Padang, Humas FISH UNJ — Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) berpartisipasi aktif dalam Rapat Tahunan Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri (BKS PTN) Wilayah Barat Bidang Ilmu Sosial yang diselenggarakan pada 23–25 Oktober 2025 di Hotel Truntum, Padang, Sumatera Barat. Kegiatan ini diikuti oleh para dekan dan pimpinan fakultas ilmu sosial dari berbagai perguruan tinggi negeri di wilayah barat Indonesia. Rapat tahunan ini menjadi forum strategis untuk memperkuat jejaring kerja sama antarperguruan tinggi negeri di bidang ilmu sosial, membahas arah kebijakan akademik, kolaborasi riset, serta pengembangan program pengabdian kepada masyarakat. Selain rapat koordinasi, agenda kegiatan juga mencakup penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS), seminar nasional bertema “Kolaborasi dan Sinergi Perguruan Tinggi Negeri Wilayah Barat”, kegiatan pelepasan bibit penyu sebagai bagian dari pengabdian masyarakat, serta lomba kreativitas mahasiswa. Dekan FISH UNJ, Firdaus Wajdi, menyampaikan bahwa keikutsertaan fakultas dalam kegiatan ini merupakan langkah penting dalam memperkuat jejaring Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Melalui forum BKS PTN Wilayah Barat, kami berharap jejaring kerja sama antarperguruan tinggi semakin kuat, terutama dalam kolaborasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Apalagi kegiatan ini juga dihadiri oleh berbagai perguruan tinggi baik di bawah Kemdikbudristek maupun Kementerian Agama, sehingga jejaring dan potensi kolaborasi akan semakin luas,” ungkapnya. Lebih lanjut, Firdaus menegaskan bahwa jejaring yang terbangun melalui BKS PTN ini juga memiliki dampak langsung terhadap peningkatan mutu lembaga dan program studi di lingkungan FISH UNJ. “Dengan jejaring ini, FISH UNJ dapat meningkatkan mutu layanan lembaga karena bisa belajar dari praktik terbaik (best practices) lembaga lain. Dengan demikian, diharapkan reputasi program studi yang berada di bawah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum akan semakin meningkat,” tambahnya. Partisipasi FISH UNJ dalam kegiatan ini mencerminkan komitmen fakultas untuk terus memperkuat sinergi akademik antarperguruan tinggi di Indonesia bagian barat. Melalui kolaborasi yang produktif, FISH UNJ berupaya mendukung peningkatan kualitas pendidikan tinggi, penelitian sosial, serta pengabdian masyarakat yang berdampak luas bagi masyarakat dan dunia akademik. Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (449) Internasionalisasi (23) Kemahasiswaan (13) Penelitian (2) Pengabdian (6) Pengajaran (15) Pengumuman (3) Penjaminan Mutu (17) Prestasi (2) Prodi (14) Program Unggulan (15) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (20) Berita Terbaru
Pendidikan Sejarah di Era Digital: Antara Kolaborasi Global, Inovasi, dan Identitas Kebangsaan
Jakarta, 15 Oktober 2025 — Program Studi Magister Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISH), Universitas Negeri Jakarta, sukses menyelenggarakan Kuliah Umum bertajuk “Pendidikan Sejarah dalam Lanskap Global: Kolaborasi, Inovasi, dan Identitas Kebangsaan di Era Digital.” Acara yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Rabu sore ini menghadirkan dua narasumber nasional dan internasional yang dikenal luas dalam bidang pendidikan sejarah, yakni Prof. Dr. Agus Mulyana, M. Hum. (Universitas Pendidikan Indonesia, Ketua MSI, dan Direktur Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan) dan Sugeng Prakoso, S.S., M.T., dosen Pendidikan Sejarah FISH UNJ (kandidat doktor dari Universitas Bonn, Jerman). Kegiatan ini dipandu secara hangat oleh Lobelia Husna, M.Pd. selaku moderator. GLOBALISASI DAN TANTANGAN PENDIDIKAN SEJARAH Dalam sambutannya, Dr. Abrar, M. Hum., Koordinator Program Studi Magister Pendidikan Sejarah, menegaskan pentingnya menguatkan kembali peran sejarah di tengah derasnya arus globalisasi dan revolusi digital. “Kita tidak hanya dituntut untuk menjadi pengajar yang mentransfer pengetahuan,” ujarnya, “tetapi juga menjadi fasilitator yang membangun cara berpikir kritis, kreatif, dan reflektif pada peserta didik.” Menurutnya, kuliah umum ini menjadi ruang refleksi penting agar para dosen dan mahasiswa mampu memaknai pendidikan sejarah bukan sekadar hafalan masa lalu, melainkan sebagai sarana membangun identitas nasional di tengah dinamika global yang terus berubah. INOVASI DAN KOLABORASI: PEMBELAJARAN SEJARAH DI ABAD 21 Dalam paparan utamanya, Prof. Agus Mulyana menyoroti bagaimana pembelajaran sejarah perlu bertransformasi seiring perubahan zaman. Ia menekankan pentingnya kreativitas, kolaborasi lintas budaya, dan literasi digital dalam memperkuat makna pendidikan sejarah. “Pembelajaran sejarah abad ke-21 harus berpusat pada peserta didik, kritis terhadap sumber, dan menghubungkan masa lalu dengan masa kini,” jelasnya. Sementara itu, Sugeng Prakoso memperkenalkan pendekatan inovatif yang disebut Teaching as Subversive Intimacy (TSI)—sebuah pedagogi yang menempatkan mahasiswa sebagai subjek berpikir kritis. Menurutnya, TSI menjadikan kelas sejarah sebagai “bengkel argumen era digital,” di mana mahasiswa belajar menyusun argumen berdasarkan bukti sejarah melalui model POP/POIP (Point–Observation–Position/Interpretation–Position). “Dengan TSI, mahasiswa tidak lagi menghafal identitas, tapi mengerjakannya sendiri lewat bukti, tafsir, dan argumen. Identitas menjadi hasil kerja pikir yang hidup dan bisa diuji,” tegas Sugeng. MENJAGA IDENTITAS DI TENGAH ARUS GLOBAL Kuliah umum ini tidak hanya menghadirkan wacana teoretik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa inovasi pendidikan tidak boleh memisahkan sejarah dari akar kebangsaan. Para peserta—mahasiswa, dosen, dan pemerhati pendidikan sejarah dari berbagai universitas di Indonesia—terlibat aktif dalam sesi diskusi. Banyak yang menyoroti pentingnya menyeimbangkan semangat globalisasi dengan pelestarian nilai-nilai nasional, terutama di ruang digital yang rentan terhadap bias dan reduksi makna sejarah. Acara yang berlangsung selama dua jam ini menghasilkan sejumlah gagasan penting, di antaranya: Perlunya integrasi sejarah lokal dan global dalam kurikulum pendidikan. Penguatan kemampuan berpikir kritis dan literasi digital bagi siswa, guru dan mahasiswa pendidikan sejarah. Penerapan AI sebagai “sparring partner” dalam melatih kemampuan argumentasi sejarah yang terverifikasi dan bertanggung jawab. HARAPAN UNTUK PENDIDIKAN SEJARAH INDONESIA Menutup kegiatan, Dr. Abrar, M. Hum., menyampaikan harapannya agar kuliah umum ini menjadi langkah kecil menuju pembelajaran sejarah yang inovatif, reflektif, dan berkarakter kebangsaan. “Semoga kegiatan ini menginspirasi para pendidik untuk menjadikan sejarah bukan hanya cerita masa lalu, tetapi ruang dialog yang hidup antara nilai, teknologi, dan identitas bangsa.” Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, kuliah umum ini menegaskan posisi Magister Pendidikan Sejarah FISH UNJ sebagai salah satu pelopor dalam membangun pendidikan sejarah yang adaptif terhadap era digital sekaligus berakar kuat pada nilai-nilai kebangsaan. Kegiatan: Kuliah Umum “Pendidikan Sejarah dalam Lanskap Global: Kolaborasi, Inovasi, dan Identitas Kebangsaan di Era Digital.” Tanggal: Rabu, 15 Oktober 2025 Waktu: 16.00–18.00 WIB Tempat: Zoom Meeting (online) Narasumber: Prof. Dr. Agus Mulyana, M. Hum. – Dosen UPI, Ketua MSI, Direktur Sejarah dan Permuseuman Sugeng Prakoso, S.S., M.T. – Dosen Pendidikan Sejarah FISH UNJ (Kandidat Doktor, Universitas Bonn). Moderator: Lobelia Husna, M.Pd. Penyelenggara: Program Studi Magister Pendidikan Sejarah, FISH UNJ Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (449) Internasionalisasi (23) Kemahasiswaan (13) Penelitian (1) Pengabdian (5) Pengajaran (14) Pengumuman (3) Penjaminan Mutu (16) Prestasi (2) Prodi (14) Program Unggulan (15) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (20) Berita Terbaru
Kuliah Umum: Islam dan Dinamika Komunitas Muslim di Australia
Jakarta, 18 September 2025 — Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Islam dan Dinamika Komunitas Muslim di Australia”. Kegiatan ini dibuka oleh Dekan FISH UNJ, Firdaus Wajdi, Ph.D., yang menekankan pentingnya memperluas pengetahuan, persepsi, pengalaman, serta kolaborasi antara Indonesia dan Australia, khususnya dalam konteks keberagaman komunitas Muslim. Kuliah umum ini menghadirkan narasumber dari Western Sydney University, Australia, yaitu Dr. Jan Ali, seorang sosiolog agama yang fokus pada studi Islam. Dalam paparannya, Dr. Jan Ali menjelaskan bahwa komunitas Muslim di Australia memiliki sejarah panjang yang dimulai dari interaksi antara nelayan Makassar dan masyarakat Aborigin di pesisir barat laut Australia. Nelayan Makassar, yang dikenal sebagai pedagang teripang dari Sulawesi Selatan, secara rutin melakukan perjalanan melintasi Laut Arafura untuk berdagang. Sejarah komunitas Muslim di Australia juga mencakup kedatangan penunggang unta asal Afghanistan serta migrasi Muslim pasca Perang Dunia II yang meningkat sejak tahun 1975. Menurut Dr. Jan Ali, umat Muslim di Australia berasal dari hampir 200 negara dan menggunakan sekitar 400 bahasa. Mayoritas berasal dari Asia Selatan dan Timur Tengah, menjadikan komunitas Muslim sebagai salah satu kelompok paling beragam secara nasional, etnis, dan parokial. Keberagaman ini tercermin dalam lokasi geografis, tradisi etnis, bahasa, nilai-nilai sektarian, prinsip-prinsip doktrinal, serta identitas nasional yang mereka anut. Lebih lanjut, Dr. Jan Ali mengungkapkan bahwa komunitas Muslim di Australia berupaya melestarikan identitas etnis dan agama mereka melalui pengembangan lembaga sosial dan keagamaan. Mereka secara aktif mengelola berbagai layanan berbasis kebutuhan lokal, seperti kesejahteraan sosial, pendidikan (termasuk sekolah), fasilitas keagamaan (masjid dan musala), layanan pemakaman, dukungan kesehatan, konseling pernikahan dan duka, penyelesaian sengketa keluarga, serta bantuan perumahan dan integrasi sosial. Menutup sesi kuliah umum, Dr. Jan Ali menyampaikan pesan kepada pemerintah dan para pembuat kebijakan di Australia agar tidak memecah kantong-kantong etnis yang telah terbentuk. “Sebaliknya, dukunglah mereka dan kembangkan strategi untuk mendorong interaksi yang lebih efektif, lebih sering, dan lebih sistematis antar komunitas,” ujarnya. Ia menekankan bahwa peningkatan interaksi antar komunitas etnis akan mendorong kerja sama yang lebih besar dan memperkuat integrasi sosial. Jika pemerintah membuka jalur interaksi antara komunitas etnis dan masyarakat arus utama, hal ini akan mempercepat proses integrasi dan kontribusi mereka dalam pembangunan nasional secara kolektif dan efektif. Penulis: NAEditor: WPSFISH Media Center Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (447) Internasionalisasi (22) Kemahasiswaan (13) Pengabdian (5) Pengajaran (12) Pengumuman (3) Penjaminan Mutu (14) Prestasi (1) Prodi (14) Program Unggulan (12) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (20) Berita Terbaru
Mahasiswa FIS-H UNJ Ikuti Workshop Green Leadership Academy di Pekanbaru
Pekanbaru, 20 September 2025 — Dua mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS-H) Universitas Negeri Jakarta, Annisaa Nasywa dan M. Hafiz Yahpi, menghadiri Workshop Green Leadership Academy yang diselenggarakan oleh Tumbuh Institut bekerja sama dengan Partai Hijau Riau. Kegiatan bertema “Generasi Pemimpin Hijau” ini berlangsung pada 19–20 September 2025 di Hotel Pangeran, Pekanbaru, dan diikuti oleh 50 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kedua mahasiswa UNJ didampingi oleh dosen Program Studi Sosiologi, Dr. Robertus Robert, M.A., yang tidak hanya mendampingi peserta, tetapi juga menjadi salah satu pemateri dalam workshop tersebut. Workshop dibuka dengan Tari Persembahan, dilanjutkan dengan sambutan dari Hengky Primana, Founder Partai Hijau Riau, dan Rocky Gerung, Founder Tumbuh Institut. Turut hadir Kapolda Riau, Irjen. Pol. Dr. Herry Heryawan, S.I.K., M.H., M.Hum., yang memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi kegiatan tersebut. Materi pertama disampaikan oleh Rocky Gerung yang membahas Rasionalitas Komunikatif dan Demokrasi Deliberatif. Ia menekankan tiga isu utama yang harus dikuasai oleh pemimpin masa depan, yaitu keamanan global, lingkungan hidup, dan solidaritas kemanusiaan. Selanjutnya, Kapolda Riau menyampaikan materi tentang pentingnya keberpihakan pemimpin terhadap lingkungan hidup. “Setiap pemimpin harus berpihak pada lingkungan hidup yang mereka tinggali, demi menjaga hubungan baik antara manusia dan alam,” ujarnya. Materi terakhir pada hari pertama disampaikan oleh Dr. Robertus Robert, M.A., yang membahas konsep ekosipasi—sebuah gagasan tentang hubungan manusia dan alam sebagai kritik terhadap emansipasi yang merusak lingkungan. Hari pertama ditutup dengan gala dinner di restoran Hotel Pangeran. Pada hari kedua, materi dibuka oleh Muhammad Luthfi, Pimpinan Tumbuh Institut, yang memberikan pelatihan tentang penyusunan policy brief agar mudah dipahami dan diterima oleh pembuat kebijakan. Kemudian, Bivitri Susanti menyampaikan materi tentang advokasi isu sosial dan lingkungan, serta pentingnya sikap mahasiswa terhadap ketidakadilan. Materi terakhir disampaikan oleh Haris Azhar, aktivis HAM, yang membahas wawasan tentang politik, ekonomi, organisasi, dan ideologi. Ia memberikan pemahaman mengenai strategi politik yang perlu dibangun oleh seorang pemimpin. Selain menerima materi, peserta juga melakukan praktik lapangan dengan mengunjungi Tabung Harmoni Hijau Riau, milik Kapolda Riau. Tempat ini berfungsi sebagai bank pohon dan memiliki fasilitas peternakan kambing serta budidaya ikan. Para peserta juga berkesempatan menanam pohon sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap lingkungan. Kegiatan ditutup dengan kunjungan ke Rumah Singgah Tuan Kadi, situs bersejarah yang memiliki nilai budaya penting bagi masyarakat Pekanbaru. Penulis: Mahasiswa Pendidikan SejarahEditor: WPS Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (447) Internasionalisasi (22) Kemahasiswaan (13) Pengabdian (5) Pengajaran (13) Pengumuman (3) Penjaminan Mutu (15) Prestasi (1) Prodi (14) Program Unggulan (13) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (20) Berita Terbaru
Kampung Naga: Potret Kehidupan dan Potensi Kampung Adat di Tengah Arus Modernisasi
Tasikmalaya, 13–14 Juni 2025 — Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melaksanakan kegiatan studi lapangan di Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Kajian Masyarakat Indonesia yang diampu oleh Mitra Mustaricha, M.Pd., dan Dr. Yasnita Yasin, S.Pd., M.Si. Studi lapangan ini bertujuan untuk menggali dan memahami kearifan lokal masyarakat Sunda, khususnya dalam struktur sosial, nilai budaya, dan praktik kehidupan masyarakat adat. Kampung Naga dipilih sebagai lokasi karena dikenal sebagai salah satu kampung adat yang masih mempertahankan nilai-nilai tradisional di tengah arus modernisasi. Selama dua hari, para mahasiswa melakukan observasi langsung, wawancara dengan tokoh masyarakat, serta mendokumentasikan berbagai praktik budaya yang masih hidup dan dijalankan oleh warga Kampung Naga. Mereka juga mengikuti tur edukatif yang memperkenalkan sejarah kampung, pola kehidupan masyarakat tanpa listrik, serta nilai-nilai gotong royong dan spiritualitas yang menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. “Mahasiswa tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga bersentuhan langsung dengan realitas sosial dan budaya yang autentik. Ini adalah bentuk pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang sangat penting,” ujar Dr. Yasnita Yasin. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif dalam diskusi, dokumentasi lapangan, serta refleksi yang dilakukan setelah kegiatan. Studi lapangan ini menjadi sarana pembelajaran yang memperkaya wawasan multikultural mahasiswa dan memperkuat nilai-nilai Pancasila serta karakter kebangsaan. Kegiatan ini juga mencerminkan komitmen Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) UNJ dalam mencetak lulusan yang kritis, adaptif, dan memiliki pemahaman mendalam terhadap keberagaman masyarakat Indonesia.[] Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (441) Internasionalisasi (22) Kemahasiswaan (5) Pengabdian (1) Pengajaran (11) Pengumuman (3) Penjaminan Mutu (9) Prestasi (1) Prodi (12) Program Unggulan (8) Tak Berkategori (11) Tata Kelola (15) Berita Terbaru
Antusiasme Tinggi Warnai Kesuksesan Pameran Lensavor
Jakarta, 30 Juni 2025 — Program Studi Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Digital angkatan 2024, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), sukses menyelenggarakan acara “Pameran Lensavor” yang mencakup pameran kuliner dan fotografi sebagai bentuk implementasi project based learning dari tiga mata kuliah di semester kedua yaitu Manajemen Humas, Komunikasi Pemasaran, dan Fotografi Kehumasan. Antusiasme pengunjung melebihi target yang telah ditetapkan, menandakan tingginya minat terhadap kegiatan ini. Panitia menyebutkan bahwa kesuksesan acara merupakan hasil kerja sama tim yang solid serta dukungan dari berbagai pihak. Acara dibuka secara resmi dengan sambutan dari Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Aris Munanda, yang mewakili Dekan, serta Koordinator Program Studi Hubungan Masyarakat, Asep Sugiarto. Prosesi pemotongan pita sebagai simbol pembukaan dilakukan oleh kedua pejabat tersebut, disaksikan oleh para dosen dan seluruh panitia yang hadir. Pameran Lensavor mengusung tema “Nusantara”, menampilkan karya fotografi mahasiswa Program Studi Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Digital yang menggambarkan kekayaan budaya Indonesia, serta menyajikan beragam kuliner khas dari berbagai daerah. Acara ini tidak hanya menarik perhatian mahasiswa UNJ, tetapi juga mahasiswa dari universitas, politeknik lain di Jakarta, dan masyarakat umum. Jumlah pengunjung yang tercatat mencapai 449 pengunjung, melampaui target awal sebanyak 300 pengunjung. Seluruh stand kuliner berhasil menjual habis produknya, sementara pameran fotografi turut menyuguhkan sesi voting untuk memilih karya terbaik, yang menambah keseruan acara. Pameran Lensavor ditutup dengan doa bersama dan sesi foto seluruh panitia sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras mereka. Penulis: BFA Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (440) Internasionalisasi (22) Kemahasiswaan (5) Pengabdian (1) Pengajaran (10) Pengumuman (3) Penjaminan Mutu (9) Prestasi (1) Prodi (12) Program Unggulan (5) Tak Berkategori (11) Tata Kelola (13) Berita Terbaru
Swaranusa 2025: Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNJ Gaungkan Budaya Nusantara Lewat Seni dan Tradisi
Jakarta, 11 Juni 2025 — Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kembali menggelar acara tahunan bertajuk Swaranusa 2025 di Aula Bung Hatta, Kampus A UNJ. Mengusung tema “Gemakan Karya, Satukan Nusantara”, kegiatan ini menjadi wujud nyata implementasi mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya melalui ekspresi seni dan tradisi. Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh akademik, di antaranya Kurniawati, Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNJ; Dini Safitri, Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi; serta Prof. Sunny Lee Owens, dosen tamu dari luar negeri yang turut memberikan penilaian akademik. Turut hadir pula para dosen Ilmu Komunikasi dan mahasiswa angkatan 2024 sebagai peserta sekaligus penampil utama. Swaranusa 2025 dibuka dengan pawai budaya oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi 2024, dilanjutkan dengan penampilan Palang Pintu Betawi dan Tari Dayak. Acara dipandu oleh Muhammad Anugrah dan Syaidah Seprinal sebagai pembawa acara, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars UNJ, serta pembacaan tilawah dan sari tilawah Al-Qur’an oleh Muhammad Fahlevi dan Bilqis Marwah. Dalam sambutannya, Calista Agatha selaku Ketua Pelaksana menyampaikan harapannya agar Swaranusa dapat membangkitkan semangat generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan melestarikan budaya Indonesia. Sementara itu, Prof. Sunny Lee Owens menekankan bahwa Swaranusa merupakan bagian dari evaluasi akhir semester yang mengintegrasikan praktik budaya dengan teori komunikasi. Apresiasi juga disampaikan oleh Dini Safitri yang menilai bahwa seluruh penampilan merupakan hasil kerja keras dan kreativitas mahasiswa. “Ini adalah bukti bahwa keberagaman suku bangsa di Indonesia dapat diangkat secara kreatif oleh mahasiswa,” ujarnya. Senada dengan itu, Kurniawati, menambahkan, “Jika mahasiswa diberi ruang dan kepercayaan untuk berkreasi, mereka mampu menghasilkan karya luar biasa yang berdampak positif bagi pelestarian budaya bangsa.” Beragam pertunjukan budaya turut memeriahkan acara, seperti peragaan busana adat dari berbagai daerah, Tari Lenggang Nyai dari Jakarta yang menggambarkan keberanian perempuan, pembacaan puisi bertema budaya oleh Difa dan Syaidah, paduan suara lagu-lagu daerah, drama rakyat Lutung Kasarung, serta Tari Merak dari Jawa Barat yang mencerminkan keindahan dan harmoni. Sebagai puncak acara, ditampilkan Tari Medley Nusantara yang memadukan elemen budaya dari berbagai provinsi di Indonesia, menegaskan semangat Bhinneka Tunggal Ika sebagai jiwa dari Swaranusa 2025. Swaranusa 2025 menjadi bukti bahwa mahasiswa Ilmu Komunikasi UNJ tidak hanya berperan sebagai komunikator, tetapi juga sebagai penjaga nilai-nilai budaya bangsa. Acara ini akan terus menjadi agenda tahunan Program Studi Ilmu Komunikasi sebagai bagian dari pembelajaran interaktif yang memadukan edukasi dan pelestarian budaya Indonesia. Penulis:MAHN Editor:WPS Tim FISH Media Center Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (438) Internasionalisasi (21) Kemahasiswaan (5) Pengajaran (9) Pengumuman (3) Penjaminan Mutu (7) Prestasi (1) Prodi (12) Program Unggulan (3) Tak Berkategori (10) Tata Kelola (11) Berita Terbaru
FISH UNJ Gelar Webinar Internasional: Kompetensi Lintas Budaya dalam Ilmu Sosial
Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH UNJ) menyelenggarakan webinar internasional “Embedding Intercultural Competencies Across Disciplines in Social Sciences” pada Jumat, 13 Juni 2025. Acara berlangsung secara daring melalui Zoom dan disiarkan langsung di YouTube FISH UNJ Official. Narasumber dan Materi Unggulan Webinar menghadirkan Sunny Lie Owens, dosen California State Polytechnic University Pomona yang ahli komunikasi lintas budaya dan kurikulum multikultural. Sunny menekankan pentingnya integrasi kompetensi antarbudaya dalam disiplin ilmu sosial untuk membekali mahasiswa menghadapi tantangan global. “Kompetensi lintas budaya menjadi fondasi penting dalam memahami dinamika sosial, politik, hukum, dan ekonomi dunia global,” ujar Sunny dalam sesi interaktif yang dipandu moderator Sandy Allifiansyah, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISH UNJ. Komitmen Internasionalisasi FISH UNJ Dekan FISH UNJ Firdaus Wajdi menyatakan webinar ini bagian dari program internasionalisasi fakultas untuk memperluas jejaring akademik dan memperkaya wawasan global civitas akademika. Kegiatan ini diikuti antusias oleh mahasiswa dan dosen UNJ, khususnya FISH UNJ, dalam diskusi penerapan nilai lintas budaya dalam pembelajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Program ini menegaskan peran FISH UNJ sebagai fakultas progresif yang memperkuat kapasitas lulusan berdaya saing tinggi dalam masyarakat multikultural global.[] sumber : https://unj.ac.id/tingkatkan-pemahaman-lintas-budaya-dalam-kajian-ilmu-sosial-fish-unj-gelar-webinar-internasional/ Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (437) Internasionalisasi (21) Kemahasiswaan (5) Pengajaran (8) Pengumuman (3) Penjaminan Mutu (7) Prestasi (1) Prodi (11) Program Unggulan (3) Tak Berkategori (10) Tata Kelola (11) Berita Terbaru
PPKn UNJ Gelar Seminar Nasional dan Call for Papers: “Membumikan Pancasila”
JAKARTA, 2 Juni 2025 — Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Hukum (FISH) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) berhasil menyelenggarakan Seminar Nasional dan Call for Papers bertema “Membumikan Pancasila” di Aula Maftuchah Yusuf, Gedung Dewi Sartika, Lantai 2, UNJ. Acara bergengsi ini menandai komitmen berkelanjutan dalam memperkuat implementasi nilai-nilai Pancasila di era digital dan global. Kolaborasi Strategis Tiga Institusi Pendidikan Terkemuka Seminar nasional ini terlaksana berkat sinergi strategis antara PPKn UNJ, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), dan Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia (AP3KNI). Kolaborasi ini bertujuan mengoptimalkan pengembangan keilmuan, memperluas jejaring kerja sama akademik, dan memperkuat implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam konteks penguatan ideologi kebangsaan. Acara dibuka dengan sambutan dari para pejabat struktural UNJ, dipimpin oleh Dr. Firdaus Wajdi, S.Th.I., M.A., Ph.D (Dekan FISH UNJ) dan Prof. Ahman Sya (Ketua Senat UNJ). Turut hadir memberikan dukungan penuh Dr. Kurniawati, M.Si (Wakil Dekan I), Dr. Aris Munandar, M.Si (Wakil Dekan II), Dr. E. Nugrahaeni P., M.Si (Wakil Dekan III), serta para Guru Besar dan Dosen PPKn FISH UNJ. Seminar dibuka dengan keynote speech oleh Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si yang diwakili Mayjen TNI (Purn) Nasir Madjid, S.E. dengan tema “Pancasila dan Ketahanan Nasional”. Materi pembuka ini menekankan relevansi Pancasila sebagai fondasi ketahanan bangsa di tengah dinamika geopolitik global. Sesi Pertama: Refleksi Hak, Kewajiban, dan Integrasi Sosial Sesi pertama dimoderatori Dr. Yasnita, M.Si dengan tiga narasumber kompeten: Dr. Ichwani Siti Utami, M.Pd mengangkat tema “Refleksi atas Hak dan Kewajiban Warga Negara”, membahas keseimbangan peran negara dalam menjamin hak warga serta kewajiban warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dr. Mariatul Kiptiyah, M.Pd menyampaikan materi “PKn sebagai Pilar Integrasi Sosial di Tengah Keberagaman”, menyoroti pentingnya pendidikan kewarganegaraan sebagai perekat bangsa dalam masyarakat majemuk Indonesia. Dr. Yuyus Kardiman, M.Pd memaparkan “Pancasila dan Keadilan Sosial”, menekankan implementasi Pancasila sebagai falsafah hidup untuk mewujudkan masyarakat berkeadilan sosial. Sesi ini mendapat respons antusias dengan empat pertanyaan dari peserta, terdiri dari dua pertanyaan peserta daring dan dua dari peserta luring, menunjukkan tingginya engagement akademik. Sesi Kedua: Implementasi Pancasila dalam Kebijakan dan Gotong Royong Dipandu moderator Syifa Syarifa, S.Pd, M.Sc, sesi kedua dibuka Prof. Dr. Muhammad Sabri, M.Ag dengan tema “Ide Pancasila dalam Kebijakan Publik”, menyoroti urgensi internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam setiap formulasi kebijakan negara. Dilanjutkan presentasi dari: Dr. I Putu Windu Mertha Sujana, S.Pd., M.Pd (Koordinator Prodi PPKn Universitas Pendidikan Ganesha) mengangkat “Membumikan Pancasila melalui Gotong Royong”. Beliau mengkomparasikan nilai gotong royong masyarakat Betawi dan Bali sebagai manifestasi konkret implementasi Pancasila di tingkat grassroots. Dr. Wahyudin Noe, M.Pd (Koordinator Prodi PPKn Universitas Khairun) membahas “Pancasila dan Masyarakat Multikultural”, menganalisis keunikan masyarakat Indonesia yang terbangun atas fondasi perasaan dan tujuan bersama meski dalam keberagaman. Partisipasi Luas dan Publikasi Ilmiah Bereputasi Seminar ini dihadiri peserta dari berbagai kalangan: mahasiswa S1 dan S2 PPKn, dosen, guru, serta praktisi pendidikan dari seluruh Indonesia, mencerminkan jangkauan nasional acara ini. Kegiatan ditutup dengan presentasi makalah dari peserta Call for Papers. Setiap naskah akan melalui proses review dan revisi berkelanjutan sebelum dipublikasikan dalam prosiding seminar dan jurnal ilmiah bereputasi, berkontribusi pada pengembangan kajian Pancasila kontemporer. Seminar Nasional “Membumikan Pancasila” ini mencerminkan komitmen strategis UNJ dan BPIP dalam memperkuat ideologi Pancasila melalui transformasi pendidikan tinggi. Acara ini menjadi platform kolaboratif yang mempertemukan akademisi, praktisi, dan mahasiswa dalam mengimplementasikan nilai-nilai kebangsaan di era digitalisasi dan globalisasi. Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (433) Internasionalisasi (18) Kemahasiswaan (5) Pengajaran (7) Pengumuman (3) Penjaminan Mutu (7) Prestasi (1) Prodi (10) Program Unggulan (2) Tak Berkategori (10) Tata Kelola (9) Berita Terbaru
Seminar “AI dan Masa Depan Literasi Digital Indonesia” di FISH UNJ: Menyiapkan Generasi Muda Hadapi Revolusi Digital
Jakarta, 29 April 2025- Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kembali menjadi pusat perhatian dalam dunia literasi digital dengan menggelar seminar bertajuk “AI dan Masa Depan Literasi Digital Indonesia”. Acara yang berlangsung di Aula Bung Hatta ini merupakan hasil kerja sama antara Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi DKI Jakarta bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNJ, sebagai bagian dari program “Jakarta SOLID” (Sadar Olah Literasi Digital). Seminar hybrid ini diikuti oleh beragam peserta, mulai dari mahasiswa UNJ, ibu-ibu Dasawisma, hingga peserta disabilitas yang mengikuti secara daring. Acara dibuka oleh MC dan dilanjutkan dengan sambutan dari Kurniawati selaku Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNJ. Dalam sambutannya, Kurniawati berharap agar seminar ini dapat memberikan manfaat yang luas bagi seluruh peserta. “Semoga acara ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua,” ujarnya penuh harap. Hadir pula Wakil Dekan II Aris Munandar dan E. Nugrahaeni P., Wakil Dekan III Fakultas yang turut mendukung jalannya acara serta dihadiri oleh para dosen dari beberapa program studi. Seminar menghadirkan dua narasumber utama yang sangat berkompeten, yaitu Alia Noorayu Laksono dari DPRD DKI Jakarta dan Donny Budi Utoyo dari Siberkreasi. Acara dipandu oleh M. Fikri Akbar, dosen Ilmu Komunikasi UNJ, yang bertindak sebagai moderator. Dalam sesi pemaparan materinya, Donny Budi Utoyo menegaskan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) akan berkembang semakin pesat. Namun, menurutnya, AI belum bisa menggantikan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis manusia. “Berpikir kritis untuk memastikan mana yang benar dan salah, kebanyakan orang ikut yang cara sederhana tapi salah,” ujarnya. Ia menekankan agar AI digunakan sebagai alat untuk menyederhanakan tulisan, bukan menggantikan proses berpikir manusia. “Tolong jangan menyalahgunakan AI. AI seperti api, apabila kecil memiliki manfaat untuk masak, apabila membesar bisa menimbulkan masalah,” tambahnya. Sementara itu, Alia Noorayu Laksono menyampaikan bahwa AI hadir untuk membantu manusia menjadi versi terbaik dirinya, bukan untuk menggantikan peran manusia. “AI bukan untuk menggantikan manusia, tapi untuk membantu manusia menjadi versi terbaik dari dirinya,” katanya. Literasi digital yang kuat dan pemahaman yang bijak terhadap AI dinilai sangat penting agar generasi muda siap menghadapi tantangan masa depan. Alia juga menegaskan bahwa meskipun teknologi dapat mengefisienkan pekerjaan, sentuhan manusia tetap dibutuhkan untuk menghasilkan karya yang memiliki nilai estetika dan orisinalitas. Sesi diskusi berlangsung sangat interaktif. Mahasiswa dan peserta daring aktif mengajukan pertanyaan dan berdiskusi dengan para narasumber. Dalam dialog yang hangat, Donny mengingatkan bahwa AI memang dapat menggantikan pekerjaan yang bersifat repetitif, namun keterampilan manusia tetap menjadi pembeda utama. “Kalian bukan tergantikan oleh AI, namun kalian akan tergantikan oleh para ahli yang menggunakan AI,” jelasnya. Alia menambahkan, “Untuk kampanye atau poster menggunakan bantuan AI itu tidak masalah. AI akan merangsang orang membuat sesuatu karya. Namun, sentuhan manusia tetap dibutuhkan untuk menghasilkan estetika karena semua hal tidak bisa digantikan oleh AI.” Moderator, Fikri, turut mengingatkan agar mahasiswa tidak terbiasa bergantung pada AI dan tetap mengasah kemampuan berpikir kritis. Alia menutup dengan pesan penuh motivasi, “Mau hidup di era apapun, skill pasti sangat dibutuhkan. Tidak bisa dipungkiri karena hidup harus butuh ilmu dan belajar.” Seminar diakhiri dengan pesan dari para narasumber agar mahasiswa tidak terburu-buru menyelesaikan studi dan terus haus akan ilmu. Seminar ini tidak hanya memberikan wawasan baru tentang AI dan literasi digital, tetapi juga memperkuat semangat kolaborasi dan inklusivitas di lingkungan kampus UNJ. Acara ini menjadi bukti nyata bahwa di tengah kemajuan teknologi, peran manusia dengan kreativitas, kritis, dan keterampilan tetap tak tergantikan. Literasi digital yang kuat dan penggunaan AI secara bijak menjadi kunci utama untuk menciptakan generasi yang siap menghadapi revolusi digital dengan percaya diri dan tangguh. Acara resmi ditutup dengan harapan besar bagi seluruh peserta agar mampu membawa semangat literasi digital dan pemanfaatan AI secara bijak ke lingkungan masing-masing, demi Indonesia yang semakin tangguh dan siap menghadapi masa depan di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Penulis: ZREditor: WPSTim FISHmedia Center Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Organisasi (3) Pengajaran (3) Penjaminan Mutu (2) Program Unggulan (1) Berita Terbaru