Jakarta, 19 Mei 2026 – Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat budaya riset, publikasi ilmiah, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Hal ini ditandai dengan capaian FISH UNJ yang berhasil meraih tujuh penghargaan dalam kegiatan Riset Expo dan LPPM UNJ Award Tahun 2026 yang mengusung tema “Globalisasi Riset UNJ untuk Meningkatkan Dampak dan Daya Saing.” Kegiatan tersebut diselenggarakan di Aula Latief Hendraningrat, Gedung Dewi Sartika Lantai 2, Kampus A Universitas Negeri Jakarta. Agenda ini menjadi ruang apresiasi bagi sivitas akademika UNJ yang berkontribusi dalam pengembangan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, publikasi ilmiah, hak kekayaan intelektual, serta inovasi akademik yang berdampak luas. Rangkaian acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars UNJ, pembacaan doa, serta penampilan tari tradisional. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua LPPM UNJ, Prof. Dr. Iwan Sugihartono, M.Si., yang menyampaikan harapan agar UNJ terus meningkatkan karya-karya riset dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Sekretaris Umum UNJ, Prof. Dr. Suyono, M.Si., mewakili Rektor UNJ. Dalam sambutannya, Prof. Suyono menekankan bahwa riset perguruan tinggi perlu bergerak melampaui capaian akademik semata, yaitu dengan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat, dunia industri, pemerintah, dan komunitas internasional. “Riset harus mampu menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat, dunia industri, pemerintah, serta komunitas internasional. Riset juga harus mampu memperkuat posisi universitas dalam percaturan global melalui kolaborasi internasional, inovasi, dan kontribusi dalam penyelesaian persoalan dunia,” ujar Prof. Suyono. Pada kesempatan tersebut, Prof. Suyono juga memberikan motivasi kepada para dosen dan peneliti agar terus berkarya, menulis, berinovasi, dan mengabdi dalam dunia akademik. Pembukaan acara secara resmi ditandai dengan pemukulan gong. Kegiatan ini turut menghadirkan orasi ilmiah dari Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Saintek Kemendiktisaintek, Prof. Yudhi Dharma, Ph.D. Dalam orasinya, Prof. Yudhi membahas sejumlah isu strategis, mulai dari sebaran jurnal di Asia Tenggara, rantai nilai komoditas strategis Indonesia, hingga pentingnya mengonversi kekayaan alam menjadi riset yang memiliki nilai manfaat dan daya saing. Sebagai bagian dari rangkaian acara, UNJ juga menayangkan video produk inovasi, meluncurkan Aplikasi HKI UNJ, serta menyerahkan sejumlah luaran akademik, antara lain Buku Bunga Rampai Pengabdian, Katalog Jurnal, Buku Hasil Riset Terapan, Buku Kajian Desa Bulak, dan Buku Kajian RSSG Kota Depok. Dalam sesi LPPM UNJ Award 2026, FISH UNJ berhasil mencatatkan capaian membanggakan melalui tujuh penghargaan. Prof. Dr. M. Japar, M.Si. meraih Dosen Terbaik 3 pada kategori Bidang Penelitian Kompetitif Nasional (Dikti & BRIN) Individu. Pada bidang Hak Kekayaan Intelektual, Rayuna Handawati, S.Si., M.Pd. meraih Dosen Terbaik 1 kategori Hak Cipta Tahun 2025. FISH UNJ juga meraih Fakultas Terbaik 3 dalam kategori Bidang Jurnal UNJ Terakreditasi SINTA Terbanyak. Selain itu, Jurnal Saskara dari FISH UNJ memperoleh penghargaan sebagai Jurnal Baru Terakreditasi SINTA Terbaik dalam kategori Bidang Jurnal UNJ Terakreditasi Tahun 2025. Prestasi lain diraih pada kategori SINTA Score (Buku), yaitu Dr. Dini Safitri, S.Sos., M.Si. sebagai Dosen Terbaik 1 dan Noprita Herari, M.I.Kom. sebagai Dosen Terbaik 2. Sementara itu, Prof. Dr. Desy Safitri, M.Si. meraih penghargaan sebagai dosen dengan SINTA Score 3Yr Individu Tertinggi di Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum. Wakil Dekan Bidang Riset, Inovasi, Sistem Informasi dan Kerja Sama FISH UNJ, Dr. E. Nugrahaeni P., M.Si., menyampaikan bahwa penghargaan ini menjadi refleksi dari kerja kolektif sivitas akademika FISH dalam membangun ekosistem akademik yang produktif, kolaboratif, dan berdampak. “Capaian ini bukan hanya tentang jumlah penghargaan yang diterima, tetapi tentang bagaimana FISH UNJ terus membangun budaya riset, publikasi, inovasi, dan pengabdian yang semakin kuat. Kami berharap penghargaan ini menjadi energi positif bagi dosen, peneliti, pengelola jurnal, dan seluruh sivitas akademika FISH untuk menghasilkan karya yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, mendukung pencapaian SDGs, serta memperkuat kontribusi UNJ di tingkat nasional dan global,” ujar Dr. E. Nugrahaeni P., M.Si. Capaian FISH UNJ dalam Riset Expo dan LPPM UNJ Award 2026 juga memiliki relevansi dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education, melalui penguatan riset dan publikasi ilmiah; SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure, melalui pengembangan inovasi dan hak kekayaan intelektual; serta SDG 17: Partnerships for the Goals, melalui dorongan kolaborasi akademik, diseminasi ilmu pengetahuan, dan kontribusi riset yang dapat menjawab tantangan masyarakat. Melalui capaian ini, FISH UNJ menegaskan posisinya sebagai fakultas yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan ilmu sosial, hukum, pendidikan, dan komunikasi, tetapi juga pada penciptaan dampak akademik dan sosial yang berkelanjutan. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa FISH UNJ terus bergerak dalam memperkuat reputasi kelembagaan, meningkatkan kualitas luaran akademik, serta mendukung visi UNJ sebagai perguruan tinggi yang unggul, inovatif, dan berdaya saing global. Penulis: GSFI, SZ Editor: TIM FISH MEDIA CENTER 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (460) Internasionalisasi (53) Kemahasiswaan (18) Penelitian (15) Pengabdian (13) Pengajaran (32) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (40) Prestasi (8) Prodi (22) Program Unggulan (47) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (22) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
Eurasia Lecturer Series 2026: Tantangan Etika dan Tata Kelola di Era Digital
Jakarta, 18 Mei 2026 — Eurasia Lecture Series 2026 kembali menghadirkan diskusi akademik pada pertemuan ke-9 dengan mengangkat tema “Ethical Challenges and The Problem of Governance in Digital Society: Privacy Concern & Data Security in A Digital World.” Kegiatan ini menghadirkan pembicara utama, Prof. Dr. Siti Nurbayani, M.Si. selaku Direktur Kemahasiswaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang membahas berbagai tantangan etika dalam perkembangan masyarakat digital saat ini. Dalam pemaparan pertamanya yang bertajuk “Who’s Control Your FYP? Algorithms, Ethics, and Human Autonomy in The Digital Era”, Prof. Siti menjelaskan bahwa perkembangan algoritma, media sosial, dan kecerdasan buatan (AI) telah memengaruhi perilaku serta pola pikir manusia di era digital. Menurutnya, penggunaan teknologi saat ini tidak hanya membantu aktivitas manusia, tetapi juga berpotensi membentuk preferensi dan kebiasaan pengguna secara sistematis. “Karena algoritma tidak hanya memahami preferensi kita, tetapi juga merekam, memprediksi, dan menyeragamkan perilaku fisik secara massal tanpa adanya paksaan,” ujar Prof. Siti dalam sesi diskusi. Ia menjelaskan bahwa algoritma bekerja sebagai mekanisme kontrol melalui tiga tahapan utama, yaitu knowing (merekam aktivitas pengguna), predicting (menghitung serta memprediksi probabilitas perilaku), dan shaping (menyodorkan konten secara agresif kepada pengguna). Kondisi tersebut dinilai memunculkan berbagai persoalan etika dalam kehidupan digital masyarakat modern. Pemaparan selanjutnya, dalam menghadapi tantangan masyarakat digital, mahasiswa diajak memahami pentingnya keterampilan abad ke-21 melalui konsep 4C, yaitu critical thinking, collaboration, creativity, dan communication. Kemampuan tersebut dinilai penting agar masyarakat mampu menyikapi perkembangan teknologi secara lebih kritis, etis, dan bertanggung jawab. Sebagai penutup, Prof. Siti memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berdiskusi dan melakukan sesi tanya jawab. Terdapat dua mahasiswa yang bertanya terkait pengaruh algoritma terhadap konteks sosial dan apa kaitannya dengan kondisi geopolitik yang terjadi di Indonesia saat ini. Prof Siti kemudian menjawab berdasarkan pentingnya penerapan lima pilar tata kelola digital, yaitu otonomi, privasi, keadilan, transparansi, dan akuntabilitas. Melalui pemahaman tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menggunakan teknologi secara lebih bijak tanpa kehilangan kendali atas diri sendiri dan kegunaan teknologi hanya sebagai “alat bantu” dalam menyelesaikan persoalan, termasuk pada pertanyaan kedua mahasiswa. Penulis: NA, GSFI, SS FISH Media Center, 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (459) Internasionalisasi (53) Kemahasiswaan (18) Penelitian (15) Pengabdian (12) Pengajaran (31) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (40) Prestasi (7) Prodi (22) Program Unggulan (44) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (22) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
Prodi PPKN FISH UNJ Gelar Kolokium Internasional di Universiti Sains Malaysia, Perkuat Jejaring Akademik dan Komitmen SDGs
Pulau Pinang, 7 Mei 2026 — Program Studi Magister Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN), Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ), melaksanakan kolokium internasional di School of Social Sciences, Universiti Sains Malaysia (USM) pada Kamis, 7 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya FISH UNJ dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan tinggi, memperluas jejaring akademik di kawasan Asia Tenggara, serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education dan SDG 17: Partnerships for the Goals. Kolokium internasional ini diikuti oleh 22 mahasiswa Program Studi Magister PPKN UNJ dan 8 mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan IPS Universitas Lampung. Para peserta mengikuti rangkaian kegiatan akademik yang meliputi seminar, presentasi ilmiah, dan diskusi interaktif terkait isu sosial, kewarganegaraan, pendidikan, serta dinamika masyarakat global. Kegiatan ini disambut baik oleh Prof. Madya Mohamad Shaharudin Samsurinan, Dekan School of Social Sciences USM. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi terhadap terselenggaranya forum akademik internasional yang mempertemukan mahasiswa, dosen, dan akademisi dari Indonesia dan Malaysia. Menurutnya, kolaborasi lintas negara merupakan langkah penting dalam memperluas perspektif akademik mahasiswa, membangun pemahaman lintas budaya, serta memperkuat hubungan antarlembaga pendidikan tinggi di kawasan Asia Tenggara. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan gagasan dan hasil kajian akademik mereka dalam forum internasional. Pengalaman tersebut tidak hanya memperkuat kemampuan komunikasi akademik, tetapi juga mendorong keterampilan berpikir kritis, kepercayaan diri, dan kapasitas mahasiswa dalam memahami isu kewarganegaraan dari perspektif global. Dari perspektif SDGs, pelaksanaan kolokium internasional ini sejalan dengan SDG 4, yaitu penyediaan pendidikan berkualitas yang inklusif, relevan, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi global mahasiswa. Forum ini juga mendukung SDG 17 melalui penguatan kemitraan akademik antara perguruan tinggi di Indonesia dan Malaysia sebagai bagian dari kerja sama pendidikan tinggi yang berkelanjutan. Bagi FISH UNJ, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi fakultas dalam memperkuat reputasi akademik internasional melalui mobilitas akademik, pertukaran gagasan ilmiah, serta pengembangan kolaborasi pendidikan dan penelitian. Program Studi PPKN FISH UNJ terus berkomitmen menghadirkan kegiatan akademik yang tidak hanya berorientasi pada penguatan kompetensi keilmuan, tetapi juga pada pembentukan warga global yang kritis, reflektif, dan bertanggung jawab. Dengan terselenggaranya kolokium internasional ini, Program Studi PPKN FISH UNJ berharap kerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri, khususnya Universiti Sains Malaysia, dapat terus diperkuat melalui program akademik berkelanjutan. Kolaborasi ini diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi pengembangan pendidikan kewarganegaraan, penguatan jejaring akademik Asia Tenggara, serta peningkatan daya saing institusi di tingkat global. Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (459) Internasionalisasi (51) Kemahasiswaan (18) Penelitian (15) Pengabdian (11) Pengajaran (30) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (40) Prestasi (7) Prodi (22) Program Unggulan (44) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (22) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
FISH UNJ dan Promedia Group Gelar BRI CoreLab 2026, Dorong Literasi Konten Digital Mahasiswa di Era Media Sosial
Jakarta, 13 Mei 2026 — Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) berkolaborasi dengan Promedia Group menyelenggarakan BRI Content Creator Laboratorium (CoreLab) 2026 di Aula Bung Hatta, Universitas Negeri Jakarta, Jakarta Timur, pada Rabu (13/5). Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami perkembangan industri konten digital, media sosial, serta peluang menjadi kreator dan jurnalis warga di tengah perubahan ekosistem media. Kegiatan BRI CoreLab 2026 menghadirkan sejumlah praktisi media dan industri konten, yaitu CEO Promedia Group Agus Sulistriyono, GM Media Network Promedia Group Agil Hari Santoso, serta Founder Jakarta Kolaborasi Terkini Network (JKTN) Media, Miko Susilo. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh wawasan langsung mengenai dinamika produksi konten, strategi membaca tren media sosial, serta pentingnya kreativitas dalam membangun komunikasi digital yang relevan dengan masyarakat. Dekan FISH UNJ, Firdaus Wajdi, M.A., Ph.D., yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Sumberdaya, Dr. Aris Munandar, M.Si., menyampaikan dukungan terhadap kegiatan yang mempertemukan mahasiswa dengan pelaku industri media. Kolaborasi ini sejalan dengan komitmen FISH UNJ dalam memperkuat pengalaman belajar mahasiswa melalui kegiatan berbasis praktik, jejaring profesional, dan penguatan kompetensi komunikasi di era digital. Dalam pemaparannya, CEO Promedia Group, Agus Sulistriyono, menekankan bahwa mahasiswa perlu memahami peran penting media sosial sebagai ruang utama distribusi konten saat ini. Menurutnya, tren media sosial dapat menjadi acuan bagi para kreator dalam mengembangkan ide, menentukan gaya komunikasi, serta menjangkau audiens secara lebih luas. “Kami lebih menitikberatkan ke platform media sosial, sesuai dengan tren saat ini. Media sosial menjadi salah satu platform yang sangat digemari oleh semua kalangan,” ujar Agus Sulistriyono. Ia berharap kegiatan CoreLab di UNJ dapat mendorong mahasiswa untuk lebih banyak belajar tentang proses pembuatan konten digital yang kreatif, informatif, dan sesuai dengan karakter platform media sosial. Sementara itu, Founder JKTN Media, Miko Susilo, menyoroti peluang mahasiswa untuk berperan sebagai citizen journalist atau jurnalis warga. Ia menjelaskan bahwa konten yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat memiliki potensi besar untuk menarik perhatian publik karena bersentuhan langsung dengan peristiwa dan kebutuhan informasi di sekitar mereka. “Kuncinya, coba buat konten-konten yang relate dengan kehidupan sehari-hari masyarakat,” tutur Miko Susilo. Ia juga menambahkan bahwa perangkat digital yang dimiliki mahasiswa saat ini dapat menjadi modal awal untuk berkarya, membangun kreativitas, dan mengembangkan peluang di industri konten. Melalui kegiatan ini, FISH UNJ memperkuat posisinya sebagai fakultas yang adaptif terhadap perkembangan media dan komunikasi digital. BRI CoreLab 2026 tidak hanya menjadi pelatihan teknis pembuatan konten, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan literasi digital, kreativitas, dan kesiapan mahasiswa menghadapi kebutuhan dunia kerja di sektor media kreatif. Kegiatan ini relevan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4: Quality Education, khususnya dalam mendorong akses pembelajaran yang relevan, aplikatif, dan berorientasi pada keterampilan abad ke-21. Dengan menghadirkan praktisi industri secara langsung ke ruang akademik, FISH UNJ terus berupaya memperluas pengalaman belajar mahasiswa agar mampu menjadi komunikator, kreator, dan warga digital yang kreatif, bertanggung jawab, serta berdampak bagi masyarakat. [] Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (48) Kemahasiswaan (17) Penelitian (14) Pengabdian (10) Pengajaran (29) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (39) Prestasi (6) Prodi (20) Program Unggulan (42) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (22) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
Eurasia UNJ 2026 Dorong Wawasan Global Mahasiswa Melalui Diskusi AI dan Budaya Indonesia – Jepang
Jakarta, 2 Maret 2026 — Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) menyelenggarakan kegiatan The Eurasia International Course 2026 – Session 4 dengan tema “The Impact of AI Technology on The Development of Culture Comparison of Indonesia and Japan”. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Dianni Risda, S.Pd., M.Ed. dari Universitas Pendidikan Indonesia, sebagai narasumber utama yang membahas bagaimana perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memengaruhi dinamika budaya di dua negara dengan karakteristik berbeda, yaitu Indonesia dan Jepang, mulai dari transformasi nilai, pola interaksi masyarakat, hingga adaptasi budaya tradisional di era digital. Acara yang berlangsung di Ruang Serba Guna, Gedung K FISH UNJ. Peserta yang terdiri dari mahasiswa dan civitas akademika mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang untuk memperluas wawasan mengenai dampak perkembangan teknologi AI terhadap budaya, khususnya dalam konteks perbandingan antara Indonesia sebagai negara berkembang dan Jepang sebagai negara maju dengan teknologi tinggi. Kegiatan diawali oleh perwakilan mahasiswa berprestasi (mawapres) Diploma Program Studi Usaha Perjalanan Wisata (UPW) yang bertugas sebagai pembuka acara sebelum memasuki sesi utama. Sesi utama kemudian diisi oleh pemaparan materi dari Dr. Dianni Risda. Pada presentasinya, ia mengajak peserta untuk merefleksikan pandangan umum masyarakat terhadap Jepang. Jepang sering diasosiasikan dengan berbagai simbol budaya dan kemajuan, seperti Gunung Fuji sebagai ikon alam, kimono dan geisha sebagai representasi budaya tradisional, hingga kota Tokyo sebagai pusat modernitas. Selain itu, Jepang juga dikenal melalui anime yang mendunia, industri otomotif yang maju, serta perayaan budaya seperti Hina Matsuri dan Kodomo no Hi. Bahkan dalam bidang teknologi, Jepang telah mengembangkan inovasi seperti HAL (Hybrid Assistive Limb) atau power assist robot yang menunjukkan kemajuan dalam integrasi teknologi dengan kehidupan manusia. Lebih lanjut, Jepang di mata dunia dipandang sebagai negara dengan kemajuan sains dan teknologi yang pesat, sistem pendidikan yang menjunjung tinggi disiplin dan keramahan, serta kemampuan menjaga keseimbangan antara budaya tradisional dan modern. Keindahan alam dan kekuatan budaya pop juga menjadi daya tarik global, di samping budaya kerja yang dikenal kuat dan produktif. Namun demikian, Dr. Dianni juga menyoroti berbagai permasalahan yang dihadapi Jepang, seperti kondisi geografis yang rawan bencana, tantangan demografis berupa populasi menua, keterbatasan sumber daya alam (SDA), hingga isu ekonomi dan sosial yang muncul akibat tekanan modernisasi. Hal ini menjadi poin penting dalam memahami bagaimana teknologi, termasuk AI, berperan dalam membantu mengatasi tantangan tersebut. Dalam penjelasannya mengenai AI, Dr. Dianni mendefinisikan kecerdasan buatan sebagai teknologi yang memungkinkan mesin untuk meniru kemampuan kognitif manusia, seperti belajar, berpikir, dan mengambil keputusan. AI saat ini telah merambah berbagai sektor, termasuk budaya, dimana teknologi ini dapat memengaruhi cara manusia berinteraksi, menciptakan karya, hingga melestarikan tradisi. Pada bagian inti, ia membahas perbandingan pengaruh AI terhadap perkembangan budaya di Indonesia dan Jepang. Jepang dinilai lebih siap dalam mengintegrasikan AI ke dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pelestarian budaya melalui digitalisasi dan inovasi teknologi. Sementara itu, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar, namun masih menghadapi tantangan dalam pemanfaatan teknologi AI secara optimal untuk mendukung pelestarian dan pengembangan budaya tersebut. Sesi tanya jawab menjadi momen interaktif yang dimanfaatkan peserta untuk menggali lebih dalam berbagai isu, mulai dari dampak AI terhadap identitas budaya, peluang kolaborasi teknologi lintas negara, hingga tantangan etika dalam penggunaan AI. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama sesi berlangsung. Sebagai narasumber, Dr. Dianni Risda memiliki pengalaman internasional yang kuat, di antaranya pernah terlibat sebagai penerjemah dalam proyek Japan International Cooperation Agency (JICA) serta menjadi dosen di Nihon University Jepang. Ia juga pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Pengembangan Program Kerja Sama Internasional di UPI Bandung. Pengalaman tersebut memperkuat kompetensinya dalam menjelaskan keterkaitan antara budaya Jepang, etika kerja, dan kemajuan teknologi. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama antara narasumber, panitia, dan seluruh peserta sebagai bentuk dokumentasi dan apresiasi atas terselenggaranya acara, serta pemberian sertifikat dari FISH UNJ kepada Narasumber. Melalui kegiatan ini, FISH UNJ diharapkan selalu mendorong internasionalisasi akademik serta meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap peran teknologi, khususnya AI, dalam membentuk masa depan budaya di tingkat global. Authors: JRPS, NRR, SA Editor: Team FISH Media Center 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (38) Kemahasiswaan (17) Penelitian (9) Pengabdian (10) Pengajaran (28) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (36) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
UNJ Eurasia 2026 Bersama FISH UNJ Soroti Kesenjangan Digital dan Akses Pendidikan di Era Teknologi
Jakarta, 30 Maret 2026 — Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) menyelenggarakan kegiatan The Eurasia International Course 2026 – Session 1 dengan tema “Digital Divide and Accessibility Issues in Educational Problems”. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum dari Universitas Pendidikan Ganesha sebagai narasumber utama yang membahas isu kesenjangan digital serta tantangan aksesibilitas dalam pendidikan, sekaligus menyoroti pentingnya keadilan akses di era digital. Acara yang berlangsung di Ruang Serba Guna, Gedung K FISH UNJ ini dimulai pada pukul 12.58 WIB ini dihadiri peserta yang terdiri dari mahasiswa dan sivitas akademika mengikuti kegiatan sebagai bagian dari penguatan wawasan terkait perkembangan teknologi dan dampaknya dalam kehidupan sosial. Memasuki sesi utama, Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum memaparkan materi mengenai peran teknologi dalam pendidikan. Teknologi dinilai mampu mempermudah akses informasi dan mendukung proses pembelajaran. Namun, masih terdapat kesenjangan akses serta perbedaan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi di berbagai kelompok masyarakat. Pembahasan juga menyoroti relasi gender dalam teknologi. Perempuan masih menghadapi berbagai hambatan, baik dari segi akses maupun stereotip yang berkembang. Laki-laki lebih sering diasosiasikan dengan inovasi dan penguasaan teknologi, sementara perempuan dianggap kurang terlibat. Pandangan ini muncul dari konstruksi sosial yang terus berulang dalam kehidupan sehari-hari. “Teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat, tetapi juga menjadi bagian dari relasi kuasa yang membentuk cara pandang dan posisi seseorang dalam masyarakat,” ujar Ibu Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum. Selain itu, narasumber menjelaskan bahwa teknologi memiliki dua sisi. Dampak positif terlihat dari kemudahan komunikasi dan akses informasi. Dampak negatif muncul dalam bentuk bias gender, ketimpangan akses, serta dominasi kelompok tertentu dalam pemanfaatan teknologi. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi terbuka yang melibatkan peserta secara aktif. Berbagai pertanyaan disampaikan terkait pengaruh teknologi terhadap pemahaman gender di kalangan generasi muda serta peran pendidikan dalam membangun kesadaran kritis. Diskusi ini menjadi ruang untuk memperdalam pemahaman mengenai hubungan antara teknologi, gender, dan pendidikan. Sesi dokumentasi bersama antara narasumber, panitia, dan peserta menjadi penutup kegiatan hari ini. Melalui penyelenggaraan The Eurasia International Course 2026, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) diharapkan dapat memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai kesenjangan digital, aksesibilitas pendidikan, serta mendorong terciptanya pemanfaatan teknologi yang lebih adil dan inklusif. Kegiatan kemudian ditutup dengan closing remarks pada pukul 15.08 WIB yang merangkum poin-poin penting dari pemaparan materi serta diskusi yang telah berlangsung. Sebagai bentuk apresiasi, penyelenggara menyerahkan sertifikat kepada narasumber atas kontribusinya dalam berbagi pengetahuan kepada peserta. Penulis: QJY Editor : TIM FISH MEDIA CENTER 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (37) Kemahasiswaan (17) Penelitian (9) Pengabdian (10) Pengajaran (27) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (36) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
FISH UNJ Sambut Mahasiswa Program SEA Teacher dari Filipina
JAKARTA – Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggelar agenda penyambutan resmi bagi para mahasiswa peserta program SEA Teacher yang ditempatkan di Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS). Pertemuan ini dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 31 Maret 2026, bertempat di Gedung K FISH UNJ. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program pertukaran guru di Asia Tenggara (SEA Teacher) yang bertujuan untuk mempererat kolaborasi pendidikan antarnegara. Pertemuan yang diadakan di Ruang 212 Lantai 2 Gedung K tersebut dimaksudkan sebagai ajang perkenalan sekaligus pemberian sambutan resmi sebelum para peserta memulai kegiatan utama mereka di lingkungan kampus. Kehadiran Delegasi Internasional Terdapat dua mahasiswa asal Filipina yang menjadi tamu utama dalam program kali ini, yaitu: Ayessa Mae Tumabotabo dari West Visayas State University. Vea Grace Baconguis dari Xavier University. Acara penyambutan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan FISH UNJ, di antaranya: Firdaus Wajdi, M.A., Ph.D. (Dekan FISH). Dr. Kurniawati, M.Si. (Wakil Dekan I). Dr. Aris Munandar, M.Si. (Wakil Dekan II). Prof. Dr. Desy Safitri, M.Si. (Koordinator Program Studi S1 Pendidikan IPS) Nandi Kurniawan, M.Pd (Dosen Program Studi S1 Pendidikan IPS). Kehadiran lengkap jajaran pimpinan ini menunjukkan komitmen FISH UNJ dalam mendukung internasionalisasi program studi, khususnya dalam mencetak tenaga pendidik yang memiliki wawasan global melalui kolaborasi dengan universitas-universitas di Asia Tenggara. [] Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (36) Kemahasiswaan (17) Penelitian (9) Pengabdian (10) Pengajaran (26) Pengumuman (3) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (5) Prodi (19) Program Unggulan (36) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
UNJ EURASIA 2026 DORONG INTERNASIONALISASI FISH UNJ MELALUI PEMBAHASAN FRAMEWORK TEKNOLOGI DIGITAL DALAM DIGITAL SOCIOLOGY
Jakarta, 9 Maret 2026 — Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) menyelenggarakan kegiatan The Eurasia International Course 2026 – Session 2 dengan tema “Theoretical Framework in Digital Sociology.” Kegiatan ini menghadirkan Dr. Rusfadia Saktiyanti Jahja, M.Si., Koordinator Program Studi Sosiologi UNJ, sebagai narasumber utama yang membahas berbagai perspektif teoritis untuk memahami bagaimana teknologi digital membentuk interaksi sosial, identitas, serta dinamika masyarakat kontemporer. Dalam pemaparannya, Dr. Rusfadia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar pada cara masyarakat berinteraksi, berkomunikasi, serta membangun relasi sosial. Oleh karena itu, kajian sosiologi digital menjadi penting untuk memahami dampak teknologi terhadap kehidupan sosial secara lebih mendalam. Menurutnya, sosiologi digital tidak hanya mempelajari penggunaan teknologi, tetapi juga menelaah bagaimana teknologi memengaruhi struktur sosial, pola komunikasi, hingga pembentukan identitas individu di ruang digital. Dr. Rusfadia menekankan beberapa alasan penting mengapa sosiologi digital perlu dipelajari. Pertama, untuk memahami dampak teknologi terhadap masyarakat secara luas. Kedua, untuk mengkaji perubahan pola interaksi sosial dan ruang sosial yang kini banyak terjadi di dunia digital. Ketiga, untuk mempelajari fenomena-fenomena baru yang muncul di ruang digital seperti hoaks, perundungan siber (cyber bullying), dan kejahatan siber (cybercrime). Keempat, kajian ini juga penting dalam proses perumusan kebijakan publik agar mampu merespons perubahan sosial yang dipicu oleh perkembangan teknologi. Selain membahas urgensi sosiologi digital, Rusfadia juga menguraikan berbagai perubahan struktural yang terjadi dalam masyarakat digital. Salah satu perubahan yang paling terlihat terjadi pada institusi keluarga. Menurutnya, teknologi digital telah mempermudah komunikasi dalam keluarga, terutama melalui penggunaan video call dan pesan instan yang memungkinkan anggota keluarga tetap berinteraksi meskipun berada di lokasi yang berjauhan. Perubahan serupa juga terjadi dalam dunia kerja. Rusfadia menjelaskan bahwa kemajuan teknologi telah memungkinkan munculnya sistem kerja jarak jauh atau remote work, yang mengubah dinamika kerja konvensional. Pekerja kini tidak selalu harus hadir secara fisik di kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Selain itu, perkembangan platform digital juga melahirkan fenomena gig economy, yaitu sistem ekonomi berbasis proyek atau pekerjaan sementara yang difasilitasi oleh platform digital. Dalam sistem ini, individu dapat mengambil pekerjaan jangka pendek tanpa harus terikat dalam hubungan kerja tetap. Dalam kajian sosiologi digital, Rusfadia juga menyoroti beberapa konsep penting yang menjadi fokus penelitian. Salah satunya adalah isu akses terhadap informasi. Ia menjelaskan bahwa kemiskinan informasi tidak hanya berkaitan dengan kepemilikan perangkat teknologi, tetapi juga terkait dengan kemampuan individu dalam mengakses, memproses, dan memanfaatkan informasi secara efektif. Konsep lain yang dibahas adalah public sphere atau ruang publik digital. Dalam konteks ini, Rusfadia mengutip pemikiran sosiolog Colin Sparks yang menekankan dua unsur penting dalam ruang publik, yaitu adanya jaminan akses bagi seluruh warga serta hak masyarakat untuk bernegosiasi dan berpartisipasi secara bebas dalam diskursus publik. Di akhir pemaparannya, Rusfadia menyoroti pentingnya analisis big data dalam penelitian sosial kontemporer. Big data umumnya dipahami sebagai kumpulan data dalam jumlah besar yang memiliki karakteristik beragam, kompleks, dan sering kali tidak terstruktur. Metode analisis big data awalnya berkembang dalam ilmu pengetahuan alam, namun kini telah banyak digunakan dalam berbagai bidang seperti bisnis, industri permainan video, hingga ilmu sosial. Kegiatan The Eurasia International Course 2026 – Session 2 ini diharapkan dapat memperluas pemahaman mahasiswa dan akademisi mengenai perkembangan sosiologi digital serta implikasinya terhadap kehidupan sosial di era teknologi. Selain itu, diskusi yang berlangsung juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan mengenai bagaimana ilmu sosial dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital yang terus berkembang. [] Penulis: AF, GS, SS Editor: TIM FISH MEDIA CENTER 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (35) Kemahasiswaan (17) Penelitian (9) Pengabdian (10) Pengajaran (25) Pengumuman (3) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (5) Prodi (19) Program Unggulan (36) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
UNJ Eurasia 2026 Dorong Internasionalisasi FISH UNJ Melalui Pembahasan AI dan Industri Kreatif Asia Tenggara
Jakarta, 2 Maret 2026 — Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) menyelenggarakan kegiatan The Eurasia International Course 2026 – Session 1 dengan tema “Information Society, Artificial Intelligence, and Creative Industries in Southeast Asia”. Kegiatan ini menghadirkan Assoc. Prof. Asawin Nedpogaeo, Ph.D. dari National Institute of Development Administration (NIDA), Thailand, sebagai narasumber utama yang membahas perkembangan masyarakat informasi serta peran kecerdasan buatan dalam industri kreatif di kawasan Asia Tenggara. Acara yang berlangsung di Ruang Serba Guna, Gedung K FISH UNJ ini dimulai pada pukul 12.45 WIB dengan sesi registrasi peserta sekaligus pengecekan teknis. Peserta yang terdiri dari mahasiswa dan sivitas akademika mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang untuk memperluas wawasan mengenai transformasi digital dan dampaknya terhadap perkembangan industri kreatif di era teknologi. Memasuki pukul 13.00 WIB, kegiatan resmi dibuka oleh pembawa acara yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari pihak penyelenggara atau perwakilan departemen pada pukul 13.05 WIB. Dalam sambutannya, penyelenggara menyampaikan pentingnya kolaborasi akademik internasional dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, khususnya terkait pemanfaatan kecerdasan buatan di berbagai sektor. Sesi utama berupa public lecture oleh Assoc. Prof. Asawin Nedpogaeo yang berlangsung mulai pukul 13.10 hingga 13.55 WIB. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bagaimana konsep information society berkembang seiring dengan kemajuan teknologi digital serta bagaimana kecerdasan buatan mulai memainkan peran strategis dalam mendorong inovasi di sektor industri kreatif. Ia juga menyoroti peluang dan tantangan yang dihadapi negara-negara di Asia Tenggara dalam memanfaatkan teknologi tersebut secara optimal. Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan panel discussion atau diskusi terarah pada pukul 13.55 hingga 14.25 WIB. Pada sesi ini, berbagai pandangan dan perspektif mengenai pemanfaatan teknologi digital serta implikasinya terhadap ekonomi kreatif dibahas secara lebih mendalam. Diskusi ini menjadi ruang bagi peserta untuk memahami isu tersebut dari sudut pandang akademik maupun praktik. Interaksi dengan peserta semakin aktif pada sesi tanya jawab yang berlangsung pukul 14.25 hingga 14.50 WIB. Para peserta memanfaatkan kesempatan ini untuk mengajukan berbagai pertanyaan terkait perkembangan kecerdasan buatan, transformasi digital, serta peluang pengembangan industri kreatif di kawasan Asia Tenggara. Kegiatan kemudian ditutup dengan closing remarks pada pukul 14.50 WIB yang merangkum poin-poin penting dari diskusi yang telah berlangsung. Sebagai bentuk apresiasi, penyelenggara juga menyerahkan sertifikat kepada narasumber atas kontribusinya dalam berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada peserta. Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan panel discussion atau diskusi terarah pada pukul 13.55 hingga 14.25 WIB. Pada sesi ini, berbagai pandangan dan perspektif mengenai pemanfaatan teknologi digital serta implikasinya terhadap ekonomi kreatif dibahas secara lebih mendalam. Diskusi ini menjadi ruang bagi peserta untuk memahami isu tersebut dari sudut pandang akademik maupun praktik. Interaksi dengan peserta semakin aktif pada sesi tanya jawab yang berlangsung pukul 14.25 hingga 14.50 WIB. Para peserta memanfaatkan kesempatan ini untuk mengajukan berbagai pertanyaan terkait perkembangan kecerdasan buatan, transformasi digital, serta peluang pengembangan industri kreatif di kawasan Asia Tenggara. Kegiatan kemudian ditutup dengan closing remarks pada pukul 14.50 WIB yang merangkum poin-poin penting dari diskusi yang telah berlangsung. Sebagai bentuk apresiasi, penyelenggara juga menyerahkan sertifikat kepada narasumber atas kontribusinya dalam berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada peserta. Sesi dokumentasi bersama antara narasumber, panitia, dan peserta kegiatan menjadi penutup kegiatan hari ini. Melalui penyelenggaraan The Eurasia International Course 2026, FISH UNJ berharap dapat memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus mendorong peningkatan pemahaman mahasiswa mengenai perkembangan teknologi, masyarakat informasi, dan peluang industri kreatif di tingkat regional maupun global. Penulis: JRPS, BMF, LM Editor: TIM FISH MEDIA CENTER 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (34) Kemahasiswaan (17) Penelitian (9) Pengabdian (10) Pengajaran (24) Pengumuman (3) Penjaminan Mutu (37) Prestasi (5) Prodi (19) Program Unggulan (35) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
UNJ Eurasia 2026 sebagai Tonggak Internasionalisasi FISH UNJ Menuju Fakultas Berkelas Dunia
UNJ Eurasia 2026 menegaskan komitmen FISH UNJ untuk tidak sekadar mengikuti arus transformasi global, melainkan turut membentuk arah percakapan akademik internasional tentang kecerdasan buatan, digitalisasi, serta masa depan masyarakat. Kolaborasi lintas negara melalui Eurasia Lecturer Series 2026 membuktikan bahwa visi menjadi fakultas berkelas dunia yang unggul, kompetitif, serta berkarakter diwujudkan melalui jejaring nyata, dialog ilmiah kritis, serta kontribusi pada pencapaian SDGs. Forum ini memperlihatkan bahwa pendidikan ilmu sosial serta hukum memiliki peran strategis memastikan transformasi teknologi tetap berorientasi pada kemanusiaan, keadilan, serta keberlanjutan global. UNJ Eurasia 2026: Kolaborasi Global Menjawab Tantangan Transformasi Digital Program Eurasia Lecturer Series 2026 menjadi momentum strategis bagi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) dalam memperkuat jejaring akademik lintas kawasan Asia–Eropa. Kolaborasi antara Eurasia Foundation (from Asia) bersama FISH UNJ menghadirkan forum intelektual berskala internasional bertajuk “Navigating the Uncertain Futures: Understanding the Transformative Impacts of Artificial Intelligence and Digitalization to Global Society.” Kegiatan ini berlangsung setiap Senin, 2 Maret hingga 22 Juni 2026, bertempat Ruang Serba Guna FISH UNJ serta disiarkan langsung melalui kanal resmi FISH UNJ. UNJ Eurasia 2026 menghadirkan akademisi ternama lintas negara seperti Thailand, Malaysia, Jepang, Australia, Italia, Korea, Taiwan, serta berbagai universitas terkemuka Indonesia. Kehadiran para profesor, associate professor, hingga praktisi kebijakan publik menghadirkan perspektif multidisipliner terkait kecerdasan buatan, transformasi digital, tata kelola global, pendidikan, komunikasi, hingga isu sosial kontemporer. Forum ini tidak sekadar ceramah akademik, melainkan ruang dialog reflektif guna memetakan masa depan masyarakat global yang semakin terdigitalisasi. Transformasi digital menghadirkan peluang sekaligus risiko. Perubahan lanskap kerja, redefinisi otoritas pengetahuan, krisis etika algoritmik, hingga disrupsi relasi sosial menjadi isu krusial abad ke-21. Melalui UNJ Eurasia 2026, diskursus akademik diarahkan bukan hanya pada aspek teknis AI, melainkan juga implikasi sosial, hukum, budaya, serta dimensi kemanusiaan. Pendekatan ini sejalan karakter FISH UNJ sebagai fakultas ilmu sosial serta hukum yang menempatkan manusia sebagai pusat transformasi. Kontribusi terhadap SDGs serta Penguatan Jejaring Akademik Global Keterkaitan UNJ Eurasia 2026 terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) tampak jelas pada beberapa tujuan utama. SDG 4 tentang Quality Education terefleksikan melalui akses pembelajaran internasional bagi mahasiswa serta dosen FISH UNJ. Interaksi langsung bersama akademisi mancanegara memperkaya wawasan global, meningkatkan literasi digital, serta mendorong kultur akademik berbasis riset kolaboratif. SDG 9 tentang Industry, Innovation and Infrastructure tercermin pada diskusi inovasi teknologi serta transformasi institusi pendidikan menghadapi era AI. SDG 16 mengenai Peace, Justice and Strong Institutions hadir melalui pembahasan tata kelola digital, etika kecerdasan buatan, serta regulasi global. Komitmen tersebut menguatkan Visi FISH UNJ: menjadi fakultas berkelas dunia yang unggul, kompetitif, serta berkarakter dalam bidang pendidikan ilmu sosial, ilmu-ilmu sosial, serta ilmu hukum. Keunggulan akademik dibangun melalui transfer pengetahuan lintas negara. Daya saing diperkuat melalui jejaring internasional Eurasia Foundation. Karakter akademik dibentuk melalui diskusi etis mengenai dampak sosial teknologi. Forum ini juga menjadi langkah konkret internasionalisasi kampus. Publikasi bersama, peluang riset kolaboratif, mobilitas akademik, hingga penguatan reputasi institusi menjadi potensi turunan jangka panjang. Mahasiswa memperoleh kesempatan berdialog langsung bersama pakar global, membuka horizon berpikir kritis terkait masa depan pekerjaan, kebijakan publik, keamanan digital, serta transformasi komunikasi global. Keberadaan pembicara lintas disiplin menunjukkan bahwa isu AI bukan sekadar domain teknik, melainkan wilayah interdisipliner yang menyentuh hukum, kebijakan publik, komunikasi, budaya, pendidikan, serta pembangunan sosial. Perspektif Asia–Eropa memperkaya pendekatan Global South sekaligus membuka ruang refleksi kritis terhadap ketimpangan digital global. UNJ Eurasia 2026 menjadi simbol keberanian akademik FISH UNJ menavigasi masa depan tak pasti. Tantangan disrupsi teknologi tidak direspons secara reaktif, melainkan melalui forum ilmiah terstruktur berbasis dialog internasional. Strategi ini memperlihatkan komitmen nyata menuju fakultas berkelas dunia, bukan sekadar slogan, tetapi melalui praktik kolaboratif konkret. Arah masa depan pendidikan ilmu sosial tidak dapat dilepaskan dari transformasi digital. Forum Eurasia Lecturer Series 2026 memperlihatkan bahwa FISH UNJ menempatkan diri sebagai aktor aktif percakapan global. Jejaring Eurasia membuka ruang pembelajaran lintas budaya, lintas kebijakan, serta lintas perspektif. UNJ Eurasia 2026 bukan hanya agenda akademik semesteran. Program ini merupakan investasi reputasi, kualitas, serta visi global FISH UNJ menuju 2045. Upaya tersebut mempertegas posisi FISH UNJ sebagai pusat keilmuan sosial serta hukum yang adaptif, reflektif, serta berorientasi pada pembangunan berkelanjutan (NHI/ENP). Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (33) Kemahasiswaan (17) Penelitian (8) Pengabdian (10) Pengajaran (23) Pengumuman (3) Penjaminan Mutu (36) Prestasi (5) Prodi (19) Program Unggulan (34) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru