International Lecturer FISH UNJ Bahas Agama Kontemporer dan Masyarakat Aborigin Australia

Jakarta, 24 Agustus 2026 – Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) menyelenggarakan kegiatan International Lecturer dengan menghadirkan Prof. Dr. Adam Possamai dari Western Sydney University sebagai narasumber pada Senin, 24 Agustus 2026. Mengangkat tema “Contemporary Religion and Australian Aboriginal Peoples,” kegiatan berlangsung di Gedung SFD Lantai 10, pukul 09.00–11.00 WIB, dan dimoderatori oleh Syifa Syarifa, S.Pd., M.Sc.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya FISH UNJ di bawah kepemimpinan Dekan FISH UNJ, Firdaus Wajdi, Ph.D., dalam memperkuat atmosfer akademik internasional dan memperluas wawasan global mahasiswa melalui interaksi langsung dengan akademisi dari perguruan tinggi internasional.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh ruang pembelajaran untuk memahami hubungan antara agama kontemporer, masyarakat Indigenous, identitas, sejarah, dan dinamika sosial di Australia. Perspektif masyarakat Aborigin Australia menunjukkan bahwa agama dan spiritualitas tidak hanya berkaitan dengan sistem kepercayaan, tetapi juga beririsan dengan budaya, identitas komunitas, relasi dengan lingkungan, pengalaman sejarah, serta perjuangan atas pengakuan dan kesetaraan.

Memahami Keragaman Masyarakat Aborigin Australia

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Adam Possamai menjelaskan bahwa masyarakat Aborigin Australia bukanlah satu kelompok yang homogen. Mereka terdiri atas beragam komunitas dengan identitas, nama, bahasa, tradisi, serta pengalaman lokal yang berbeda.

Keragaman tersebut penting dipahami agar masyarakat Indigenous tidak direpresentasikan secara sederhana sebagai satu identitas tunggal. Pemahaman yang lebih kontekstual diperlukan untuk melihat hubungan antara identitas, budaya, agama, sejarah, dan kehidupan sosial masyarakat Aborigin Australia.

Salah satu isu sejarah yang turut dibahas adalah Stolen Generations, yaitu periode ketika anak-anak Aboriginal dan Torres Strait Islander dipisahkan secara paksa dari keluarga dan komunitas mereka melalui berbagai kebijakan pemerintah. Pembahasan mengenai isu tersebut membuka perspektif peserta tentang bagaimana kebijakan masa lalu dapat meninggalkan dampak sosial, budaya, dan identitas yang panjang hingga generasi berikutnya.

Selain memahami pengalaman historis masyarakat Aborigin, peserta juga diajak mencermati perkembangan sikap masyarakat Australia terhadap isu kesetaraan, pengakuan, serta hubungan antara masyarakat Indigenous dan masyarakat Australia secara lebih luas.

Materi kemudian berkembang dalam diskusi mengenai agama, keberagaman, hak masyarakat Indigenous, serta bagaimana masyarakat modern membangun hubungan yang lebih inklusif dengan kelompok yang memiliki latar belakang budaya dan spiritual berbeda.

Dari Australia untuk Memahami Keberagaman Indonesia

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan refleksi dari peserta. Salah satu isu yang mengemuka adalah bagaimana nilai-nilai agama yang mengajarkan kepedulian terhadap sesama dan alam dapat diterjemahkan menjadi perilaku sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Pembahasan tersebut juga membuka perspektif komparatif bagi mahasiswa untuk melihat pengalaman masyarakat Aborigin Australia dalam kaitannya dengan keberagaman masyarakat adat, agama, dan budaya di Indonesia. Dengan demikian, pembelajaran mengenai masyarakat Indigenous Australia tidak hanya menjadi pengetahuan tentang negara lain, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk untuk merefleksikan keberagaman dan persoalan sosial di Indonesia.

Pada penghujung kegiatan, Prof. Adam Possamai menekankan pentingnya memahami masyarakat Aborigin melalui perspektif keberagaman, identitas, sejarah, pengakuan, dan kesetaraan.

“Today we learned that Aboriginal peoples are incredibly diverse, with many different communities, identities, and local names. We also learned about the Stolen Generations and how historical policies continue to shape identity and society today. This lecture reminds us that understanding Aboriginal peoples is not only about learning their history, but also about understanding diversity, identity, recognition, and equality.”

 

Firdaus Wajdi Dorong Mahasiswa Berperspektif Global

Dekan FISH UNJ, Firdaus Wajdi, Ph.D., menyambut positif penyelenggaraan International Lecturer sebagai bagian dari penguatan pendidikan ilmu sosial yang berwawasan global. Menurutnya, mahasiswa ilmu sosial perlu memiliki kemampuan untuk memahami berbagai persoalan masyarakat dari perspektif yang beragam dan tidak terbatas pada konteks lokal.

“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat memperluas cara pandang mahasiswa FISH UNJ. Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai masyarakat dan persoalan sosial di Indonesia, tetapi juga memahami bagaimana isu agama, identitas, masyarakat Indigenous, dan keberagaman dibicarakan dalam konteks negara lain. Dari sana, mahasiswa dapat membangun perspektif yang lebih kritis, komparatif, dan terbuka,” ujar Firdaus Wajdi, Ph.D., Dekan FISH UNJ.

Firdaus Wajdi menambahkan bahwa pengalaman belajar bersama akademisi internasional diharapkan tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga membentuk kemampuan mahasiswa untuk menghubungkan perspektif global dengan realitas sosial Indonesia.

“Harapan kami, mahasiswa mampu membawa wawasan global tersebut kembali ke konteks Indonesia. Indonesia juga memiliki keragaman agama, budaya, masyarakat adat, dan identitas yang sangat kaya. Karena itu, pemahaman terhadap pengalaman masyarakat di negara lain dapat membantu mahasiswa melihat persoalan di Indonesia secara lebih reflektif dan komparatif,” lanjut Dekan FISH UNJ Firdaus Wajdi.

Menurutnya, internasionalisasi pembelajaran merupakan bagian penting dari pengembangan pendidikan tinggi di bidang ilmu sosial. Interaksi dengan akademisi internasional dapat memperkenalkan mahasiswa pada perspektif, tradisi akademik, serta pengalaman sosial yang berbeda sekaligus membuka peluang bagi pengembangan jejaring akademik yang lebih luas.

Memperkuat Atmosfer Akademik Internasional FISH UNJ

Melalui kegiatan International Lecturer ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh wawasan mengenai masyarakat dan agama dalam konteks Australia, tetapi juga mampu mengembangkan perspektif kritis dan komparatif dalam melihat isu keberagaman, identitas, agama, masyarakat Indigenous, dan kehidupan multikultural.

Pengalaman tersebut penting dalam membentuk sensitivitas akademik mahasiswa terhadap dinamika sosial yang berkembang dalam konteks lokal maupun global. Pembelajaran semacam ini juga diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk melihat ilmu sosial bukan sekadar sebagai kajian teoritis, tetapi sebagai bidang ilmu yang membantu memahami kompleksitas kehidupan manusia dan masyarakat.

Penyelenggaraan International Lecturer menjadi bagian dari komitmen FISH UNJ di bawah kepemimpinan Dekan FISH UNJ Firdaus Wajdi, Ph.D. untuk memperkuat atmosfer akademik internasional, memperluas wawasan global mahasiswa, serta menghadirkan pembelajaran yang kritis, inklusif, dan relevan dengan perkembangan masyarakat global.

Ke depan, FISH UNJ terus mendorong semakin banyak ruang pertemuan antara mahasiswa, dosen, dan akademisi internasional. Harapannya, internasionalisasi pembelajaran dapat membentuk lulusan FISH UNJ yang memiliki wawasan global, kemampuan berpikir kritis dan komparatif, sekaligus tetap memiliki kepekaan yang kuat terhadap persoalan sosial, budaya, dan kemanusiaan di Indonesia.

Team Liputan: JRPS, NEA
Editor: FISHMED

Share this article

© 2025 Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum – Universitas Negeri Jakarta