalkan dan memberikan pengetahuan kepada mahasiswa baru mengenai dinamika kehidupan kampus, sekaligus sebagai wadah untuk memperkenalkan lingkungan FISH UNJ yang mencakup fasilitas, sarana, dan prasarana bagi mahasiswa baru. Pesan Dekan: Kenali Lingkungan Kampus Sejak Dini Dekan FISH UNJ, Firdaus Wajdi, Ph.D., dalam kesempatannya menyampaikan pesan utama bagi para mahasiswa baru agar dapat beradaptasi dengan cepat di lingkungan kampus. “Ada pesan singkat yang ingin saya sampaikan, yaitu kenali. Kenali seluruh fasilitas, rekan, kurikulum program studi yang nanti akan menjadi bagian dari hari-hari anda selama empat tahun kedepan. Nanti akan ketemu bapak/ibu dosennya, mungkin akan melihat juga ruang kelasnya, dimana kantinnya, laboratoriumnya, dan ruang TU-nya. Jangan lupa juga kenali senior-seniornya.” — Firdaus Wajdi, Ph.D., Dekan FISH UNJ Bersama dengan Dekan FISH UNJ, turut hadir pula Wakil Dekan I FISH UNJ Dr. Kurniawati, M.Si., Wakil Dekan II FISH UNJ Dr. Aris Munandar, M.Si., Wakil Dekan III FISH UNJ Dr. E. Nugrahaeni P., M.Si., serta rekan-rekan pimpinan Koordinator Program Studi se-FISH UNJ dalam sesi Pengenalan Pimpinan Fakultas & Koordinator Program Studi Se-FISH. Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Rangkaian kegiatan diisi dengan materi Sosialisasi Satuan Petugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) Universitas Negeri Jakarta oleh Ketua Satgas PPK sekaligus Dosen S1 Sosiologi FISH UNJ, Dr. Ikhlasiah Dalimunthe, M.Si. Dalam materinya, Dr. Ikhlasiah menyampaikan pembekalan mengenai pentingnya pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan kampus, termasuk cara mengenali bentuk kekerasan, dampak bagi korban, sanksi untuk pelaku, dan alur penanganan kekerasan di lingkungan UNJ. Parade Organisasi Mahasiswa yang Meriah Panggung kreatif dan interaktif OPMAWA dan ORMAWA. (Doc. FISHMed, 2026) Rangkaian kegiatan kian semarak saat sesi Parade Organisasi Pemerintahan Mahasiswa (OPMAWA) dan Organisasi Kemahasiswaan (ORMAWA). Para mahasiswa baru disambut dengan berbagai aksi panggung kreatif dan interaktif dari pengurus BEM, BPM, serta Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tingkat fakultas. Sesi pertengahan ini dirancang untuk memperkenalkan wadah pengembangan minat, bakat, dan jiwa kepemimpinan di luar kelas akademik. Penutup Penuh Warna: Drama Musikal dan Tarian Daerah Penampilan drama musikal oleh perwakilan mahasiswa-mahasiswi program studi se-FISH. (Doc. FISHMed, 2026) Selanjutnya, rangkaian kegiatan ditutup melalui penampilan panggung bakat oleh perwakilan mahasiswa-mahasiswi program studi se-FISH yang membawakan drama musikal dan tarian daerah modern. Pertunjukan seni yang kreatif ini berhasil mempererat rasa kebersamaan, mencairkan kecanggungan, serta menumbuhkan kebanggaan budaya di kalangan mahasiswa baru sejak hari pertama mereka berkuliah. Melalui momentum penutup ini, para peserta tidak hanya merasa disambut dengan hangat, tetapi juga termotivasi untuk aktif mengeksplorasi potensi diri dan berani berkarya bersama di lingkungan FISH UNJ. Kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Melalui integrasi pembekalan akademik, sosialisasi lingkungan kampus yang aman, serta ruang ekspresi seni, pelaksanaan PKKMB FISH UNJ 2026 ini secara langsung berkontribusi pada pencapaian target pembangunan berkelanjutan global, khususnya: SDG 4 (Quality of Education) — menghadirkan pendidikan inklusif berkualitas SDG 3 (Good Health and Well-Being) — menjamin lingkungan kampus yang sehat secara mental dan fisik, bebas dari kekerasan SDG 5 (Gender Equality) — didukung penuh melalui komitmen Satgas PPK SDG 16 (Peace, Justice, and Strong Institutions) — menciptakan lingkungan kampus yang aman, adil, dan inklusif Sebagai agenda strategis universitas, seluruh rangkaian pembekalan dalam kegiatan PKKMB FISH UNJ 2026 ini dirancang sebagai landasan fundamental untuk mendukung capaian IKU 3 (Indikator Kinerja Utama 3), yaitu memberikan pengalaman belajar mahasiswa di luar kampus yang komprehensif, adaptif, dan siap mencetak generasi unggul yang responsif terhadap tantangan sosial di masa depan. Penulis: GIC, ZRI, CKG & JRPSTim FISH Media Center 2026 Tag: PKKMB FISH UNJ 2026, Mahasiswa Baru FISH UNJ, Kemahasiswaan FISH UNJ, Satgas PPK UNJ, OPMAWA ORMAWA FISH Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (460) Internasionalisasi (71) Kemahasiswaan (20) Kerjasama (3) Penelitian (24) Pengabdian (25) Pengajaran (52) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (41) Prestasi (14) Prodi (33) Program Unggulan (61) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (34) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
International Lecturer FISH UNJ Bahas Agama Kontemporer dan Masyarakat Aborigin Australia
Jakarta, 24 Agustus 2026 – Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) menyelenggarakan kegiatan International Lecturer dengan menghadirkan Prof. Dr. Adam Possamai dari Western Sydney University sebagai narasumber pada Senin, 24 Agustus 2026. Mengangkat tema “Contemporary Religion and Australian Aboriginal Peoples,” kegiatan berlangsung di Gedung SFD Lantai 10, pukul 09.00–11.00 WIB, dan dimoderatori oleh Syifa Syarifa, S.Pd., M.Sc. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya FISH UNJ di bawah kepemimpinan Dekan FISH UNJ, Firdaus Wajdi, Ph.D., dalam memperkuat atmosfer akademik internasional dan memperluas wawasan global mahasiswa melalui interaksi langsung dengan akademisi dari perguruan tinggi internasional. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh ruang pembelajaran untuk memahami hubungan antara agama kontemporer, masyarakat Indigenous, identitas, sejarah, dan dinamika sosial di Australia. Perspektif masyarakat Aborigin Australia menunjukkan bahwa agama dan spiritualitas tidak hanya berkaitan dengan sistem kepercayaan, tetapi juga beririsan dengan budaya, identitas komunitas, relasi dengan lingkungan, pengalaman sejarah, serta perjuangan atas pengakuan dan kesetaraan. Memahami Keragaman Masyarakat Aborigin Australia Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Adam Possamai menjelaskan bahwa masyarakat Aborigin Australia bukanlah satu kelompok yang homogen. Mereka terdiri atas beragam komunitas dengan identitas, nama, bahasa, tradisi, serta pengalaman lokal yang berbeda. Keragaman tersebut penting dipahami agar masyarakat Indigenous tidak direpresentasikan secara sederhana sebagai satu identitas tunggal. Pemahaman yang lebih kontekstual diperlukan untuk melihat hubungan antara identitas, budaya, agama, sejarah, dan kehidupan sosial masyarakat Aborigin Australia. Salah satu isu sejarah yang turut dibahas adalah Stolen Generations, yaitu periode ketika anak-anak Aboriginal dan Torres Strait Islander dipisahkan secara paksa dari keluarga dan komunitas mereka melalui berbagai kebijakan pemerintah. Pembahasan mengenai isu tersebut membuka perspektif peserta tentang bagaimana kebijakan masa lalu dapat meninggalkan dampak sosial, budaya, dan identitas yang panjang hingga generasi berikutnya. Selain memahami pengalaman historis masyarakat Aborigin, peserta juga diajak mencermati perkembangan sikap masyarakat Australia terhadap isu kesetaraan, pengakuan, serta hubungan antara masyarakat Indigenous dan masyarakat Australia secara lebih luas. Materi kemudian berkembang dalam diskusi mengenai agama, keberagaman, hak masyarakat Indigenous, serta bagaimana masyarakat modern membangun hubungan yang lebih inklusif dengan kelompok yang memiliki latar belakang budaya dan spiritual berbeda. Dari Australia untuk Memahami Keberagaman Indonesia Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan refleksi dari peserta. Salah satu isu yang mengemuka adalah bagaimana nilai-nilai agama yang mengajarkan kepedulian terhadap sesama dan alam dapat diterjemahkan menjadi perilaku sosial dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan tersebut juga membuka perspektif komparatif bagi mahasiswa untuk melihat pengalaman masyarakat Aborigin Australia dalam kaitannya dengan keberagaman masyarakat adat, agama, dan budaya di Indonesia. Dengan demikian, pembelajaran mengenai masyarakat Indigenous Australia tidak hanya menjadi pengetahuan tentang negara lain, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk untuk merefleksikan keberagaman dan persoalan sosial di Indonesia. Pada penghujung kegiatan, Prof. Adam Possamai menekankan pentingnya memahami masyarakat Aborigin melalui perspektif keberagaman, identitas, sejarah, pengakuan, dan kesetaraan. “Today we learned that Aboriginal peoples are incredibly diverse, with many different communities, identities, and local names. We also learned about the Stolen Generations and how historical policies continue to shape identity and society today. This lecture reminds us that understanding Aboriginal peoples is not only about learning their history, but also about understanding diversity, identity, recognition, and equality.” Firdaus Wajdi Dorong Mahasiswa Berperspektif Global Dekan FISH UNJ, Firdaus Wajdi, Ph.D., menyambut positif penyelenggaraan International Lecturer sebagai bagian dari penguatan pendidikan ilmu sosial yang berwawasan global. Menurutnya, mahasiswa ilmu sosial perlu memiliki kemampuan untuk memahami berbagai persoalan masyarakat dari perspektif yang beragam dan tidak terbatas pada konteks lokal. “Kami berharap kegiatan seperti ini dapat memperluas cara pandang mahasiswa FISH UNJ. Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai masyarakat dan persoalan sosial di Indonesia, tetapi juga memahami bagaimana isu agama, identitas, masyarakat Indigenous, dan keberagaman dibicarakan dalam konteks negara lain. Dari sana, mahasiswa dapat membangun perspektif yang lebih kritis, komparatif, dan terbuka,” ujar Firdaus Wajdi, Ph.D., Dekan FISH UNJ. Firdaus Wajdi menambahkan bahwa pengalaman belajar bersama akademisi internasional diharapkan tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga membentuk kemampuan mahasiswa untuk menghubungkan perspektif global dengan realitas sosial Indonesia. “Harapan kami, mahasiswa mampu membawa wawasan global tersebut kembali ke konteks Indonesia. Indonesia juga memiliki keragaman agama, budaya, masyarakat adat, dan identitas yang sangat kaya. Karena itu, pemahaman terhadap pengalaman masyarakat di negara lain dapat membantu mahasiswa melihat persoalan di Indonesia secara lebih reflektif dan komparatif,” lanjut Dekan FISH UNJ Firdaus Wajdi. Menurutnya, internasionalisasi pembelajaran merupakan bagian penting dari pengembangan pendidikan tinggi di bidang ilmu sosial. Interaksi dengan akademisi internasional dapat memperkenalkan mahasiswa pada perspektif, tradisi akademik, serta pengalaman sosial yang berbeda sekaligus membuka peluang bagi pengembangan jejaring akademik yang lebih luas. Memperkuat Atmosfer Akademik Internasional FISH UNJ Melalui kegiatan International Lecturer ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh wawasan mengenai masyarakat dan agama dalam konteks Australia, tetapi juga mampu mengembangkan perspektif kritis dan komparatif dalam melihat isu keberagaman, identitas, agama, masyarakat Indigenous, dan kehidupan multikultural. Pengalaman tersebut penting dalam membentuk sensitivitas akademik mahasiswa terhadap dinamika sosial yang berkembang dalam konteks lokal maupun global. Pembelajaran semacam ini juga diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk melihat ilmu sosial bukan sekadar sebagai kajian teoritis, tetapi sebagai bidang ilmu yang membantu memahami kompleksitas kehidupan manusia dan masyarakat. Penyelenggaraan International Lecturer menjadi bagian dari komitmen FISH UNJ di bawah kepemimpinan Dekan FISH UNJ Firdaus Wajdi, Ph.D. untuk memperkuat atmosfer akademik internasional, memperluas wawasan global mahasiswa, serta menghadirkan pembelajaran yang kritis, inklusif, dan relevan dengan perkembangan masyarakat global. Ke depan, FISH UNJ terus mendorong semakin banyak ruang pertemuan antara mahasiswa, dosen, dan akademisi internasional. Harapannya, internasionalisasi pembelajaran dapat membentuk lulusan FISH UNJ yang memiliki wawasan global, kemampuan berpikir kritis dan komparatif, sekaligus tetap memiliki kepekaan yang kuat terhadap persoalan sosial, budaya, dan kemanusiaan di Indonesia. Team Liputan: JRPS, NEAEditor: FISHMED Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (460) Internasionalisasi (68) Kemahasiswaan (19) Kerjasama (2) Penelitian (23) Pengabdian (23) Pengajaran (51) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (41) Prestasi (14) Prodi (33) Program Unggulan (61) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (33) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
Perkuat Strategi Pengembangan Operasional Program Studi, S2 Pendidikan Geografi UNJ Lakukan Benchmarking ke UPI
Bandung, 18 Agustus 2026. Program Studi Magister (S2) Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang diwakili oleh Koordinator Prodi Prof. Dr. Cahyadi Setiawan, M.Si., tim dosen, tendik, dan mahasiswa melaksanakan kegiatan benchmarking ke Program Studi S2 Pendidikan Geografi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada hari Selasa tanggal 18 Agustus 2026. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memperkuat strategi pengembangan dan pengelolaan operasional program studi melalui pembelajaran dari praktik pengelolaan program studi yang telah diterapkan di UPI. Pada kegiatan tersebut, Ketua Program Studi S2 Pendidikan Geografi UPI Bapak Dr. Iwan Setiawan, S.Pd., M.Si. bersama dengan Sekretaris Prodi Annisa Joviani Astari, M.I.L., M.Sc., Ph.D. memaparkan berbagai strategi pengembangan yang mencakup aspek kurikulum, penerimaan mahasiswa, pembelajaran, promosi, penelitian, penyelesaian studi, hingga pengembangan sistem evaluasi pembelajaran. Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam kegiatan benchmarking adalah implementasi Outcome-Based Education (OBE) dalam kurikulum. Program Studi S2 Pendidikan Geografi UPI telah mengimplementasikan OBE dengan dukungan pakar kurikulum, Prof. Dr. Ahmad Yani, M.Si., yang juga merupakan Dosen Tetap Program Studi (DTPS). Implementasi tersebut turut didukung oleh sistem penilaian berbasis evaluasi Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang telah tersedia secara terperinci dan selaras dengan prinsip OBE. Diskusi mengenai strategi meningkatkan minat dan pengembangan jumlah mahasiswa Program Studi S2 Pendidikan Geografi UPI menerangkan bahwa penerapan skema fast track yang memungkinkan mahasiswa jenjang S1 untuk melanjutkan studi ke jenjang S2. Skema tersebut menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan jumlah mahasiswa pada program studi. Selain fast track, UPI juga tengah merencanakan penyelenggaraan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Konsep yang dikembangkan tidak sekadar memindahkan pembelajaran reguler ke format daring, tetapi menyiapkan sistem PJJ yang didukung oleh Learning Management System (LMS), modul pembelajaran, dan berbagai kelengkapan pembelajaran jarak jauh. Strategi promosi juga dilakukan secara terintegrasi dengan kegiatan kerja sama. Promosi program studi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan kerja sama dengan berbagai instansi, termasuk dinas dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Pendekatan ini menjadi salah satu upaya untuk memperluas jejaring sekaligus meningkatkan eksposur program studi kepada calon mahasiswa dan mitra strategis. Pada bidang penelitian, Program Studi S2 Pendidikan Geografi UPI mengembangkan grup riset untuk mengoptimalkan aktivitas penelitian. Pada rumpun Geografi UPI terdapat lima grup riset yang menjadi bagian dari ekosistem penelitian dan pengembangan keilmuan. Pengembangan grup riset juga berkaitan dengan mekanisme pembimbingan mahasiswa. Mahasiswa pada umumnya dapat mengajukan topik penelitian sesuai dengan minatnya. Dalam pelaksanaannya, terdapat pula grup riset yang melibatkan mahasiswa dalam kegiatan penelitian. Sistem pembimbingan yang diterapkan menggunakan dua orang dosen pembimbing untuk satu mahasiswa. Upaya untuk mendorong mahasiswa menyelesaikan studi tepat waktu dilakukan dengan pemantauan kemajuan tugas akhir secara berkala. Mahasiswa dikumpulkan secara periodik untuk memantau progress pengerjaan tugas akhir sekaligus mengidentifikasi kendala yang dihadapi selama proses penyelesaian studi. UPI juga telah membuka alternatif kelulusan melalui jalur artikel ilmiah. Meskipun demikian, publikasi artikel sebagai bagian dari jalur kelulusan tetap harus memenuhi prosedur dan ketentuan yang telah ditetapkan. Aspek lain yang menjadi pembelajaran dalam kegiatan benchmarking adalah dukungan sarana dan prasarana pembelajaran. Aktivitas praktikum Program Studi S2 Pendidikan Geografi UPI didukung oleh peralatan yang lengkap, termasuk peralatan yang diperoleh melalui hibah dengan nilai mencapai Rp6 miliar. Dukungan sarana tersebut menjadi bagian penting dalam menunjang aktivitas pembelajaran dan pengembangan kompetensi mahasiswa. UPI juga meningkatkan tata kelola akademik dengan menerapkan sistem atau aplikasi penilaian berbasis evaluasi CPL. Sistem tersebut menyediakan instrumen penilaian secara terperinci yang disusun sesuai dengan prinsip OBE, sehingga proses evaluasi capaian pembelajaran dapat dilakukan secara lebih sistematis. Sementara itu, dari aspek struktur pembelajaran, Program Studi S2 Pendidikan Geografi UPI memiliki total beban studi sebesar 60 SKS. Dalam diskusi juga disinggung mengenai beban kerja dosen serta konsep teaching of university sebagai bagian dari pembahasan pengelolaan pembelajaran dan sumber daya akademik. Kegiatan benchmarking ini memberikan gambaran mengenai berbagai praktik yang dapat menjadi bahan refleksi dan pembelajaran bagi Program Studi S2 Pendidikan Geografi UNJ. Berbagai strategi yang diterapkan UPI, mulai dari implementasi OBE, pengembangan sistem evaluasi berbasis CPL, strategi peningkatan jumlah mahasiswa melalui fast track, pengembangan PJJ, penguatan promosi dan kerja sama, grup riset, pemantauan masa studi, hingga penguatan sarana praktikum, menjadi masukan penting dalam pengembangan program studi. Pengalaman UPI dalam pengembangan program studi juga menunjukkan pentingnya keterpaduan antara aspek akademik, penelitian, layanan mahasiswa, promosi, kerja sama, dan dukungan sarana prasarana. Hasil benchmarking selanjutnya dapat menjadi bahan bagi Program Studi S2 Pendidikan Geografi UNJ untuk mengidentifikasi praktik-praktik yang relevan dan adaptif sesuai dengan kebutuhan serta karakteristik program studi. Kegiatan ini diharapkan dapat terus memperkuat tata kelola dan strategi operasional, meningkatkan kualitas layanan akademik, memperluas jejaring kerja sama, serta mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan penelitian di Program Studi S2 Pendidikan Geografi FISH UNJ. [] Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (460) Internasionalisasi (67) Kemahasiswaan (18) Kerjasama (2) Penelitian (23) Pengabdian (23) Pengajaran (50) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (41) Prestasi (14) Prodi (33) Program Unggulan (61) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (33) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
FISH UNJ DAN INJOURNEY HOSPITALITY PERKUAT SINERGI PENDIDIKAN DAN INDUSTRI PARIWISATA
Jakarta, 22 Juli 2026 — Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) melalui Program Studi Usaha Perjalanan Wisata memperkuat kolaborasi pendidikan berbasis industri melalui penandatanganan perjanjian kerja sama dengan InJourney Hospitality. Penandatanganan dilaksanakan pada Rabu, 22 Juli 2026, di kantor InJourney Hospitality, Gedung Sarinah Lantai 12A, Jalan M.H. Thamrin No. 11, Jakarta Pusat. Dari pihak InJourney Hospitality, dokumen kerja sama ditandatangani oleh Peter Alexander Fritz, Director of Operations, dan Joko Utomo, Senior Vice President Human Capital. Kesepakatan ini menjadi landasan bagi pengembangan berbagai program kolaboratif yang menghubungkan proses pembelajaran di perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata serta standar profesional industri perhotelan dan pariwisata. InJourney Hospitality merupakan bagian dari ekosistem InJourney, BUMN holding sektor aviasi dan pariwisata Indonesia. Perusahaan ini berfokus pada pengelolaan dan pengembangan bisnis perhotelan dengan portofolio hotel yang tersebar di berbagai destinasi strategis di Indonesia. Melalui penerapan standar pelayanan, inovasi, dan praktik bisnis yang berkelanjutan, InJourney Hospitality berperan dalam menghadirkan layanan akomodasi berkualitas sekaligus mendukung peningkatan daya saing pariwisata nasional. Perusahaan tersebut juga aktif membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia, meningkatkan daya saing destinasi, serta mendorong pertumbuhan sektor pariwisata yang berkelanjutan. Kerja sama antara FISH UNJ dan InJourney Hospitality diarahkan untuk memperluas kesempatan mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang relevan dan kontekstual di lingkungan industri. Kolaborasi ini dapat dikembangkan melalui program magang, kuliah praktisi, kunjungan industri, pengembangan kompetensi mahasiswa, peningkatan kapasitas dosen, peninjauan kurikulum, penelitian kolaboratif, serta kegiatan akademik dan pengembangan sumber daya manusia lainnya. Dalam sesi diskusi, Dekan FISH UNJ, Assoc. Prof. Firdaus Wajdi, Ph.D., menekankan pentingnya membangun sinergi yang lebih kuat antara perguruan tinggi dan industri, khususnya dalam menyelaraskan kurikulum program studi dengan perkembangan industri serta kebutuhan dunia kerja. Penyelarasan kurikulum dipandang sebagai langkah strategis untuk memastikan lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan dinamika sektor pariwisata dan perhotelan yang terus berkembang. Menanggapi hal tersebut, InJourney Hospitality menyampaikan keterbukaannya untuk mendukung pengembangan kurikulum Program Studi Usaha Perjalanan Wisata FISH UNJ. Perusahaan menyambut baik peluang untuk menghadirkan para General Manager ke kampus FISH UNJ guna memberikan masukan dan melakukan peninjauan kurikulum berdasarkan perspektif industri, pengalaman operasional, serta kebutuhan kompetensi profesional. Dengan sekitar 100 General Manager yang tersebar di jaringan hotel InJourney Hospitality di seluruh Indonesia, perusahaan memiliki sumber daya praktisi yang luas untuk berkontribusi dalam proses pengembangan akademik. Keterlibatan para General Manager tersebut diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai operasional perhotelan, manajemen pelayanan, kepemimpinan, pengembangan sumber daya manusia, pengalaman pelanggan, serta transformasi industri. Assoc. Prof. Firdaus Wajdi, Ph.D., menyampaikan bahwa kemitraan dengan InJourney Hospitality merupakan bagian dari strategi FISH UNJ dalam membangun pendidikan tinggi yang relevan, adaptif, dan berdampak. “Kerja sama ini bukan hanya tentang penandatanganan sebuah dokumen, tetapi tentang membangun jembatan yang semakin kuat antara ruang akademik dan dunia industri. FISH UNJ ingin memastikan mahasiswa memperoleh kesempatan untuk belajar dari praktik terbaik, memahami dinamika industri secara langsung, serta mengembangkan kompetensi profesional yang dibutuhkan oleh sektor pariwisata masa depan,” ujar Assoc. Prof. Firdaus. Ia menegaskan bahwa pengembangan kurikulum tidak dapat dilakukan secara terpisah dari kebutuhan dunia kerja. Keterlibatan praktisi industri menjadi penting agar capaian pembelajaran, materi perkuliahan, kegiatan praktik, dan kompetensi mahasiswa tetap selaras dengan tuntutan profesional yang sesungguhnya. “Kesediaan para General Manager InJourney Hospitality untuk berkontribusi dalam peninjauan kurikulum merupakan peluang yang sangat berharga. Pengalaman praktis mereka dapat memperkaya perspektif akademik sekaligus membantu kami menyiapkan lulusan yang tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga siap menjawab tantangan nyata dalam industri pariwisata dan perhotelan,” tambahnya. InJourney Hospitality juga menyatakan keterbukaannya untuk mengembangkan penelitian kolaboratif yang melibatkan mahasiswa dan dosen. Peluang tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya riset terapan mengenai berbagai isu yang relevan dengan kebutuhan industri, seperti manajemen perhotelan, inovasi pelayanan, pengalaman pelanggan, pengembangan sumber daya manusia, transformasi digital, pengembangan destinasi, dan praktik pariwisata berkelanjutan. “Kami berharap kolaborasi ini dapat melahirkan talenta pariwisata yang kompeten, berintegritas, inovatif, dan memiliki wawasan keberlanjutan. Mahasiswa harus dipersiapkan bukan hanya untuk memasuki dunia kerja, tetapi juga untuk menjadi bagian dari generasi yang mampu mentransformasi industri pariwisata Indonesia agar semakin unggul dan berdaya saing global,” lanjut Assoc. Prof. Firdaus. Bagi Program Studi Usaha Perjalanan Wisata FISH UNJ, kemitraan ini menjadi peluang strategis untuk memperkuat pembelajaran kontekstual dan berbasis praktik. Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman langsung mengenai pengelolaan operasional, pelayanan pelanggan, pengembangan destinasi, manajemen sumber daya manusia, serta penerapan standar profesional dalam ekosistem pariwisata dan perhotelan. Kerja sama ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Quality Education melalui pengembangan kurikulum dan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan industri; SDG 8: Decent Work and Economic Growth melalui peningkatan kesiapan kerja serta kompetensi profesional mahasiswa; dan SDG 17: Partnerships for the Goals melalui kemitraan strategis antara perguruan tinggi dan industri. Sebagai tindak lanjut, FISH UNJ dan InJourney Hospitality akan merumuskan program kerja bersama yang terukur, termasuk peninjauan kurikulum yang melibatkan praktisi industri, pengembangan penelitian kolaboratif, program magang, kuliah praktisi, serta berbagai kegiatan lain yang memberikan manfaat bagi mahasiswa, dosen, kedua institusi, dan industri pariwisata secara lebih luas. Kolaborasi ini sekaligus memperkuat kontribusi FISH UNJ terhadap IKU 5, khususnya dalam pengembangan kerja sama dan luaran kolaboratif yang mendukung peningkatan mutu pendidikan serta pengembangan sumber daya manusia Indonesia. [] Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (460) Internasionalisasi (66) Kemahasiswaan (18) Kerjasama (1) Penelitian (20) Pengabdian (18) Pengajaran (47) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (41) Prestasi (14) Prodi (32) Program Unggulan (61) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (29) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
FISH UNJ TEMBUS MEDAN TERPENCIL PAPUA SELATAN UNTUK PERKUAT KOMPETENSI PENDIDIK DI ASGON MAPPI
Mappi, 6 Juli 2026 – Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pemerataan kualitas pendidikan nasional melalui keterlibatan dosen dalam Pelatihan Penguatan Kapasitas dan Kompetensi Kepala Sekolah, Guru, dan Pengawas Sekolah Kabupaten Mappi Tahun 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 6–10 Juli 2026 di SMA Negeri 1 Asgon, Distrik Assue, Kabupaten Mappi, Papua Selatan. Keterlibatan FISH UNJ dalam program ini diwujudkan melalui penugasan Dr. Shahibah Yuliani, S.Sos., M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial FISH UNJ, sebagai bagian dari tim dosen Universitas Negeri Jakarta yang memberikan pendampingan dan penguatan kompetensi kepada para tenaga pendidik di wilayah tersebut. Program yang merupakan hasil kolaborasi antara Universitas Negeri Jakarta dan Pemerintah Kabupaten Mappi ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pendidikan, khususnya kepala sekolah, guru, dan pengawas sekolah. Melalui kolaborasi lintas disiplin dan lintas unit, UNJ menghadirkan materi yang mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan kejuruan, hingga penguatan kepemimpinan kepala sekolah. Tim dosen UNJ yang bertugas di klaster Assue terdiri atas Lalan Erlani, Anggit Aruwiyantuko, Dr. Shahibah Yuliani, S.Sos., M.Pd., Nur Sekhudin, Indra Jaya, Gilang Muhammad Ramadhan, Desi Rahmawati, dan Kamaludin. Setiap dosen membawakan materi sesuai bidang keilmuan dan kebutuhan peserta di lokasi pelatihan. Kehadiran dosen FISH UNJ dalam kegiatan tersebut memperkuat kontribusi fakultas dalam mengembangkan pendidikan yang kontekstual, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Perspektif ilmu sosial dan pendidikan menjadi penting dalam membantu tenaga pendidik memahami karakteristik peserta didik, kondisi sosial masyarakat, serta tantangan pembelajaran yang muncul di wilayah dengan keterbatasan akses dan infrastruktur. Menempuh Perjalanan 220 Kilometer Menuju Asgon Perjalanan menuju Kampung Asgon bukanlah perjalanan yang mudah. Dari pusat Kabupaten Mappi, tim dosen UNJ harus menempuh jarak sekitar 220 kilometer dengan kondisi medan yang menantang. Jalur menuju Distrik Assue didominasi hamparan pasir putih yang relatif dapat dilalui pada musim kemarau. Namun, ketika hujan turun, jalan tersebut dapat berubah menjadi lintasan berlumpur yang menyulitkan kendaraan untuk melintas. Kondisi jalan yang bergelombang turut membuat perjalanan berlangsung lebih lama dan menguras tenaga. Di tengah perjalanan, tim dosen harus berhenti sejenak untuk beristirahat dan menikmati makan siang di tepi hutan sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju lokasi pelatihan. Meskipun menghadapi keterbatasan infrastruktur dan tantangan geografis, semangat para dosen untuk menjalankan pengabdian tidak surut. Perjalanan tersebut menjadi representasi komitmen FISH UNJ dan Universitas Negeri Jakarta untuk memastikan bahwa penguatan kompetensi tenaga pendidik dapat menjangkau masyarakat hingga ke wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal. Menguatkan Pembelajaran yang Kontekstual dan Berpusat pada Peserta Didik Sesampainya di SMA Negeri 1 Asgon, tim dosen UNJ disambut dengan antusiasme para kepala sekolah, guru, dan pengawas sekolah dari wilayah Distrik Assue. Para peserta mengikuti setiap sesi dengan aktif melalui diskusi, pertukaran pengalaman, serta pembahasan berbagai solusi atas tantangan pendidikan yang dihadapi di sekolah masing-masing. Materi pelatihan tidak hanya berfokus pada peningkatan kompetensi pedagogik, tetapi juga mencakup kepemimpinan sekolah, implementasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, asesmen pembelajaran, penguatan karakter, serta strategi pemanfaatan teknologi pendidikan yang disesuaikan dengan kondisi dan ketersediaan fasilitas sekolah. Melalui pendekatan yang kontekstual, peserta didorong untuk tidak sekadar mengadopsi model pembelajaran secara seragam, tetapi mampu mengembangkan strategi pendidikan berdasarkan karakteristik sosial, budaya, geografis, dan kebutuhan peserta didik di Kabupaten Mappi. Kontribusi dosen Pendidikan IPS FISH UNJ dalam kegiatan ini turut memperkuat pemahaman bahwa proses pendidikan tidak dapat dipisahkan dari realitas sosial masyarakat. Pembelajaran yang bermakna perlu memperhatikan lingkungan tempat peserta didik tumbuh, nilai-nilai lokal, relasi sosial, serta pengalaman kehidupan sehari-hari yang membentuk cara mereka memahami pengetahuan. Wujud Sinergi Perguruan Tinggi dan Pemerintah Daerah Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni UNJ, Prof. Ifan Iskandar, menyampaikan bahwa pengiriman tim dosen ke berbagai wilayah terpencil merupakan bagian dari komitmen universitas dalam mendukung pemerataan mutu pendidikan di Indonesia. “Perjalanan menuju Asgon menggambarkan bahwa membangun pendidikan berkualitas memerlukan dedikasi, kolaborasi, dan semangat melayani. Kami sangat mengapresiasi para dosen UNJ yang tetap menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab meskipun harus menghadapi tantangan geografis yang tidak mudah. Kehadiran mereka merupakan bentuk nyata pengabdian perguruan tinggi bagi kemajuan pendidikan nasional,” ujar Prof. Ifan Iskandar. Direktur Kerja Sama dan Bisnis UNJ, Rahmat Darmawan, menegaskan bahwa kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Mappi menjadi bagian dari upaya universitas dalam memperluas kontribusi bagi pembangunan sumber daya manusia di berbagai daerah. “Program ini menunjukkan bahwa kerja sama antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah mampu menghadirkan dampak yang langsung dirasakan masyarakat. Kami berharap peningkatan kapasitas kepala sekolah, guru, dan pengawas sekolah di Kabupaten Mappi akan melahirkan praktik pembelajaran yang lebih berkualitas, sekaligus memperkuat ekosistem pendidikan di Papua Selatan,” ungkap Rahmat Darmawan. Pelatihan tersebut tidak hanya menjadi ruang peningkatan kompetensi profesional, tetapi juga ruang perjumpaan dan pembelajaran bersama antara perguruan tinggi dan masyarakat. Para dosen tidak hanya membagikan pengetahuan akademik, tetapi juga memperoleh pemahaman mengenai realitas pendidikan, karakteristik sosial, serta kebutuhan tenaga pendidik di wilayah Papua Selatan. FISH UNJ Hadirkan Ilmu Sosial yang Berdampak Keterlibatan FISH UNJ dalam program penguatan kompetensi pendidik di Kabupaten Mappi mencerminkan implementasi tridarma perguruan tinggi yang berorientasi pada dampak sosial. Ilmu pengetahuan tidak berhenti pada proses pembelajaran di kampus, tetapi dihadirkan untuk mendampingi masyarakat dan menjawab persoalan pendidikan secara langsung. Kehadiran Dr. Shahibah Yuliani di tengah para pendidik Asgon juga menjadi bagian dari komitmen FISH UNJ dalam mengembangkan pendidikan ilmu sosial yang responsif terhadap keberagaman masyarakat Indonesia. Penguatan kompetensi tenaga pendidik di wilayah terpencil diharapkan dapat mendorong terbentuknya pembelajaran yang lebih adaptif, partisipatif, dan sesuai dengan konteks kehidupan peserta didik. Melalui kegiatan tersebut, FISH UNJ menegaskan perannya sebagai fakultas yang tidak hanya mengembangkan kajian ilmu sosial dan hukum secara akademik, tetapi juga menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat. Perjalanan panjang menuju Asgon menjadi simbol bahwa pengabdian, kepedulian sosial, dan semangat untuk menghadirkan pendidikan yang setara mampu menembus berbagai batas geografis. Sinergi antara FISH UNJ, Universitas Negeri Jakarta, dan Pemerintah Kabupaten Mappi diharapkan terus berkembang dalam berbagai program pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi tersebut menjadi fondasi penting dalam memperkuat kualitas tenaga pendidik, memperluas kesempatan belajar, serta membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan di Papua Selatan. Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO
FISH UNJ PERKUAT SINERGI UNIVERSITAS DALAM PENGEMBANGAN SDM UNGGUL DI KABUPATEN MAPPI
Mappi, 1 Juli 2026 – Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) memperkuat kontribusinya dalam mendukung pemerataan pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia di Kabupaten Mappi, Papua Selatan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui keterlibatan FISH UNJ dalam delegasi universitas yang mengawal implementasi program peningkatan kompetensi 1.000 guru dan Program 1.000 Sarjana Mappi. Program tersebut merupakan bagian dari kerja sama strategis antara Universitas Negeri Jakarta dan Pemerintah Kabupaten Mappi. Melalui kolaborasi lintas fakultas dan unit kerja, UNJ berupaya meningkatkan kapasitas tenaga pendidik sekaligus memperluas kesempatan bagi putra-putri terbaik Mappi untuk memperoleh pendidikan tinggi yang berkualitas. Keterlibatan FISH UNJ dalam program ini ditunjukkan melalui kehadiran Dekan FISH UNJ, Firdaus Wajdi, Ph.D., dan dosen Program Studi Usaha Jasa Pariwisata FISH UNJ, Lala Siti Sahara, M.Si., dalam kunjungan delegasi UNJ ke Kabupaten Mappi pada 28 Juni hingga 2 Juli 2026. Partisipasi tersebut menegaskan peran FISH UNJ dalam menghadirkan pendekatan pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada kemanusiaan, pemberdayaan, serta pemahaman terhadap karakter sosial dan budaya masyarakat setempat. Delegasi UNJ dipimpin oleh perwakilan tiga organ utama universitas, yakni Majelis Wali Amanat (MWA), Senat Akademik Universitas (SAU), dan organ Rektor. MWA diwakili oleh Sekretaris MWA, Prof. Hapidin; SAU diwakili oleh Ketua Komisi Pendidikan SAU, Prof. C. Rudy Prihantono; sedangkan organ Rektor diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni, Prof. Ifan Iskandar. Kunjungan tersebut turut diikuti oleh sejumlah pimpinan fakultas dan unit kerja di lingkungan UNJ, yaitu Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan, Prof. Nofi Marlina Siregar; Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan, Aip Badrujaman; Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, Syamsi Setiadi; Dekan Fakultas Psikologi, Gugum Gumelar Fajar Rakhman; Direktur Kerja Sama dan Bisnis, Rahmat Darmawan; Kepala Humas dan Informasi Publik, Syaifudin; serta Protokoler UNJ, Alan Supriyadi. Sinergi antarfakultas dan tiga organ universitas tersebut menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan di Mappi tidak ditempatkan sekadar sebagai agenda kerja sama kelembagaan. Program ini menjadi bagian dari tanggung jawab sosial UNJ sebagai perguruan tinggi negeri berbadan hukum dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif, berkeadilan, dan menjangkau masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Bagi FISH UNJ, keterlibatan dalam program di Mappi memiliki arti strategis karena pengembangan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari pemahaman terhadap kondisi sosial, budaya, hukum, dan kebutuhan masyarakat. Perspektif ilmu sosial menjadi penting untuk memastikan bahwa setiap program pendidikan tidak hanya tepat secara akademik, tetapi juga relevan dengan konteks kehidupan masyarakat yang menjadi penerima manfaat. Kehadiran Lala Siti Sahara, M.Si., yang telah memiliki pengalaman panjang dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di berbagai wilayah Papua, turut memperkuat pendekatan kontekstual dalam pelaksanaan program. Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk membangun komunikasi yang setara, mengenali pengetahuan lokal, dan memastikan agar kegiatan pendampingan dilakukan dengan menghormati karakter serta kebutuhan masyarakat Mappi. Kunjungan awal delegasi UNJ bersifat simbolis dan akan dilanjutkan melalui dua gelombang keberangkatan akademisi. Gelombang pertama dijadwalkan tiba pada 1 Juli 2026 dengan melibatkan sekitar 30 peserta, sedangkan gelombang kedua dijadwalkan hadir pada 4 Juli 2026 dengan melibatkan 15 peserta. Para akademisi lintas fakultas tersebut akan berkontribusi dalam pelaksanaan pelatihan peningkatan kompetensi guru, pendampingan akademik, serta proses seleksi dan pembinaan calon mahasiswa Program 1.000 Sarjana Mappi. Keterlibatan berbagai disiplin ilmu diharapkan dapat menghasilkan program yang komprehensif dan mampu menjawab kebutuhan pembangunan pendidikan di Kabupaten Mappi. Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni UNJ, Prof. Ifan Iskandar, menyampaikan bahwa program tersebut merupakan investasi jangka panjang untuk membangun kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang berkelanjutan. “Program peningkatan kompetensi 1.000 guru dan Program 1.000 Sarjana merupakan investasi jangka panjang bagi Kabupaten Mappi. UNJ tidak hanya ingin menghadirkan pendidikan tinggi, tetapi juga membangun kapasitas guru sebagai fondasi utama dalam menciptakan generasi yang berkualitas. Kami ingin memastikan bahwa setiap program yang dijalankan memberikan dampak nyata bagi masyarakat Mappi,” ujar Prof. Ifan. Sekretaris MWA UNJ, Prof. Hapidin, menegaskan bahwa keterlibatan MWA merupakan bentuk dukungan terhadap arah kebijakan universitas yang berorientasi pada kemanfaatan sosial dan pembangunan nasional. “MWA mendukung penuh berbagai kebijakan strategis universitas yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional. Program di Mappi merupakan contoh bagaimana tata kelola universitas dapat menghasilkan dampak sosial melalui pendidikan yang inklusif, berkeadilan, dan menjangkau wilayah-wilayah yang membutuhkan,” ungkap Prof. Hapidin. Sementara itu, Ketua Komisi Pendidikan SAU, Prof. C. Rudy Prihantono, menekankan pentingnya menjaga mutu akademik dalam seluruh tahapan pelaksanaan program, baik pada pelatihan guru maupun penyelenggaraan Program 1.000 Sarjana. “Senat Akademik Universitas memastikan bahwa seluruh proses akademik, baik pelatihan guru maupun Program 1.000 Sarjana, dilaksanakan sesuai standar mutu pendidikan tinggi. Dengan demikian, manfaat yang diterima masyarakat tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi mampu menghasilkan lulusan dan tenaga pendidik yang kompeten serta berdaya saing,” jelas Prof. Rudy. Melalui keterlibatan aktif dalam program tersebut, FISH UNJ menegaskan komitmennya untuk mengembangkan pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat yang berpijak pada riset, kolaborasi, serta penghormatan terhadap keberagaman sosial budaya. Kontribusi FISH UNJ juga memperlihatkan bahwa ilmu sosial dan hukum memiliki peran penting dalam membangun program pendidikan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Kolaborasi antara tiga organ universitas, pemerintah daerah, fakultas, serta unit kerja di lingkungan UNJ diharapkan dapat menjadikan Program 1.000 Guru dan Program 1.000 Sarjana sebagai model kemitraan pendidikan yang berkelanjutan. Program ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kompetensi individu, tetapi juga untuk melahirkan tenaga pendidik dan generasi muda Mappi yang mampu menjadi penggerak pembangunan daerah. Keterlibatan FISH UNJ dalam sinergi tersebut sekaligus memperkuat identitas fakultas sebagai institusi akademik yang hadir di tengah masyarakat, mengembangkan keilmuan yang berdampak, serta berkontribusi dalam mewujudkan pendidikan bermutu bagi seluruh anak bangsa tanpa terkecuali. Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (460) Internasionalisasi (66) Kemahasiswaan (18) Kerjasama (1) Penelitian (21) Pengabdian (21) Pengajaran (48) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (41) Prestasi (14) Prodi (32) Program Unggulan (61) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (29) Zona Integritas (3) Berita Terbaru