Dorong Budaya Riset dan Inovasi, ICGSB 2026 Hari Kedua Bahas Mixed Methods dalam Organizational Research

Mega Ayu Permatasari, M.Si (kiri) sebagai moderator sesi pertama seminar internasional dengan pembicara Prof. Felina C. Young, DBA (kanan), pada Jumat 17/4/2026 (doc. FISHMed)

Jakarta, 17 April 2026 — Memasuki hari kedua pelaksanaan The 1st International Conference on Global Social and Business (ICGSB) 2026, semangat penguatan budaya riset kembali terasa dalam rangkaian seminar internasional yang berlangsung di Gedung SFD, Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta, Tower B lantai 10. Kegiatan ini diikuti secara hybrid oleh para koordinator program studi, dosen, serta mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) UNJ.

Pada sesi pertama, peserta mengikuti pemaparan bertajuk “Mixed Methods in Organizational Research” yang disampaikan oleh Prof. Dr. Felina C. Young, DBA dan dimoderatori oleh Mega Ayu Permatasari, M.Si. Dalam sesi ini, Prof. Young menekankan bahwa riset kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan tuntutan utama dalam dunia akademik global.

You’ve got to research, otherwise you’re going to perish. That is now the expectation of universities globally,” ujarnya, menegaskan bahwa perguruan tinggi saat ini menuntut para akademisi untuk terus aktif meneliti agar tetap relevan dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Tidak hanya menyoroti pentingnya produktivitas akademik, Prof. Young juga membagikan pandangan yang membumi tentang proses menulis penelitian. Menurutnya, menulis tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Riset justru dapat tumbuh dari rasa ingin tahu, kebiasaan membaca, dan keberanian untuk terus belajar. Ia mengingatkan bahwa umpan balik tidak seharusnya ditakuti, melainkan diterima sebagai bagian dari proses bertumbuh. “When you get feedback, you become excited, then writing research is not difficult,” jelasnya.

Melalui sesi ini, peserta diajak melihat bahwa mixed methods bukan sekadar penggabungan metode kuantitatif dan kualitatif, tetapi sebuah pendekatan yang menuntut ketajaman berpikir, sistematika kerja, dan keberanian untuk menjawab persoalan secara lebih utuh. Prof. Young menegaskan bahwa inovasi dalam riset harus menghasilkan manfaat nyata, bukan hanya memenuhi kebutuhan akademik semata. Karena itu, penelitian harus dibangun di atas proses yang sistematis, dapat dipertanggungjawabkan, dan taat pada etika. “We have to follow strict ethical standards,” tegasnya.

Lebih jauh, sesi ini juga menyampaikan pesan kuat bagi para peneliti muda. Prof. Young mendorong mahasiswa dan akademisi pemula untuk memulai dari hal yang paling dekat dengan minat mereka, lalu menumbuhkannya dengan membaca, menulis, dan mengeksplorasi berbagai pendekatan penelitian, baik kuantitatif, kualitatif, maupun mixed methods. Ia mengingatkan bahwa perjalanan akademik bukanlah ajang untuk membandingkan diri dengan orang lain, melainkan proses untuk terus menjadi lebih baik dari diri sendiri.

Suasana seminar berlangsung hangat dan interaktif. Peserta tampak antusias mengikuti pemaparan hingga sesi diskusi. Sejumlah pertanyaan yang muncul menunjukkan bahwa topik mixed methods dipandang relevan, terutama bagi akademisi yang ingin mengembangkan riset yang tidak hanya kuat secara metodologis, tetapi juga berdampak bagi masyarakat. Sesi ini ditutup dengan pemberian plakat apresiasi kepada Prof. Young oleh Dr. E. Nugrahaeni P.S., M.Si selaku Wakil Dekan III FISH UNJ.

Melalui sesi ini, ICGSB 2026 tidak hanya menghadirkan diskusi akademik, tetapi juga menegaskan kembali nilai penting penelitian sebagai praktik pembelajaran sepanjang hayat. Riset diposisikan bukan semata sebagai kewajiban institusional, melainkan sebagai jalan untuk merawat rasa ingin tahu, membangun inovasi, dan menghasilkan kontribusi yang bermakna di tengah perubahan zaman.

 

Penulis: RSKPF, RDS, NRR, NA

Tim FISH Media Center 2026

Share this article

© 2025 Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum – Universitas Negeri Jakarta