Prodi S1 dan S2 Pendidikan Sejarah FISH UNJ Gelar Workshop Kurikulum Berbasis SDGs untuk Perkuat Relevansi Lulusan

Jakarta, 10 Mei 2026 — Program Studi S1 dan S2 Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) menyelenggarakan Workshop Pengembangan Kurikulum Berbasis Sustainable Development Goals (SDGs) pada Sabtu–Minggu, 9–10 Mei 2026, di Ruang Rapat 801 Gedung M. Syafei UNJ. Kegiatan ini menjadi langkah strategis Prodi Pendidikan Sejarah FISH UNJ dalam memperkuat kurikulum agar semakin adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, tantangan global, kebutuhan dunia kerja, serta arah pembangunan berkelanjutan.

Workshop ini diikuti oleh dosen, mahasiswa, alumni, stakeholder, organisasi profesi, Asosiasi Guru Sejarah Indonesia, serta perwakilan MGMP Sejarah. Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan komitmen Prodi Pendidikan Sejarah FISH UNJ dalam membangun kurikulum yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat, dunia pendidikan, dan sektor profesional kontemporer.

Kegiatan menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Dr. Tarunasena, M.Pd. dari Program Studi Pendidikan Sejarah FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia dan Dr. Abrar, M.Hum. dari Program Studi Pendidikan Sejarah FISH UNJ. Keduanya memberikan penguatan konseptual dan praktis mengenai pentingnya integrasi SDGs dalam kurikulum pendidikan sejarah di perguruan tinggi.

Pada hari pertama, Dr. Abrar, M.Hum. menyampaikan materi mengenai integrasi SDGs dalam pembelajaran sejarah. Ia menekankan bahwa pendidikan sejarah memiliki peran penting dalam membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap berbagai persoalan global, seperti perubahan iklim, ketimpangan sosial, konflik kemanusiaan, kesetaraan gender, hingga isu pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, sejarah tidak hanya berfungsi untuk memahami masa lalu, tetapi juga menjadi ruang reflektif untuk membaca tantangan masa kini dan masa depan.

Integrasi SDGs dalam pembelajaran sejarah dapat dilakukan melalui penguatan studi kasus historis, pembelajaran berbasis isu, refleksi sosial, serta pengembangan proyek pembelajaran yang berkaitan dengan lingkungan dan masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran sejarah diharapkan mampu membentuk peserta didik yang memiliki karakter, kepedulian sosial, tanggung jawab global, dan kemampuan berpikir kritis.

Selain pemaparan materi, hari pertama juga diisi dengan sesi diskusi dan dengar pendapat alumni mengenai relevansi kurikulum dengan dunia kerja. Para alumni memberikan berbagai masukan terkait pentingnya kurikulum yang lebih responsif terhadap perkembangan teknologi, isu lingkungan, perubahan sosial global, serta dinamika kebutuhan profesi lulusan Pendidikan Sejarah.

Dalam sesi tersebut, peserta menyoroti perlunya perluasan orientasi lulusan Pendidikan Sejarah agar tidak hanya terfokus pada profesi guru, tetapi juga mampu menjangkau berbagai bidang kerja lain yang relevan. Sejumlah peluang profesi yang menjadi perhatian antara lain edukator museum, kurator museum, pamong budaya, pengelola cagar budaya, peneliti sejarah, penulis populer, jurnalis, tenaga arsip, pengembang konten edukasi, hingga profesi di sektor industri kreatif dan media.

Masukan dari alumni dan stakeholder memperkuat pentingnya pengembangan kompetensi multidisipliner bagi mahasiswa Pendidikan Sejarah. Lulusan diharapkan tidak hanya memiliki penguasaan substansi keilmuan sejarah, tetapi juga keterampilan praktis seperti komunikasi publik, literasi digital, penulisan ilmiah dan populer, kepemimpinan, manajemen kegiatan, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan dunia kerja.

Pada hari kedua, Dr. Tarunasena, M.Pd. menyampaikan materi mengenai urgensi pengembangan kurikulum berbasis SDGs. Ia menjelaskan bahwa perguruan tinggi perlu mengintegrasikan aspek pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam kerangka SDGs sebagai bagian dari tanggung jawab akademik dan sosial. Menurutnya, program studi perlu membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap isu kemanusiaan, lingkungan, kebudayaan, dan pembangunan berkelanjutan.

Dr. Tarunasena, M.Pd. juga merekomendasikan pengembangan mata kuliah tematik yang relevan dengan tantangan global kontemporer, seperti Sejarah Lingkungan, Sejarah Gender, Sejarah Diplomasi, Sejarah Maritim, serta kajian sejarah tematik lainnya. Pengembangan mata kuliah tersebut dinilai penting untuk memperluas perspektif mahasiswa terhadap isu global sekaligus memperkuat relevansi keilmuan sejarah dalam konteks kehidupan modern.

Kegiatan hari kedua turut menghadirkan sesi masukan dari organisasi profesi yang disampaikan oleh Dr. Sumardiansyah Perdana Kusuma, M.Pd. dari Asosiasi Guru Sejarah Indonesia. Dalam paparannya, ia menjelaskan berbagai bentuk advokasi yang dilakukan organisasi profesi guru sejarah dalam memperjuangkan keberadaan dan penguatan mata pelajaran sejarah di tingkat pendidikan dasar dan menengah.

Ia menegaskan bahwa mata pelajaran sejarah memiliki posisi penting dalam membangun identitas nasional, kesadaran kebangsaan, dan karakter generasi muda. Oleh karena itu, pendidikan sejarah perlu terus diperkuat melalui pengembangan kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran, serta penguatan profesionalisme guru sejarah di Indonesia.

Selain dari organisasi profesi, stakeholder dari sektor museum dan media juga memberikan masukan mengenai kebutuhan kompetensi lulusan Pendidikan Sejarah. Mereka menekankan bahwa lulusan sejarah saat ini perlu dibekali kemampuan komunikasi profesional, public speaking, pengelolaan media digital, dan keterampilan menulis agar mampu bersaing di sektor pendidikan, kebudayaan, media, dan dunia usaha dunia industri.

Sebagai penutup, peserta bersama narasumber melakukan sesi review dan evaluasi terhadap kurikulum lama Program Studi Pendidikan Sejarah. Sesi ini menjadi ruang reflektif bagi dosen, alumni, mahasiswa, organisasi profesi, dan stakeholder untuk memberikan saran, kritik konstruktif, serta rekomendasi pengembangan kurikulum yang lebih kontekstual dengan prinsip SDGs dan kebutuhan pasar kerja.

Melalui workshop ini, Prodi S1 dan S2 Pendidikan Sejarah FISH UNJ menegaskan komitmennya dalam menghadirkan kurikulum yang inovatif, adaptif, dan berorientasi pada masa depan. Kegiatan ini sekaligus memperkuat posisi FISH UNJ sebagai fakultas yang aktif mengembangkan pendidikan berbasis relevansi sosial, keberlanjutan, dan kebutuhan dunia kerja, serta mendukung lahirnya lulusan Pendidikan Sejarah yang kritis, berkarakter, kompetitif, dan memiliki kontribusi nyata bagi masyarakat.

Share this article

© 2025 Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum – Universitas Negeri Jakarta