Jakarta, 11 Mei 2026 — Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kembali menyelenggarakan The Eurasia International Course 2026 sesi ke-9 dengan tema “Digitalization and AI Impact on Education and Skill Development.” Kegiatan ini berlangsung pada Senin, 11 Mei 2026, pukul 13.00–15.00 WIB secara hybrid, yaitu luring di Ruang Serba Guna, Gedung K FISH UNJ, serta daring melalui platform Zoom. Seminar internasional ini menghadirkan Prof. Madya Dr. H. Zainudin bin H. Hassan dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM) sebagai pembicara utama. Materi disampaikan dalam Bahasa Malaysia dan Bahasa Inggris, dengan Noprita Herari, M.I.Kom. sebagai moderator yang memandu jalannya diskusi. Pada sesi ini, peserta diajak untuk merefleksikan bagaimana dunia pendidikan perlu beradaptasi dalam membekali mahasiswa dengan keterampilan yang relevan di tengah perkembangan digitalisasi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Tema ini menjadi penting karena transformasi teknologi tidak hanya memengaruhi cara manusia belajar, tetapi juga mengubah kebutuhan kompetensi di dunia kerja masa depan. Dalam pemaparannya, Prof. Zainudin menjelaskan bahwa dunia kerja saat ini mengalami perubahan signifikan akibat perkembangan AI. Berbagai sektor industri mulai mengintegrasikan AI untuk mendukung otomasi pekerjaan, pengambilan keputusan, analisis data, hingga peningkatan efisiensi organisasi. Menurutnya, AI dapat mengambil alih pekerjaan yang bersifat repetitif, berisiko tinggi, membutuhkan kecepatan, akurasi, serta komputasi kompleks. Namun, pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, kecerdasan emosional, kemampuan beradaptasi, dan sentuhan kemanusiaan tetap menjadi ruang penting bagi manusia. Prof. Zainudin juga menyinggung laporan World Economic Forum (WEF) yang menyebutkan bahwa perkembangan AI berpotensi mendorong lahirnya berbagai jenis pekerjaan baru, meskipun di sisi lain sejumlah pekerjaan konvensional akan mengalami pergeseran. Oleh karena itu, literasi AI tidak lagi menjadi kebutuhan eksklusif bagi mahasiswa di bidang teknologi, melainkan menjadi kompetensi penting bagi seluruh disiplin ilmu. Mahasiswa dari berbagai latar belakang akademik perlu memahami bagaimana AI bekerja, bagaimana menggunakannya secara tepat, serta bagaimana tetap berpikir kritis dalam memanfaatkan teknologi tersebut. Lebih lanjut, Prof. Zainudin menekankan bahwa AI bukanlah ancaman bagi dunia pendidikan, melainkan peluang untuk membangun sistem pembelajaran yang lebih adaptif, inklusif, dan personal. AI dapat membantu pendidik dalam menyelesaikan berbagai tugas administratif, menganalisis perkembangan belajar mahasiswa, serta memberikan dukungan pembelajaran yang lebih terarah. Dengan demikian, pendidik memiliki ruang yang lebih besar untuk berfokus pada aspek yang tidak dapat digantikan oleh mesin, seperti pembentukan karakter, kreativitas, etika, komunikasi, dan kecerdasan emosional. Dalam sesi tanya jawab, peserta turut mengangkat isu-isu kritis terkait penggunaan AI. Abel Elysia dari Program Studi Pendidikan Sosiologi menanyakan pandangan pembicara mengenai penggunaan AI dan dampaknya terhadap krisis iklim. Menanggapi hal tersebut, Prof. Zainudin menjelaskan bahwa efisiensi energi menjadi perhatian penting dalam menghadapi masa depan, tidak hanya karena penggunaan AI, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab keberlanjutan. Ia turut membagikan praktik di UTM, yaitu kebijakan work from home bagi seluruh fakultas pada hari Selasa dan Kamis sebagai salah satu upaya mendukung efisiensi energi. Pertanyaan lain disampaikan oleh Marco dari Program Studi Ilmu Komunikasi mengenai bagaimana AI tidak hanya menggantikan pekerjaan, tetapi juga menciptakan pekerjaan baru, termasuk kaitannya dengan intellectual property dan bidang seni. Prof. Zainudin menegaskan bahwa meskipun AI dapat membantu dalam banyak pekerjaan, manusia tetap memiliki peran utama dalam menghadirkan kreativitas, pengetahuan, dan penilaian kritis. Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan ChatGPT dan teknologi serupa sebaiknya dimanfaatkan untuk menguji serta mendukung pengetahuan, bukan untuk diikuti secara mentah tanpa proses berpikir kritis. Melalui penyelenggaraan The Eurasia International Course 2026, FISH UNJ terus memperkuat ruang pertukaran gagasan akademik internasional yang relevan dengan tantangan global. Sesi ini juga menegaskan pentingnya sinergi antara teknologi dan kemampuan manusia dalam menghadapi transformasi pendidikan di era digital. Diskusi berlangsung interaktif dan diikuti secara antusias oleh peserta dari berbagai latar belakang akademik, baik secara luring maupun daring. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama menggunakan hand sign Intelligentia Dignitas UNJ sebagai simbol kolaborasi akademik, kebersamaan, dan komitmen FISH UNJ dalam mendorong pendidikan yang adaptif, humanis, serta siap menghadapi perkembangan teknologi masa depan. Penulis: IM, HH, dan CMFISH Media Center 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (47) Kemahasiswaan (17) Penelitian (14) Pengabdian (10) Pengajaran (28) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (41) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
Kuliah Umum Bersama Peneliti National Chung Cheng University, Dr. Teddy Y.H. Sim, Hadirkan Peluang Beasiswa bagi Mahasiswa UNJ
Penyerahan plakat apresiasi kepada Dr. Teddy Y.H. Sim yang diserahkan oleh Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNJ, Dr. Kurniawati (Doc. FISHMed) Jakarta, 23 April 2026 — Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan kuliah umum sekaligus sosialisasi peluang beasiswa ke Taiwan yang berlangsung secara interaktif dan informatif. Acara ini dihadiri langsung oleh Associate Researcher dari National Chung Cheng University, Dr. Teddy Y.H. Sim. Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Wakil Dekan I, Ibu Dr. Kurniawati, yang menekankan pentingnya memperluas wawasan global mahasiswa melalui kerja sama internasional, khususnya di bidang pendidikan dan riset. Dalam sesi utama, pembicara memaparkan materi bertajuk “The Relevance of the Island History of Taiwan for Emerging Scholarship and Researchers”, mengulas perkembangan sejarah kepulauan Taiwan dan keterkaitannya dengan dunia maritim. Dibahas pula hubungan historis dan budaya antara Taiwan dan Indonesia, termasuk jejak kejayaan maritim Nusantara seperti Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit dalam konteks kajian kepulauan. Sesi pemaparan materi oleh Dr. Teddy Sim yang dimoderatori oleh Sandy Allifiansyah, Ph.D Diskusi yang dimoderatori oleh Sandy Allifiansyah, Ph.D ini juga menyentuh aspek geografis, ekonomi, dan potensi kerja sama antara Indonesia dan Taiwan. Meskipun hubungan diplomatik resmi antara kedua pihak memiliki keterbatasan, kerja sama di bidang ekonomi dan pendidikan tetap berjalan dan memberikan manfaat nyata bagi keduanya. Dalam sesi sosialisasi beasiswa, Dr. Teddy Sim menjelaskan bahwa mahasiswa berprestasi berkesempatan memperoleh keringanan biaya pendidikan sebagai bentuk dukungan akademik dari National Chung Cheng University. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi dalam sesi tanya jawab, dengan melontarkan beragam pertanyaan kritis mulai dari isu sejarah dan politik kawasan hingga informasi praktis seputar studi di Taiwan. Dokumentasi foto bersama Dr. Teddy Sim bersama Wakil Dekan III, Wakil Dekan I dan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISHMed) Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa UNJ semakin terbuka terhadap peluang studi internasional dan mampu memahami pentingnya perspektif global dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Penulis: IM dan CMFISH Media Center 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (46) Kemahasiswaan (17) Penelitian (14) Pengabdian (10) Pengajaran (28) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (40) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
Eurasia International Course 2026 Sesi 8 Bahas Makna Komunitas Baru di Tengah Perubahan Dunia
Jakarta, 4 Mei 2026 — Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) kembali menyelenggarakan The Eurasia International Course 2026 melalui sesi kedelapan yang mengangkat tema “Towards a New Community: Its Necessity & Meaning”. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Chung Joon Kon dari Eurasia Foundation sebagai narasumber utama dan dimoderatori oleh Mega Ayu Permatasari, M.Si. Sesi berlangsung secara hybrid, dengan peserta yang hadir langsung di Ruang Serba Guna, Gedung K FISH UNJ, serta peserta yang mengikuti kegiatan secara daring. Dalam sesi ini, Prof. Chung Joon Kon mengajak peserta untuk merefleksikan kembali makna komunitas dalam kehidupan manusia dan perkembangan dunia kontemporer. Ia membuka pemaparannya dengan memperkenalkan Eurasia Foundation sebagai lembaga yang memiliki tujuan untuk berkontribusi terhadap penghapusan konflik di dunia serta mendorong terciptanya masyarakat yang harmonis dan damai. Melalui prinsip keterbukaan, kebebasan berpikir, kebebasan berkeyakinan, serta tidak berpihak pada kepentingan politik tertentu, Eurasia Foundation menekankan pentingnya dialog lintas bangsa, budaya, dan nilai kemanusiaan. Prof. Chung menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya memiliki dua aktivitas utama dalam kehidupan sosial, yaitu kepemilikan dan relasi. Kepemilikan berkaitan dengan kebutuhan, keinginan, perkembangan teknologi, dan penciptaan kesejahteraan. Sementara itu, relasi berkaitan dengan keteraturan, harmoni, perkembangan organisasi, dan pembentukan komunitas. Menurutnya, kemajuan teknologi dan kekayaan tidak cukup untuk membangun kehidupan bersama apabila tidak diimbangi dengan relasi sosial yang sehat, terbuka, dan berorientasi pada perdamaian. Salah satu gagasan penting yang disampaikan dalam sesi ini adalah perlunya melihat komunitas baru sebagai respons terhadap batas-batas lama yang dibentuk oleh manusia. Prof. Chung menggunakan metafora “wall” atau dinding untuk menggambarkan adanya batas internal maupun sistemik yang dapat memisahkan individu, masyarakat, dan negara. Batas tersebut tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga muncul dalam cara berpikir, struktur sosial, sistem politik, dan pandangan terhadap identitas. Karena itu, membangun komunitas baru berarti berupaya melampaui sekat-sekat tersebut melalui pemahaman yang lebih luas, inklusif, dan manusiawi. Dalam pemaparannya, Prof. Chung juga mengajak peserta memahami komunitas melalui tiga perspektif, yaitu waktu, ruang, dan manusia. Ketiganya menjadi unsur penting dalam melihat bagaimana relasi sosial terbentuk dan berubah. Perubahan zaman, pergeseran ruang kehidupan, serta dinamika hubungan antarmanusia menuntut lahirnya cara pandang baru dalam memahami dunia. Di tengah perubahan global yang semakin cepat, komunitas tidak lagi dapat dipahami hanya dalam batas lokal atau nasional, tetapi perlu dibaca sebagai ruang bersama yang memungkinkan pertukaran gagasan, budaya, dan nilai kemanusiaan. Pembahasan semakin menarik ketika Prof. Chung menyoroti pentingnya memahami Asia dan dunia melalui perspektif yang beragam. Ia menekankan bahwa pendekatan menuju komunitas baru membutuhkan kemampuan untuk “lulus” atau bergerak melampaui cara pandang lama yang terlalu sempit. Dalam konteks Eurasia, peserta diajak melihat kawasan ini sebagai ruang besar yang memiliki kekayaan sejarah, populasi, budaya, dan potensi hubungan antarbangsa. Dengan keragaman tersebut, Eurasia dapat menjadi titik penting untuk membangun kesadaran global yang lebih dialogis dan inklusif. Prof. Chung turut mengaitkan pemikirannya dengan gagasan tentang negara dan warga negara. Ia menjelaskan bahwa negara pada dasarnya merupakan produk buatan manusia yang dibentuk untuk menjamin kehidupan, kebebasan, dan keamanan bersama. Namun, ketika dunia menghadapi kebutuhan baru, manusia juga perlu memikirkan bentuk komunitas baru yang mampu menjawab tantangan zaman. Dalam hal ini, komunitas baru tidak dimaksudkan untuk menolak keberadaan negara, tetapi untuk mengembalikan negara pada peran dasarnya, yaitu melindungi kehidupan manusia dan menciptakan kondisi agar masyarakat dapat hidup lebih bebas, nyaman, damai, dan bahagia. Melalui contoh bencana Gempa Tohoku dan kecelakaan Fukushima 2011, Prof. Chung menunjukkan bahwa persoalan antara negara, warga, dan kehidupan manusia sering kali menjadi semakin kompleks ketika menghadapi krisis besar. Peristiwa semacam itu memperlihatkan bahwa tantangan kemanusiaan tidak selalu dapat diselesaikan hanya melalui batas administratif atau sistem negara yang kaku. Diperlukan solidaritas, keterbukaan, dan kesadaran bersama untuk membangun komunitas yang mampu merespons persoalan lintas batas. Mega Ayu Permatasari, M.Si. sebagai moderator dan Dr. Dianni Risda, S.Pd., M.Ed sebagai translator bahasa Jepang, memandu jalannya diskusi secara interaktif, sehingga peserta dapat memahami gagasan besar yang disampaikan narasumber dalam konteks akademik dan sosial yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Format hybrid juga memberikan ruang partisipasi yang lebih luas bagi peserta, baik yang hadir secara langsung maupun yang mengikuti melalui platform daring. Sesi kedelapan Eurasia International Course 2026 ini menjadi bagian dari upaya FISH UNJ dalam memperluas wawasan global mahasiswa dan sivitas akademika. Melalui tema komunitas baru, kegiatan ini tidak hanya membahas hubungan antarnegara, tetapi juga mengajak peserta untuk melihat kembali peran manusia dalam membangun dunia yang lebih damai, inklusif, dan bermakna. Materi sesi menegaskan bahwa komunitas masa depan perlu dibangun dengan menghargai keberagaman, membuka ruang dialog, serta melampaui dinding-dinding lama yang membatasi kehidupan bersama.[] Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (45) Kemahasiswaan (17) Penelitian (13) Pengabdian (10) Pengajaran (28) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (39) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
Becoming Liquid Society : Digitalization And Informational Society By Prof. Dr. Robertus Robet, MA
Jakarta, 27 April 2026 – Kegiatan seminar ini mengambil tema Becoming Liquid Society: Digitalization and Informational Society menghadirkan Prof. Dr. Robertus Robet, M.A. sebagai narasumber utama, dengan Fajar Aditya Nugroho, M.Par sebagai moderator. Acara dibuka oleh moderator sebelum dilanjutkan dengan pemaparan materi yang menyoroti perubahan besar dalam kehidupan manusia akibat digitalisasi. Dalam pemaparannya, Prof Robert menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah membuat manusia semakin bergantung pada sistem digital. Ia mencontohkan Neil Harbisson yang mencangkokkan antena di kepalanya untuk mengakses informasi, sebagai gambaran bahwa batas antara manusia dan teknologi semakin kabur. Hal ini menunjukkan bahwa konsep manusia “pure authentic” semakin sulit ditemukan karena teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan, sejalan dengan gagasan dalam Cyborg Society. Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia meningkat hingga 229,4 juta jiwa pada tahun 2025, dengan tingkat penetrasi 80,66 persen. Mayoritas pengguna berasal dari generasi muda (digital native), dengan aktivitas utama seperti media sosial, akses informasi, transaksi online, dan hiburan digital. Fenomena ini kemudian dikaitkan dengan konsep liquid modernity dari Zygmunt Bauman dalam Liquid Modernity, yang menggambarkan perubahan dari masyarakat yang stabil menuju masyarakat yang cair, fleksibel, dan penuh ketidakpastian. Dalam kondisi ini, hubungan sosial menjadi lebih lemah, identitas bersifat sementara, dan kekuasaan tidak lagi terpusat pada institusi, melainkan tersebar dalam jaringan. Hal ini juga diperkuat oleh konsep network society dari Manuel Castells. Setelah pemaparan materi, moderator memberikan tanggapan singkat sebelum sesi tanya jawab (Q&A) dimulai. Pertanyaan diajukan oleh Muhammad Aldi dari Pendidikan Sosiologi dan Marco dari Ilmu Komunikasi. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian plakat apresiasi kepada narasumber, sesi foto bersama, dan diakhiri dengan penutupan oleh moderator. Kegiatan ini menegaskan bahwa digitalisasi tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga mengubah struktur sosial, cara berpikir, dan pola interaksi manusia dalam masyarakat yang semakin cair atau liquid society. [] FISH Media Center 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (44) Kemahasiswaan (17) Penelitian (13) Pengabdian (10) Pengajaran (28) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (39) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
Digitalisasi Menghidupkan Sejarah, Eurasia International Course 2026 Bahas Transformasi Makna Artefak
Jakarta, 20 April 2026 — Eurasia International Course (EIC) 2026 kembali menghadirkan diskusi akademik melalui sesi keenam yang mengangkat tema Digitalisasi dan Transformasi Makna Artefak Sejarah dalam Masyarakat Kontemporer. Bertempat di Ruang Serba Guna, Gedung K Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Jakarta (UNJ), kegiatan ini menghadirkan Agus Hermanto, S.Pd., M.Hum., Kepala Sub-Direktorat Pelestarian Sejarah, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, Agus Hermanto, S.Pd., M.Hum. menegaskan bahwa digitalisasi menjadi langkah penting dalam upaya pelestarian sejarah di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial masyarakat modern. Menurutnya, sejarah bukan hanya kumpulan cerita masa lalu, tetapi merupakan narasi hidup yang harus terus dihadirkan agar tetap relevan di era kontemporer. Agus Hermanto, S.Pd., M.Hum. menjelaskan, digitalisasi membuka peluang baru dalam pengelolaan dan pemanfaatan artefak sejarah melalui teknologi seperti pemindaian 3D, fotografi resolusi tinggi, serta basis data digital. Melalui teknologi tersebut, artefak tidak lagi terbatas pada ruang fisik museum, tetapi dapat diakses masyarakat secara lebih luas. Ia menyebut digitalisasi memiliki tiga pilar utama, yaitu konversi digital, aksesibilitas publik, dan preservasi. Ketiga aspek tersebut dinilai mampu mendorong transformasi cara masyarakat berinteraksi dengan sejarah, dari yang sebelumnya bersifat pasif menjadi lebih interaktif dan imersif. “Pengunjung tidak lagi hanya melihat sejarah, tetapi juga dapat mengalaminya melalui tur virtual, pameran daring, dan teknologi 360 derajat,” jelas Agus. Sebagai contoh implementasi, Agus Hermanto, S.Pd., M.Hum. menyoroti platform Museum Cagar Budaya yang menyediakan akses koleksi secara daring, serta berbagai inovasi lain seperti aplikasi digital sejarah, media audiovisual, dan platform SIREL Heritage. Berbagai platform tersebut juga dinilai menjadi pendekatan yang efektif untuk menjangkau generasi muda, khususnya Gen-Z dan milenial. Namun demikian, Agus Hermanto, S.Pd., M.Hum. juga mengingatkan bahwa digitalisasi menghadirkan sejumlah tantangan, mulai dari persoalan autentisitas konten, kesenjangan teknologi, hingga keberlanjutan penyimpanan data. Oleh karena itu, verifikasi sumber, pengelolaan metadata, dan sistem penyimpanan jangka panjang menjadi aspek penting yang harus diperhatikan. Melalui sesi ini, peserta memperoleh pemahaman bahwa digitalisasi tidak hanya berperan dalam menjaga keberadaan artefak sejarah, tetapi juga memperkuat identitas budaya bangsa di tengah arus globalisasi. Kegiatan ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, institusi budaya, akademisi, dan generasi muda dalam memastikan warisan sejarah tetap hidup dan relevan bagi masyarakat kontemporer. Penulis: Asha, Reyna Tim FISH Media Center 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (43) Kemahasiswaan (17) Penelitian (13) Pengabdian (10) Pengajaran (28) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (38) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
Hari Kedua The 1st ICGSB 2026 Soroti Transformasi Digital, Kesehatan, dan Pariwisata Berkelanjutan dalam Sesi Paralel International Conference & Doctoral Research Presentation
sesi presentasi paralel yang diselenggarakan secara hybrid (doc. PWU) Jakarta, 17 April 2026 — Hari kedua The 1st International Conference on Global Social and Business (ICGSB) 2026 kembali menghadirkan dinamika akademik yang kaya melalui sesi paralel International Conference & Doctoral Research Presentation. Pada Jumat, 17 April 2026, rangkaian presentasi paruh kedua konferensi dibagi ke dalam lima breakroom yang menampilkan puluhan kajian aktual di bidang sosial dan bisnis. Beragam topik strategis diangkat dalam sesi ini, mulai dari transformasi digital di sektor kesehatan, perilaku konsumsi di era pembayaran elektronik, penguatan UMKM, kualitas layanan digital, hingga tantangan teknologi di dunia kerja. Ragam tema tersebut menunjukkan bahwa riset akademik semakin diarahkan untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dan industri saat ini. Sejumlah presentasi menyoroti isu transformasi digital yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kajian mengenai electronic medical records misalnya, diposisikan sebagai strategi transformasi digital untuk meningkatkan daya saing rumah sakit swasta di Indonesia. Selain itu, pembahasan tentang dampak penggunaan e-payment terhadap perilaku konsumtif masyarakat di Kota Cirebon juga memperlihatkan bagaimana teknologi finansial tidak hanya mempermudah transaksi, tetapi turut membentuk pola perilaku sosial. Di sisi lain, topik mengenai kesiapan dunia usaha menghadapi ekosistem Marketing 5.0 serta transformasi digital UMKM mempertegas pentingnya adaptasi strategi bisnis di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat. Tidak hanya berpusat pada ekonomi digital, hari kedua ICGSB 2026 juga memperluas diskusi ke persoalan sosial, budaya, dan organisasi. Beberapa kajian mengangkat pengalaman wisata desa di tengah penetrasi platform digital, kepemimpinan digital dalam ekosistem pemasaran, kualitas layanan elektronik sebagai fondasi loyalitas pelanggan, hingga transparansi etis dalam laporan valuasi. Ada pula topik yang menelaah peran manajerial guru dalam menangani perundungan melalui pendidikan karakter, fenomena cyberloafing dan technostress di lingkungan kerja, serta pengaruh environmental, social, and governance (ESG) dan enterprise risk management terhadap kinerja bisnis. Kehadiran isu-isu tersebut memperlihatkan kuatnya semangat multidisipliner dalam ICGSB 2026. Konferensi ini tidak hanya menjadi ruang pertukaran gagasan ilmiah, tetapi juga wadah untuk menjembatani beragam disiplin ilmu dalam membaca tantangan kontemporer, mulai dari bisnis, pendidikan, kesehatan, lingkungan, hingga komunikasi. Konteks Indonesia juga tampak menonjol dalam berbagai presentasi yang disampaikan. Sejumlah penelitian mengambil lokasi atau studi kasus di berbagai wilayah Indonesia, seperti Cirebon, Jawa Barat, Jakarta Timur, desa wisata di Jawa Tengah, hingga sektor industri dan rumah sakit di Indonesia. Kedekatan konteks ini memberikan nilai penting tersendiri, karena hasil-hasil kajian yang dipresentasikan tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga berpotensi memberi kontribusi nyata bagi pemahaman dan penyelesaian persoalan di tingkat lokal maupun nasional. Melalui penyelenggaraan lima breakroom dengan rangkaian presentasi yang padat, hari kedua ICGSB 2026 memperlihatkan tingginya antusiasme akademisi dalam membahas masa depan sosial dan bisnis di tengah perubahan zaman. Konferensi yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) bekerja sama dengan Philippine Women’s University (PWU), Universitas Ibn Khaldun Bogor (UIKA), Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), dan Universitas Insan Pembangunan Indonesia (UNIPI) ini menegaskan perannya sebagai forum ilmiah yang responsif terhadap transformasi digital, keberlanjutan, dan tantangan sosial masa kini. Penulis: RSKPF, RDS, NRR, NA Tim FISH Media Center 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (42) Kemahasiswaan (17) Penelitian (13) Pengabdian (10) Pengajaran (28) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (37) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
Dari Pendekatan Kualitatif hingga SEM-PLS, ICGSB 2026 Soroti Pentingnya Riset yang Rapi, Valid, dan Berdampak
Noprita Herari, M.I.Kom (kiri) sebagai moderator sesi kedua seminar internasional dengan pembicara Prof. Felina C. Young, DBA (kanan), pada Jumat 17/4/2026 (doc. FISHMed) Jakarta, 17 April 2026 — Hari kedua The 1st International Conference on Global Social and Business (ICGSB) 2026 kembali berlanjut dengan sesi kedua bertajuk “SEM-PLS in Social and Business Research” yang menghadirkan Prof. Dr. Felina C. Young, DBA selaku Chancellor and Senior Vice President for Academic Affairs of Philippine Women’s University (PWU) sebagai narasumber dan dimoderatori oleh Noprita Herari, M.I.Kom. Sesi ini memperluas wawasan peserta mengenai pentingnya metodologi penelitian yang tepat, sistematis, dan mampu menjawab persoalan sosial maupun bisnis secara lebih akurat. Dalam pemaparannya, Prof. Young tidak langsung masuk pada aspek teknis SEM-PLS, tetapi terlebih dahulu mengajak peserta memahami fondasi penelitian melalui pendekatan kualitatif. Ia menjelaskan bahwa penelitian kualitatif memiliki peran penting untuk menggali budaya, perilaku, pengalaman, dan realitas sosial secara lebih mendalam. Berbagai pendekatan seperti ethnographic research, phenomenological research, grounded theory, case study, historical research, hingga narrative research diperkenalkan sebagai cara untuk memahami manusia dan konteksnya secara lebih utuh. Prof. Young menekankan bahwa riset yang baik menuntut ketelitian, terutama ketika peneliti berhadapan dengan pengalaman personal atau fenomena sosial yang kompleks. Dalam konteks penelitian kualitatif, ia menyoroti pentingnya pemilihan sampel yang tepat, kepekaan peneliti dalam membaca fenomena, serta kewaspadaan terhadap subjektivitas, reliabilitas, validitas, dan generalisasi temuan. Dengan demikian, kualitas penelitian tidak hanya ditentukan oleh topiknya, tetapi juga oleh ketepatan proses dan kedalaman analisisnya. Pembahasan kemudian bergerak ke tahapan penelitian yang lebih sistematis, termasuk thematic analysis, evaluasi ahli melalui Delphi panelist, proses refinement and validation, hingga pengenalan pada Item-Content Validity Index (I-CVI), Scale-Level Content Validity Index (S-CVI), dan Interquartile Range (IQR) sebagai bagian dari penguatan reliabilitas instrumen dan hasil penelitian. Penjelasan ini memberi pemahaman bahwa sebuah riset yang baik harus dibangun melalui tahapan yang cermat agar dapat diterima, diterapkan, bahkan memberi nilai tambah yang lebih luas bagi masyarakat maupun lembaga. Setelah membangun fondasi tersebut, Prof. Young kemudian membawa peserta pada pembahasan mengenai SEM-PLS sebagai salah satu pendekatan analisis yang relevan dalam riset sosial dan bisnis. Sesi ini membantu peserta melihat bahwa metode bukan sekadar alat teknis, melainkan bagian dari cara berpikir ilmiah yang menuntut kerapian desain, kejelasan struktur, dan konsistensi antara masalah penelitian, data, serta analisis. Salah satu bagian yang paling menarik perhatian peserta adalah ketika Prof. Young menampilkan contoh langsung paper hasil karya mahasiswa doktoralnya. Melalui contoh tersebut, ia menjelaskan bagaimana sebuah paper ilmiah disusun dengan baik, mulai dari kerangka berpikir, alur penulisan, hingga ketelitian dalam penyajian hasil. Ia menekankan bahwa kualitas paper tidak hanya terletak pada isi, tetapi juga pada kerapian, kejelasan, dan ketekunan dalam proses penulisan. Sikap bangga yang ia tunjukkan terhadap karya mahasiswanya juga menjadi bentuk apresiasi terhadap proses belajar yang serius dan berkesinambungan. Diskusi dalam sesi ini juga melahirkan pesan reflektif yang kuat. Penelitian dipahami bukan hanya sebagai aktivitas akademik formal, tetapi sebagai sarana untuk merespons perubahan sosial dan tantangan nyata di lapangan. Dalam semangat itu, peserta diajak melihat bahwa riset dapat menjadi jalan untuk menemukan solusi, memperkuat daya saing, dan memahami mengapa sebagian pihak mampu bertahan di tengah perubahan, sementara yang lain tertinggal. Dengan kata lain, riset bukan hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membangun ketangguhan, inovasi, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. sesi foto bersama pembicara, peserta seminar dan Duta on Duty Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ), pada Jumat 17/4/2026 (doc. FISHMed) Pada penutupan sesi, moderator menyampaikan apresiasi kepada narasumber dan seluruh peserta atas partisipasi aktif yang telah menghidupkan suasana seminar. Sesi ini menghadirkan pesan penting bahwa menjadi peneliti berarti menjadi pembelajar sepanjang hayat. Sebagaimana disampaikan oleh Prof. Felina, “No one can stop you from reading and learning. Keep your competitive side focused on becoming better than your previous self, rather than competing with anyone else.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa membaca, belajar, dan menulis merupakan kekuatan utama yang akan terus menumbuhkan semangat akademik, sekaligus mendorong setiap individu untuk berkembang melalui proses refleksi dan perbaikan diri yang berkelanjutan. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi dokumentasi dan foto bersama antara narasumber dan peserta. Melalui sesi ini, ICGSB 2026 kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan ruang pembelajaran internasional yang tidak hanya memperkaya metodologi penelitian, tetapi juga menginspirasi lahirnya akademisi yang tekun, reflektif, dan siap berkontribusi di tingkat nasional maupun global. Penulis: RSKPF, RDS, NRR, NA Tim FISH Media Center 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (41) Kemahasiswaan (17) Penelitian (12) Pengabdian (10) Pengajaran (28) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (37) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
Dorong Budaya Riset dan Inovasi, ICGSB 2026 Hari Kedua Bahas Mixed Methods dalam Organizational Research
Mega Ayu Permatasari, M.Si (kiri) sebagai moderator sesi pertama seminar internasional dengan pembicara Prof. Felina C. Young, DBA (kanan), pada Jumat 17/4/2026 (doc. FISHMed) Jakarta, 17 April 2026 — Memasuki hari kedua pelaksanaan The 1st International Conference on Global Social and Business (ICGSB) 2026, semangat penguatan budaya riset kembali terasa dalam rangkaian seminar internasional yang berlangsung di Gedung SFD, Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta, Tower B lantai 10. Kegiatan ini diikuti secara hybrid oleh para koordinator program studi, dosen, serta mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) UNJ. Pada sesi pertama, peserta mengikuti pemaparan bertajuk “Mixed Methods in Organizational Research” yang disampaikan oleh Prof. Dr. Felina C. Young, DBA dan dimoderatori oleh Mega Ayu Permatasari, M.Si. Dalam sesi ini, Prof. Young menekankan bahwa riset kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan tuntutan utama dalam dunia akademik global. “You’ve got to research, otherwise you’re going to perish. That is now the expectation of universities globally,” ujarnya, menegaskan bahwa perguruan tinggi saat ini menuntut para akademisi untuk terus aktif meneliti agar tetap relevan dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Tidak hanya menyoroti pentingnya produktivitas akademik, Prof. Young juga membagikan pandangan yang membumi tentang proses menulis penelitian. Menurutnya, menulis tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Riset justru dapat tumbuh dari rasa ingin tahu, kebiasaan membaca, dan keberanian untuk terus belajar. Ia mengingatkan bahwa umpan balik tidak seharusnya ditakuti, melainkan diterima sebagai bagian dari proses bertumbuh. “When you get feedback, you become excited, then writing research is not difficult,” jelasnya. Melalui sesi ini, peserta diajak melihat bahwa mixed methods bukan sekadar penggabungan metode kuantitatif dan kualitatif, tetapi sebuah pendekatan yang menuntut ketajaman berpikir, sistematika kerja, dan keberanian untuk menjawab persoalan secara lebih utuh. Prof. Young menegaskan bahwa inovasi dalam riset harus menghasilkan manfaat nyata, bukan hanya memenuhi kebutuhan akademik semata. Karena itu, penelitian harus dibangun di atas proses yang sistematis, dapat dipertanggungjawabkan, dan taat pada etika. “We have to follow strict ethical standards,” tegasnya. Lebih jauh, sesi ini juga menyampaikan pesan kuat bagi para peneliti muda. Prof. Young mendorong mahasiswa dan akademisi pemula untuk memulai dari hal yang paling dekat dengan minat mereka, lalu menumbuhkannya dengan membaca, menulis, dan mengeksplorasi berbagai pendekatan penelitian, baik kuantitatif, kualitatif, maupun mixed methods. Ia mengingatkan bahwa perjalanan akademik bukanlah ajang untuk membandingkan diri dengan orang lain, melainkan proses untuk terus menjadi lebih baik dari diri sendiri. Suasana seminar berlangsung hangat dan interaktif. Peserta tampak antusias mengikuti pemaparan hingga sesi diskusi. Sejumlah pertanyaan yang muncul menunjukkan bahwa topik mixed methods dipandang relevan, terutama bagi akademisi yang ingin mengembangkan riset yang tidak hanya kuat secara metodologis, tetapi juga berdampak bagi masyarakat. Sesi ini ditutup dengan pemberian plakat apresiasi kepada Prof. Young oleh Dr. E. Nugrahaeni P.S., M.Si selaku Wakil Dekan III FISH UNJ. Melalui sesi ini, ICGSB 2026 tidak hanya menghadirkan diskusi akademik, tetapi juga menegaskan kembali nilai penting penelitian sebagai praktik pembelajaran sepanjang hayat. Riset diposisikan bukan semata sebagai kewajiban institusional, melainkan sebagai jalan untuk merawat rasa ingin tahu, membangun inovasi, dan menghasilkan kontribusi yang bermakna di tengah perubahan zaman. Penulis: RSKPF, RDS, NRR, NA Tim FISH Media Center 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (40) Kemahasiswaan (17) Penelitian (11) Pengabdian (10) Pengajaran (28) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (37) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
FISH UNJ Gandeng Philippine Women’s University dan Tiga Kampus Nasional, Dorong Transformasi Sosial di Era Digital melalui 1st ICGSB 2026
Jakarta, 16 April 2026 – Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH), Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sukses menyelenggarakan Seminar Internasional 1st International Conference & Doctoral Research Presentation dengan tajuk “Global Social & Business Transformation: Innovation, Sustainability, and Strategic Leadership in the Digital Era”. Kegiatan yang dilaksanakan sebagai wadah bagi akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara untuk bertukar gagasan dan memperkuat kolaborasi global, berlangsung di Gedung 1A Lantai 10, Kampus A, Universitas Negeri Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan berbagai pembicara hebat, di antaranya Prof. Dr. Felina C. Young, DBA selaku Chancellor Philippine Women’s University, Prof. Dr. Komarudin, M.Si. selaku Rektor Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. Ir. Aisyah Endah Palupi, M.Pd. selaku Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI Jawa Tengah, Prof. Nina Yulietni, S.P., M.Si., Ph.D. selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Filipina, Dr. Shirley C. Agrupis, Ph.D. selaku Chairperson Commission on Higher Education (CHED) Filipina, Prof. Emer. Dr. Barjoyai Bardai selaku profesor emeritus dari Malaysia University of Science and Technology (MUST), serta Nozomi Kawarazuka selaku peneliti dari International Potato Center (CIP). Selain itu, sambutan pembuka disampaikan oleh Firdaus Wajdi, M.A., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta. Duta FISH UNJ membuka rangkaian acara yang diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia, Indonesia Raya dan lagu kebangsaan Filipina, Lupang Hinirang, sebagai simbol kolaborasi internasional. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Dr. Ir. Ja’far Amiruddin, M.T. Sambutan pembuka disampaikan oleh Firdaus Wajdi, M.A., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dan lintas disiplin dalam menghadapi transformasi global di era digital. Sambutan kemudian dilanjutkan oleh Prof. Dr. Komarudin, M.Si. selaku Rektor Universitas Negeri Jakarta. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa transformasi global di era digital tidak hanya menuntut kemajuan analitis, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap prosesnya. “Global transformation in the digital era requires more than analytical advancement. It demands empathy, sustainable action, and strategic leadership that places humanity at the center of progress,” ujarnya. Selain itu, beliau juga menegaskan komitmen UNJ dalam memperluas kerja sama internasional guna mendorong inovasi dan pembangunan berkelanjutan. Sebagai bentuk konkret dari penguatan kolaborasi internasional, kegiatan ini turut dirangkaikan dengan agenda penandatanganan kerja sama antara Philippine Women’s University (PWU) dengan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), PWU dengan Universitas Insan Pembangunan Indonesia (UNIPI), PWU dengan Universitas Ibnu Khaldun Bogor (UIKA), PWU dengan Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), serta kerja sama antara UNIPI dan UNJ. Momentum ini menjadi langkah strategis dalam memperluas jejaring kemitraan global serta mendorong kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Prof. Dr. Felina C. Young, DBA selaku Chancellor Philippine Women’s University, yang menegaskan pentingnya kerja sama internasional dalam menghadapi dinamika global. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Prof. Dr. Francisca Sestri G., S.E. selaku Rektor Universitas Insan Pembangunan Indonesia (UNIPI), Prof. Dr. Widyasari, M.Pd. selaku Rektor Universitas Ibnu Khaldun Bogor (UIKA), serta Arif Nurudin, S.T., M.T. selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), yang secara keseluruhan menekankan pentingnya sinergi antarperguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan riset di tingkat global. Sesi seminar diawali oleh Prof. Nina Yulietni, S.P., M.Si., Ph.D. selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Filipina yang menyampaikan paparan mendalam terkait isu-isu strategis dalam kerja sama pendidikan internasional. Selanjutnya, Dr. Shirley C. Agrupis, Ph.D. selaku Chairperson Commission on Higher Education (CHED) Filipina memaparkan perspektif penting terkait pengembangan pendidikan tinggi di tingkat global. Materi berikutnya disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Aisyah Endah Palupi, M.Pd. selaku Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI Jawa Tengah yang menyoroti pengalaman dan strategi dalam penguatan sistem pendidikan tinggi. Dilanjutkan oleh Prof. Emer. Dr. Barjoyai Bardai dari Malaysia University of Science and Technology (MUST) yang memberikan wawasan akademik mendalam terkait transformasi sosial dan bisnis. Sesi seminar juga menghadirkan Nozomi Kawarazuka dari International Potato Center (CIP) yang membahas perspektif global dalam riset dan pengembangan di sektor pertanian. Selain itu, turut hadir sesi pembicara undangan oleh Prof. Dr. Robertus Robet, M.A. serta Dr. Syamsulbahri, DBA., Ph.D. yang menyampaikan berbagai gagasan kritis dan perspektif strategis berdasarkan pengalaman akademik dan profesional mereka. Melalui rangkaian kegiatan ini, Seminar Internasional FISH UNJ tidak hanya menjadi wadah pertukaran gagasan, tetapi juga memperkuat kolaborasi lintas negara dalam mendorong inovasi, keberlanjutan, dan kepemimpinan strategis di era digital. Penulis: JRPS, ZH, CKG, GIC, ZR Tim FISH Media Center 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (39) Kemahasiswaan (17) Penelitian (10) Pengabdian (10) Pengajaran (28) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (37) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
Eurasia UNJ 2026 Dorong Wawasan Global Mahasiswa Melalui Diskusi AI dan Budaya Indonesia – Jepang
Jakarta, 2 Maret 2026 — Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) menyelenggarakan kegiatan The Eurasia International Course 2026 – Session 4 dengan tema “The Impact of AI Technology on The Development of Culture Comparison of Indonesia and Japan”. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Dianni Risda, S.Pd., M.Ed. dari Universitas Pendidikan Indonesia, sebagai narasumber utama yang membahas bagaimana perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memengaruhi dinamika budaya di dua negara dengan karakteristik berbeda, yaitu Indonesia dan Jepang, mulai dari transformasi nilai, pola interaksi masyarakat, hingga adaptasi budaya tradisional di era digital. Acara yang berlangsung di Ruang Serba Guna, Gedung K FISH UNJ. Peserta yang terdiri dari mahasiswa dan civitas akademika mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang untuk memperluas wawasan mengenai dampak perkembangan teknologi AI terhadap budaya, khususnya dalam konteks perbandingan antara Indonesia sebagai negara berkembang dan Jepang sebagai negara maju dengan teknologi tinggi. Kegiatan diawali oleh perwakilan mahasiswa berprestasi (mawapres) Diploma Program Studi Usaha Perjalanan Wisata (UPW) yang bertugas sebagai pembuka acara sebelum memasuki sesi utama. Sesi utama kemudian diisi oleh pemaparan materi dari Dr. Dianni Risda. Pada presentasinya, ia mengajak peserta untuk merefleksikan pandangan umum masyarakat terhadap Jepang. Jepang sering diasosiasikan dengan berbagai simbol budaya dan kemajuan, seperti Gunung Fuji sebagai ikon alam, kimono dan geisha sebagai representasi budaya tradisional, hingga kota Tokyo sebagai pusat modernitas. Selain itu, Jepang juga dikenal melalui anime yang mendunia, industri otomotif yang maju, serta perayaan budaya seperti Hina Matsuri dan Kodomo no Hi. Bahkan dalam bidang teknologi, Jepang telah mengembangkan inovasi seperti HAL (Hybrid Assistive Limb) atau power assist robot yang menunjukkan kemajuan dalam integrasi teknologi dengan kehidupan manusia. Lebih lanjut, Jepang di mata dunia dipandang sebagai negara dengan kemajuan sains dan teknologi yang pesat, sistem pendidikan yang menjunjung tinggi disiplin dan keramahan, serta kemampuan menjaga keseimbangan antara budaya tradisional dan modern. Keindahan alam dan kekuatan budaya pop juga menjadi daya tarik global, di samping budaya kerja yang dikenal kuat dan produktif. Namun demikian, Dr. Dianni juga menyoroti berbagai permasalahan yang dihadapi Jepang, seperti kondisi geografis yang rawan bencana, tantangan demografis berupa populasi menua, keterbatasan sumber daya alam (SDA), hingga isu ekonomi dan sosial yang muncul akibat tekanan modernisasi. Hal ini menjadi poin penting dalam memahami bagaimana teknologi, termasuk AI, berperan dalam membantu mengatasi tantangan tersebut. Dalam penjelasannya mengenai AI, Dr. Dianni mendefinisikan kecerdasan buatan sebagai teknologi yang memungkinkan mesin untuk meniru kemampuan kognitif manusia, seperti belajar, berpikir, dan mengambil keputusan. AI saat ini telah merambah berbagai sektor, termasuk budaya, dimana teknologi ini dapat memengaruhi cara manusia berinteraksi, menciptakan karya, hingga melestarikan tradisi. Pada bagian inti, ia membahas perbandingan pengaruh AI terhadap perkembangan budaya di Indonesia dan Jepang. Jepang dinilai lebih siap dalam mengintegrasikan AI ke dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pelestarian budaya melalui digitalisasi dan inovasi teknologi. Sementara itu, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar, namun masih menghadapi tantangan dalam pemanfaatan teknologi AI secara optimal untuk mendukung pelestarian dan pengembangan budaya tersebut. Sesi tanya jawab menjadi momen interaktif yang dimanfaatkan peserta untuk menggali lebih dalam berbagai isu, mulai dari dampak AI terhadap identitas budaya, peluang kolaborasi teknologi lintas negara, hingga tantangan etika dalam penggunaan AI. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama sesi berlangsung. Sebagai narasumber, Dr. Dianni Risda memiliki pengalaman internasional yang kuat, di antaranya pernah terlibat sebagai penerjemah dalam proyek Japan International Cooperation Agency (JICA) serta menjadi dosen di Nihon University Jepang. Ia juga pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Pengembangan Program Kerja Sama Internasional di UPI Bandung. Pengalaman tersebut memperkuat kompetensinya dalam menjelaskan keterkaitan antara budaya Jepang, etika kerja, dan kemajuan teknologi. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama antara narasumber, panitia, dan seluruh peserta sebagai bentuk dokumentasi dan apresiasi atas terselenggaranya acara, serta pemberian sertifikat dari FISH UNJ kepada Narasumber. Melalui kegiatan ini, FISH UNJ diharapkan selalu mendorong internasionalisasi akademik serta meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap peran teknologi, khususnya AI, dalam membentuk masa depan budaya di tingkat global. Authors: JRPS, NRR, SA Editor: Team FISH Media Center 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (38) Kemahasiswaan (17) Penelitian (9) Pengabdian (10) Pengajaran (28) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (36) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru