Dari Pendekatan Kualitatif hingga SEM-PLS, ICGSB 2026 Soroti Pentingnya Riset yang Rapi, Valid, dan Berdampak

Noprita Herari, M.I.Kom (kiri) sebagai moderator sesi kedua seminar internasional dengan pembicara Prof. Felina C. Young, DBA (kanan), pada Jumat 17/4/2026 (doc. FISHMed)

Jakarta, 17 April 2026 — Hari kedua The 1st International Conference on Global Social and Business (ICGSB) 2026 kembali berlanjut dengan sesi kedua bertajuk “SEM-PLS in Social and Business Research” yang menghadirkan Prof. Dr. Felina C. Young, DBA selaku Chancellor and Senior Vice President for Academic Affairs of Philippine Women’s University (PWU) sebagai narasumber dan dimoderatori oleh Noprita Herari, M.I.Kom. Sesi ini memperluas wawasan peserta mengenai pentingnya metodologi penelitian yang tepat, sistematis, dan mampu menjawab persoalan sosial maupun bisnis secara lebih akurat.

Dalam pemaparannya, Prof. Young tidak langsung masuk pada aspek teknis SEM-PLS, tetapi terlebih dahulu mengajak peserta memahami fondasi penelitian melalui pendekatan kualitatif. Ia menjelaskan bahwa penelitian kualitatif memiliki peran penting untuk menggali budaya, perilaku, pengalaman, dan realitas sosial secara lebih mendalam. Berbagai pendekatan seperti ethnographic research, phenomenological research, grounded theory, case study, historical research, hingga narrative research diperkenalkan sebagai cara untuk memahami manusia dan konteksnya secara lebih utuh.

Prof. Young menekankan bahwa riset yang baik menuntut ketelitian, terutama ketika peneliti berhadapan dengan pengalaman personal atau fenomena sosial yang kompleks. Dalam konteks penelitian kualitatif, ia menyoroti pentingnya pemilihan sampel yang tepat, kepekaan peneliti dalam membaca fenomena, serta kewaspadaan terhadap subjektivitas, reliabilitas, validitas, dan generalisasi temuan. Dengan demikian, kualitas penelitian tidak hanya ditentukan oleh topiknya, tetapi juga oleh ketepatan proses dan kedalaman analisisnya.

Pembahasan kemudian bergerak ke tahapan penelitian yang lebih sistematis, termasuk thematic analysis, evaluasi ahli melalui Delphi panelist, proses refinement and validation, hingga pengenalan pada Item-Content Validity Index (I-CVI), Scale-Level Content Validity Index (S-CVI), dan Interquartile Range (IQR) sebagai bagian dari penguatan reliabilitas instrumen dan hasil penelitian. Penjelasan ini memberi pemahaman bahwa sebuah riset yang baik harus dibangun melalui tahapan yang cermat agar dapat diterima, diterapkan, bahkan memberi nilai tambah yang lebih luas bagi masyarakat maupun lembaga.

Setelah membangun fondasi tersebut, Prof. Young kemudian membawa peserta pada pembahasan mengenai SEM-PLS sebagai salah satu pendekatan analisis yang relevan dalam riset sosial dan bisnis. Sesi ini membantu peserta melihat bahwa metode bukan sekadar alat teknis, melainkan bagian dari cara berpikir ilmiah yang menuntut kerapian desain, kejelasan struktur, dan konsistensi antara masalah penelitian, data, serta analisis.

Salah satu bagian yang paling menarik perhatian peserta adalah ketika Prof. Young menampilkan contoh langsung paper hasil karya mahasiswa doktoralnya. Melalui contoh tersebut, ia menjelaskan bagaimana sebuah paper ilmiah disusun dengan baik, mulai dari kerangka berpikir, alur penulisan, hingga ketelitian dalam penyajian hasil. Ia menekankan bahwa kualitas paper tidak hanya terletak pada isi, tetapi juga pada kerapian, kejelasan, dan ketekunan dalam proses penulisan. Sikap bangga yang ia tunjukkan terhadap karya mahasiswanya juga menjadi bentuk apresiasi terhadap proses belajar yang serius dan berkesinambungan.

Diskusi dalam sesi ini juga melahirkan pesan reflektif yang kuat. Penelitian dipahami bukan hanya sebagai aktivitas akademik formal, tetapi sebagai sarana untuk merespons perubahan sosial dan tantangan nyata di lapangan. Dalam semangat itu, peserta diajak melihat bahwa riset dapat menjadi jalan untuk menemukan solusi, memperkuat daya saing, dan memahami mengapa sebagian pihak mampu bertahan di tengah perubahan, sementara yang lain tertinggal. Dengan kata lain, riset bukan hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membangun ketangguhan, inovasi, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

sesi foto bersama pembicara, peserta seminar dan Duta on Duty Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ), pada Jumat 17/4/2026 (doc. FISHMed)

Pada penutupan sesi, moderator menyampaikan apresiasi kepada narasumber dan seluruh peserta atas partisipasi aktif yang telah menghidupkan suasana seminar. Sesi ini menghadirkan pesan penting bahwa menjadi peneliti berarti menjadi pembelajar sepanjang hayat. Sebagaimana disampaikan oleh Prof. Felina, “No one can stop you from reading and learning. Keep your competitive side focused on becoming better than your previous self, rather than competing with anyone else.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa membaca, belajar, dan menulis merupakan kekuatan utama yang akan terus menumbuhkan semangat akademik, sekaligus mendorong setiap individu untuk berkembang melalui proses refleksi dan perbaikan diri yang berkelanjutan.

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi dokumentasi dan foto bersama antara narasumber dan peserta. Melalui sesi ini, ICGSB 2026 kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan ruang pembelajaran internasional yang tidak hanya memperkaya metodologi penelitian, tetapi juga menginspirasi lahirnya akademisi yang tekun, reflektif, dan siap berkontribusi di tingkat nasional maupun global.

 

Penulis: RSKPF, RDS, NRR, NA

Tim FISH Media Center 2026

Share this article

© 2025 Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum – Universitas Negeri Jakarta