Bangkok, 29 April 2026 — Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) turut berpartisipasi dalam TMF Journal Conference 2025/2026 yang diselenggarakan oleh Thai Media Fund bekerja sama dengan Graduate School of Communication Arts and Management Innovation, National Institute of Development Administration (NIDA), Thailand. Konferensi ini berlangsung pada Rabu, 29 April 2026, di The Berkeley Hotel Pratunam, Bangkok, dengan mengusung tema “Advancing Knowledge in Creative Media: Research, Innovation, and Collaboration for Responsible Communication.” Kegiatan ini menjadi penyelenggaraan ke-4 untuk konferensi tingkat nasional dan sekaligus konferensi internasional pertama yang diinisiasi oleh Thai Media Fund dan NIDA. FISH UNJ hadir sebagai salah satu institusi mitra dalam jejaring kerja sama akademik internasional bersama berbagai perguruan tinggi dan lembaga dari Thailand serta negara mitra lainnya. Secara keseluruhan, konferensi ini melibatkan 41 partner institutions atau co-hosts, termasuk institusi dari China, Pakistan, Korea Selatan, Indonesia, dan India. Konferensi ini menjadi ruang penting bagi akademisi, peneliti, praktisi media, serta lembaga profesional untuk mendiskusikan perkembangan media kreatif, inovasi komunikasi, literasi media, jurnalisme, serta tantangan etika komunikasi di era digital dan kecerdasan artifisial. Pada tahun ini, TMF Journal Conference menerima 84 artikel ilmiah dari peneliti domestik dan internasional. Setelah melalui proses seleksi, sebanyak 26 makalah dari Thailand dan 21 makalah dari China, Pakistan, Korea Selatan, Indonesia, dan India dipresentasikan dalam forum ilmiah tersebut. Pembukaan konferensi diawali dengan laporan dari Associate Professor Dr. Asawin Nedpogaeo, Dean of the Graduate School of Communication Arts and Management Innovation, NIDA. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas institusi dalam membangun ekosistem media yang aman, kreatif, dan bertanggung jawab. Sementara itu, Dr. Dhanakorn Srisooksai, Chief Executive Officer Thai Media Fund, dalam pidato pembukaannya menyoroti pentingnya peran Thai Media Fund dalam membantu masyarakat dan praktisi media menghadapi perubahan lanskap komunikasi yang semakin dipengaruhi oleh digitalisasi dan kecerdasan artifisial. Konferensi ini juga menghadirkan dua pembicara utama. Professor Masato Kajimoto dari School of Future Media, The University of Hong Kong, menyampaikan keynote berjudul “Teaching Resilience: Re-imagining Media Education for an Integrity-Driven Information Future.” Ia menekankan pentingnya pendidikan media dalam membangun generasi muda yang mampu berpikir kritis, memverifikasi informasi, serta memahami bahwa keadilan dalam pemberitaan tidak selalu sama dengan sekadar menghadirkan keseimbangan secara formal. Pembicara utama kedua, Steven Gan, Co-founder Malaysiakini, menyampaikan materi bertajuk “Innovating for Integrity: How Digital Media is Transforming Investigative Journalism and Press Freedom in Asia.” Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa jurnalisme memiliki peran penting dalam menjaga demokrasi, keadilan, dan kebebasan publik. Menurutnya, transformasi digital tidak boleh menghilangkan fungsi utama jurnalisme sebagai ruang untuk menyuarakan kelompok yang terpinggirkan dan mengawasi kekuasaan. Sesi panel khusus bertajuk “Creative and Responsible Media in the Age of Artificial Intelligence” turut memperkaya diskusi konferensi. Panel ini menghadirkan sejumlah tokoh media dan akademisi, antara lain Ms. Supinya Klangnarong, Co-founder COFACT Thailand; Mr. Rawee Tawantharong, Committee Member Thai Media Fund; dan Mr. Chavarong Limpattamapanee, Chairman of the National Press Council of Thailand sekaligus Senior Media Scholar. Diskusi dimoderatori oleh Assoc. Prof. Dr. Warat Karuchit dari NIDA. Para panelis menyoroti pentingnya posisi jurnalisme di tengah berkembangnya ekosistem kreator konten, terutama dalam menjaga akurasi informasi, etika publik, dan keberpihakan pada suara masyarakat yang kurang terwakili. Wakil Dekan III Bidang Riset, Inovasi, Sistem Informasi dan Kerjasama FISH UNJ, Dr. E. Nugrahaeni P.S., M.Si., mengapresiasi penyelenggaraan konferensi ini sebagai bagian dari penguatan jejaring akademik global FISH UNJ. “FISH UNJ mengapresiasi terselenggaranya TMF Journal Conference 2025/2026 ini yang menjadi ruang strategis bagi perguruan tinggi untuk terlibat dalam diskusi global mengenai media kreatif, inovasi komunikasi, serta tanggung jawab etis di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial. Kehadiran FISH UNJ sebagai bagian dari jejaring partner institutions mencerminkan komitmen kami untuk terus memperluas kolaborasi internasional, memperkuat budaya riset, dan menghadirkan kontribusi akademik yang relevan bagi masyarakat global,” ujar Dr. E. Nugrahaeni P.S., M.Si. Partisipasi FISH UNJ dalam konferensi ini sejalan dengan komitmen fakultas dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 16 tentang perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh, serta SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan. Melalui keterlibatan dalam forum akademik internasional, FISH UNJ berperan dalam memperkuat literasi media, mendorong riset komunikasi yang bertanggung jawab, serta membangun jejaring kolaboratif lintas negara. Kehadiran FISH UNJ dalam TMF Journal Conference 2025/2026 juga mempertegas peran fakultas dalam mengembangkan kajian ilmu sosial, hukum, dan komunikasi yang responsif terhadap perubahan global. Di tengah perkembangan teknologi, media digital, dan kecerdasan artifisial, FISH UNJ terus mendorong kontribusi akademik yang tidak hanya berorientasi pada inovasi, tetapi juga pada nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan tanggung jawab publik. Konferensi ini menegaskan bahwa kemajuan teknologi dapat mengubah cara kerja media, tetapi tidak boleh menghilangkan semangat utama komunikasi publik: menjaga kebenaran, memperjuangkan keadilan, serta memastikan bahwa ruang media tetap menjadi ruang yang aman, kreatif, inklusif, dan bertanggung jawab bagi masyarakat global. [] Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (459) Internasionalisasi (49) Kemahasiswaan (17) Penelitian (15) Pengabdian (10) Pengajaran (29) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (39) Prestasi (6) Prodi (20) Program Unggulan (43) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (22) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
Prodi S1 dan S2 Pendidikan Sejarah FISH UNJ Gelar Workshop Kurikulum Berbasis SDGs untuk Perkuat Relevansi Lulusan
Jakarta, 10 Mei 2026 — Program Studi S1 dan S2 Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) menyelenggarakan Workshop Pengembangan Kurikulum Berbasis Sustainable Development Goals (SDGs) pada Sabtu–Minggu, 9–10 Mei 2026, di Ruang Rapat 801 Gedung M. Syafei UNJ. Kegiatan ini menjadi langkah strategis Prodi Pendidikan Sejarah FISH UNJ dalam memperkuat kurikulum agar semakin adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, tantangan global, kebutuhan dunia kerja, serta arah pembangunan berkelanjutan. Workshop ini diikuti oleh dosen, mahasiswa, alumni, stakeholder, organisasi profesi, Asosiasi Guru Sejarah Indonesia, serta perwakilan MGMP Sejarah. Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan komitmen Prodi Pendidikan Sejarah FISH UNJ dalam membangun kurikulum yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat, dunia pendidikan, dan sektor profesional kontemporer. Kegiatan menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Dr. Tarunasena, M.Pd. dari Program Studi Pendidikan Sejarah FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia dan Dr. Abrar, M.Hum. dari Program Studi Pendidikan Sejarah FISH UNJ. Keduanya memberikan penguatan konseptual dan praktis mengenai pentingnya integrasi SDGs dalam kurikulum pendidikan sejarah di perguruan tinggi. Pada hari pertama, Dr. Abrar, M.Hum. menyampaikan materi mengenai integrasi SDGs dalam pembelajaran sejarah. Ia menekankan bahwa pendidikan sejarah memiliki peran penting dalam membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap berbagai persoalan global, seperti perubahan iklim, ketimpangan sosial, konflik kemanusiaan, kesetaraan gender, hingga isu pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, sejarah tidak hanya berfungsi untuk memahami masa lalu, tetapi juga menjadi ruang reflektif untuk membaca tantangan masa kini dan masa depan. Integrasi SDGs dalam pembelajaran sejarah dapat dilakukan melalui penguatan studi kasus historis, pembelajaran berbasis isu, refleksi sosial, serta pengembangan proyek pembelajaran yang berkaitan dengan lingkungan dan masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran sejarah diharapkan mampu membentuk peserta didik yang memiliki karakter, kepedulian sosial, tanggung jawab global, dan kemampuan berpikir kritis. Selain pemaparan materi, hari pertama juga diisi dengan sesi diskusi dan dengar pendapat alumni mengenai relevansi kurikulum dengan dunia kerja. Para alumni memberikan berbagai masukan terkait pentingnya kurikulum yang lebih responsif terhadap perkembangan teknologi, isu lingkungan, perubahan sosial global, serta dinamika kebutuhan profesi lulusan Pendidikan Sejarah. Dalam sesi tersebut, peserta menyoroti perlunya perluasan orientasi lulusan Pendidikan Sejarah agar tidak hanya terfokus pada profesi guru, tetapi juga mampu menjangkau berbagai bidang kerja lain yang relevan. Sejumlah peluang profesi yang menjadi perhatian antara lain edukator museum, kurator museum, pamong budaya, pengelola cagar budaya, peneliti sejarah, penulis populer, jurnalis, tenaga arsip, pengembang konten edukasi, hingga profesi di sektor industri kreatif dan media. Masukan dari alumni dan stakeholder memperkuat pentingnya pengembangan kompetensi multidisipliner bagi mahasiswa Pendidikan Sejarah. Lulusan diharapkan tidak hanya memiliki penguasaan substansi keilmuan sejarah, tetapi juga keterampilan praktis seperti komunikasi publik, literasi digital, penulisan ilmiah dan populer, kepemimpinan, manajemen kegiatan, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan dunia kerja. Pada hari kedua, Dr. Tarunasena, M.Pd. menyampaikan materi mengenai urgensi pengembangan kurikulum berbasis SDGs. Ia menjelaskan bahwa perguruan tinggi perlu mengintegrasikan aspek pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam kerangka SDGs sebagai bagian dari tanggung jawab akademik dan sosial. Menurutnya, program studi perlu membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap isu kemanusiaan, lingkungan, kebudayaan, dan pembangunan berkelanjutan. Dr. Tarunasena, M.Pd. juga merekomendasikan pengembangan mata kuliah tematik yang relevan dengan tantangan global kontemporer, seperti Sejarah Lingkungan, Sejarah Gender, Sejarah Diplomasi, Sejarah Maritim, serta kajian sejarah tematik lainnya. Pengembangan mata kuliah tersebut dinilai penting untuk memperluas perspektif mahasiswa terhadap isu global sekaligus memperkuat relevansi keilmuan sejarah dalam konteks kehidupan modern. Kegiatan hari kedua turut menghadirkan sesi masukan dari organisasi profesi yang disampaikan oleh Dr. Sumardiansyah Perdana Kusuma, M.Pd. dari Asosiasi Guru Sejarah Indonesia. Dalam paparannya, ia menjelaskan berbagai bentuk advokasi yang dilakukan organisasi profesi guru sejarah dalam memperjuangkan keberadaan dan penguatan mata pelajaran sejarah di tingkat pendidikan dasar dan menengah. Ia menegaskan bahwa mata pelajaran sejarah memiliki posisi penting dalam membangun identitas nasional, kesadaran kebangsaan, dan karakter generasi muda. Oleh karena itu, pendidikan sejarah perlu terus diperkuat melalui pengembangan kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran, serta penguatan profesionalisme guru sejarah di Indonesia. Selain dari organisasi profesi, stakeholder dari sektor museum dan media juga memberikan masukan mengenai kebutuhan kompetensi lulusan Pendidikan Sejarah. Mereka menekankan bahwa lulusan sejarah saat ini perlu dibekali kemampuan komunikasi profesional, public speaking, pengelolaan media digital, dan keterampilan menulis agar mampu bersaing di sektor pendidikan, kebudayaan, media, dan dunia usaha dunia industri. Sebagai penutup, peserta bersama narasumber melakukan sesi review dan evaluasi terhadap kurikulum lama Program Studi Pendidikan Sejarah. Sesi ini menjadi ruang reflektif bagi dosen, alumni, mahasiswa, organisasi profesi, dan stakeholder untuk memberikan saran, kritik konstruktif, serta rekomendasi pengembangan kurikulum yang lebih kontekstual dengan prinsip SDGs dan kebutuhan pasar kerja. Melalui workshop ini, Prodi S1 dan S2 Pendidikan Sejarah FISH UNJ menegaskan komitmennya dalam menghadirkan kurikulum yang inovatif, adaptif, dan berorientasi pada masa depan. Kegiatan ini sekaligus memperkuat posisi FISH UNJ sebagai fakultas yang aktif mengembangkan pendidikan berbasis relevansi sosial, keberlanjutan, dan kebutuhan dunia kerja, serta mendukung lahirnya lulusan Pendidikan Sejarah yang kritis, berkarakter, kompetitif, dan memiliki kontribusi nyata bagi masyarakat. Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (459) Internasionalisasi (48) Kemahasiswaan (17) Penelitian (14) Pengabdian (10) Pengajaran (29) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (39) Prestasi (6) Prodi (20) Program Unggulan (43) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (22) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
FISH UNJ dan Promedia Group Gelar BRI CoreLab 2026, Dorong Literasi Konten Digital Mahasiswa di Era Media Sosial
Jakarta, 13 Mei 2026 — Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) berkolaborasi dengan Promedia Group menyelenggarakan BRI Content Creator Laboratorium (CoreLab) 2026 di Aula Bung Hatta, Universitas Negeri Jakarta, Jakarta Timur, pada Rabu (13/5). Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami perkembangan industri konten digital, media sosial, serta peluang menjadi kreator dan jurnalis warga di tengah perubahan ekosistem media. Kegiatan BRI CoreLab 2026 menghadirkan sejumlah praktisi media dan industri konten, yaitu CEO Promedia Group Agus Sulistriyono, GM Media Network Promedia Group Agil Hari Santoso, serta Founder Jakarta Kolaborasi Terkini Network (JKTN) Media, Miko Susilo. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh wawasan langsung mengenai dinamika produksi konten, strategi membaca tren media sosial, serta pentingnya kreativitas dalam membangun komunikasi digital yang relevan dengan masyarakat. Dekan FISH UNJ, Firdaus Wajdi, M.A., Ph.D., yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Sumberdaya, Dr. Aris Munandar, M.Si., menyampaikan dukungan terhadap kegiatan yang mempertemukan mahasiswa dengan pelaku industri media. Kolaborasi ini sejalan dengan komitmen FISH UNJ dalam memperkuat pengalaman belajar mahasiswa melalui kegiatan berbasis praktik, jejaring profesional, dan penguatan kompetensi komunikasi di era digital. Dalam pemaparannya, CEO Promedia Group, Agus Sulistriyono, menekankan bahwa mahasiswa perlu memahami peran penting media sosial sebagai ruang utama distribusi konten saat ini. Menurutnya, tren media sosial dapat menjadi acuan bagi para kreator dalam mengembangkan ide, menentukan gaya komunikasi, serta menjangkau audiens secara lebih luas. “Kami lebih menitikberatkan ke platform media sosial, sesuai dengan tren saat ini. Media sosial menjadi salah satu platform yang sangat digemari oleh semua kalangan,” ujar Agus Sulistriyono. Ia berharap kegiatan CoreLab di UNJ dapat mendorong mahasiswa untuk lebih banyak belajar tentang proses pembuatan konten digital yang kreatif, informatif, dan sesuai dengan karakter platform media sosial. Sementara itu, Founder JKTN Media, Miko Susilo, menyoroti peluang mahasiswa untuk berperan sebagai citizen journalist atau jurnalis warga. Ia menjelaskan bahwa konten yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat memiliki potensi besar untuk menarik perhatian publik karena bersentuhan langsung dengan peristiwa dan kebutuhan informasi di sekitar mereka. “Kuncinya, coba buat konten-konten yang relate dengan kehidupan sehari-hari masyarakat,” tutur Miko Susilo. Ia juga menambahkan bahwa perangkat digital yang dimiliki mahasiswa saat ini dapat menjadi modal awal untuk berkarya, membangun kreativitas, dan mengembangkan peluang di industri konten. Melalui kegiatan ini, FISH UNJ memperkuat posisinya sebagai fakultas yang adaptif terhadap perkembangan media dan komunikasi digital. BRI CoreLab 2026 tidak hanya menjadi pelatihan teknis pembuatan konten, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan literasi digital, kreativitas, dan kesiapan mahasiswa menghadapi kebutuhan dunia kerja di sektor media kreatif. Kegiatan ini relevan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4: Quality Education, khususnya dalam mendorong akses pembelajaran yang relevan, aplikatif, dan berorientasi pada keterampilan abad ke-21. Dengan menghadirkan praktisi industri secara langsung ke ruang akademik, FISH UNJ terus berupaya memperluas pengalaman belajar mahasiswa agar mampu menjadi komunikator, kreator, dan warga digital yang kreatif, bertanggung jawab, serta berdampak bagi masyarakat. [] Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (48) Kemahasiswaan (17) Penelitian (14) Pengabdian (10) Pengajaran (29) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (39) Prestasi (6) Prodi (20) Program Unggulan (42) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (22) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
FISH UNJ Tingkatkan Kompetensi Tenaga Kependidikan Lewat Pelatihan Bahasa Inggris
Rilis Resmi 12 Mei 2026 Jakarta, 12 Mei 2026 — Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Jakarta secara resmi menutup program Pelatihan Bahasa Inggris bagi Tenaga Kependidikan (Tendik) pada Selasa, 12 Mei 2026. Program yang berlangsung selama 15 kali pertemuan ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan fakultas dalam meningkatkan kualitas dan kompetensi sumber daya manusia di lingkungan akademik. Pelatihan ini dirancang untuk memperkuat kemampuan komunikasi bahasa Inggris para tenaga kependidikan — baik dalam konteks pelayanan akademik maupun administrasi — guna merespons tuntutan dunia pendidikan yang semakin berskala global. Peserta dibekali dengan materi yang mencakup dasar-dasar komunikasi hingga praktik percakapan sehari-hari, dengan penekanan pada tiga aspek utama: kemampuan berbicara (speaking), menyimak (listening), serta penguasaan kosakata yang relevan dengan lingkungan kerja. “Pelatihan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan bahasa, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri para tenaga kependidikan dalam berkomunikasi secara profesional menggunakan bahasa Inggris.” — Pihak Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, UNJ Dalam acara penutupan, pimpinan fakultas menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan pengajar yang telah berkontribusi aktif dalam menyukseskan program ini. Antusiasme dan konsistensi kehadiran para peserta selama pelatihan dinilai sebagai cerminan kesungguhan dalam meningkatkan kompetensi diri. Dengan berakhirnya program ini, FISH UNJ menegaskan harapan agar pelatihan serupa dapat diselenggarakan secara berkelanjutan. Pengembangan kompetensi tenaga kependidikan dipandang sebagai investasi strategis dalam mendukung kualitas layanan dan atmosfer akademik yang profesional di tingkat fakultas maupun universitas. 15 Pertemuan 3 Fokus kompetensi 2026 Program berjalan Tentang FISH UNJ — Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta menyelenggarakan pendidikan tinggi di bidang ilmu sosial, hukum, dan komunikasi, dengan komitmen terhadap pengembangan sumber daya manusia yang profesional dan berdaya saing global. Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (48) Kemahasiswaan (17) Penelitian (14) Pengabdian (10) Pengajaran (28) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (39) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (41) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (22) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
Eurasia International Course 2026 Sesi 9 Soroti Peran AI dalam Transformasi Pendidikan dan Keterampilan Mahasiswa
Jakarta, 11 Mei 2026 — Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kembali menyelenggarakan The Eurasia International Course 2026 sesi ke-9 dengan tema “Digitalization and AI Impact on Education and Skill Development.” Kegiatan ini berlangsung pada Senin, 11 Mei 2026, pukul 13.00–15.00 WIB secara hybrid, yaitu luring di Ruang Serba Guna, Gedung K FISH UNJ, serta daring melalui platform Zoom. Seminar internasional ini menghadirkan Prof. Madya Dr. H. Zainudin bin H. Hassan dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM) sebagai pembicara utama. Materi disampaikan dalam Bahasa Malaysia dan Bahasa Inggris, dengan Noprita Herari, M.I.Kom. sebagai moderator yang memandu jalannya diskusi. Pada sesi ini, peserta diajak untuk merefleksikan bagaimana dunia pendidikan perlu beradaptasi dalam membekali mahasiswa dengan keterampilan yang relevan di tengah perkembangan digitalisasi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Tema ini menjadi penting karena transformasi teknologi tidak hanya memengaruhi cara manusia belajar, tetapi juga mengubah kebutuhan kompetensi di dunia kerja masa depan. Dalam pemaparannya, Prof. Zainudin menjelaskan bahwa dunia kerja saat ini mengalami perubahan signifikan akibat perkembangan AI. Berbagai sektor industri mulai mengintegrasikan AI untuk mendukung otomasi pekerjaan, pengambilan keputusan, analisis data, hingga peningkatan efisiensi organisasi. Menurutnya, AI dapat mengambil alih pekerjaan yang bersifat repetitif, berisiko tinggi, membutuhkan kecepatan, akurasi, serta komputasi kompleks. Namun, pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, kecerdasan emosional, kemampuan beradaptasi, dan sentuhan kemanusiaan tetap menjadi ruang penting bagi manusia. Prof. Zainudin juga menyinggung laporan World Economic Forum (WEF) yang menyebutkan bahwa perkembangan AI berpotensi mendorong lahirnya berbagai jenis pekerjaan baru, meskipun di sisi lain sejumlah pekerjaan konvensional akan mengalami pergeseran. Oleh karena itu, literasi AI tidak lagi menjadi kebutuhan eksklusif bagi mahasiswa di bidang teknologi, melainkan menjadi kompetensi penting bagi seluruh disiplin ilmu. Mahasiswa dari berbagai latar belakang akademik perlu memahami bagaimana AI bekerja, bagaimana menggunakannya secara tepat, serta bagaimana tetap berpikir kritis dalam memanfaatkan teknologi tersebut. Lebih lanjut, Prof. Zainudin menekankan bahwa AI bukanlah ancaman bagi dunia pendidikan, melainkan peluang untuk membangun sistem pembelajaran yang lebih adaptif, inklusif, dan personal. AI dapat membantu pendidik dalam menyelesaikan berbagai tugas administratif, menganalisis perkembangan belajar mahasiswa, serta memberikan dukungan pembelajaran yang lebih terarah. Dengan demikian, pendidik memiliki ruang yang lebih besar untuk berfokus pada aspek yang tidak dapat digantikan oleh mesin, seperti pembentukan karakter, kreativitas, etika, komunikasi, dan kecerdasan emosional. Dalam sesi tanya jawab, peserta turut mengangkat isu-isu kritis terkait penggunaan AI. Abel Elysia dari Program Studi Pendidikan Sosiologi menanyakan pandangan pembicara mengenai penggunaan AI dan dampaknya terhadap krisis iklim. Menanggapi hal tersebut, Prof. Zainudin menjelaskan bahwa efisiensi energi menjadi perhatian penting dalam menghadapi masa depan, tidak hanya karena penggunaan AI, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab keberlanjutan. Ia turut membagikan praktik di UTM, yaitu kebijakan work from home bagi seluruh fakultas pada hari Selasa dan Kamis sebagai salah satu upaya mendukung efisiensi energi. Pertanyaan lain disampaikan oleh Marco dari Program Studi Ilmu Komunikasi mengenai bagaimana AI tidak hanya menggantikan pekerjaan, tetapi juga menciptakan pekerjaan baru, termasuk kaitannya dengan intellectual property dan bidang seni. Prof. Zainudin menegaskan bahwa meskipun AI dapat membantu dalam banyak pekerjaan, manusia tetap memiliki peran utama dalam menghadirkan kreativitas, pengetahuan, dan penilaian kritis. Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan ChatGPT dan teknologi serupa sebaiknya dimanfaatkan untuk menguji serta mendukung pengetahuan, bukan untuk diikuti secara mentah tanpa proses berpikir kritis. Melalui penyelenggaraan The Eurasia International Course 2026, FISH UNJ terus memperkuat ruang pertukaran gagasan akademik internasional yang relevan dengan tantangan global. Sesi ini juga menegaskan pentingnya sinergi antara teknologi dan kemampuan manusia dalam menghadapi transformasi pendidikan di era digital. Diskusi berlangsung interaktif dan diikuti secara antusias oleh peserta dari berbagai latar belakang akademik, baik secara luring maupun daring. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama menggunakan hand sign Intelligentia Dignitas UNJ sebagai simbol kolaborasi akademik, kebersamaan, dan komitmen FISH UNJ dalam mendorong pendidikan yang adaptif, humanis, serta siap menghadapi perkembangan teknologi masa depan. Penulis: IM, HH, dan CMFISH Media Center 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (47) Kemahasiswaan (17) Penelitian (14) Pengabdian (10) Pengajaran (28) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (41) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
Kuliah Umum Bersama Peneliti National Chung Cheng University, Dr. Teddy Y.H. Sim, Hadirkan Peluang Beasiswa bagi Mahasiswa UNJ
Penyerahan plakat apresiasi kepada Dr. Teddy Y.H. Sim yang diserahkan oleh Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNJ, Dr. Kurniawati (Doc. FISHMed) Jakarta, 23 April 2026 — Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan kuliah umum sekaligus sosialisasi peluang beasiswa ke Taiwan yang berlangsung secara interaktif dan informatif. Acara ini dihadiri langsung oleh Associate Researcher dari National Chung Cheng University, Dr. Teddy Y.H. Sim. Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Wakil Dekan I, Ibu Dr. Kurniawati, yang menekankan pentingnya memperluas wawasan global mahasiswa melalui kerja sama internasional, khususnya di bidang pendidikan dan riset. Dalam sesi utama, pembicara memaparkan materi bertajuk “The Relevance of the Island History of Taiwan for Emerging Scholarship and Researchers”, mengulas perkembangan sejarah kepulauan Taiwan dan keterkaitannya dengan dunia maritim. Dibahas pula hubungan historis dan budaya antara Taiwan dan Indonesia, termasuk jejak kejayaan maritim Nusantara seperti Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit dalam konteks kajian kepulauan. Sesi pemaparan materi oleh Dr. Teddy Sim yang dimoderatori oleh Sandy Allifiansyah, Ph.D Diskusi yang dimoderatori oleh Sandy Allifiansyah, Ph.D ini juga menyentuh aspek geografis, ekonomi, dan potensi kerja sama antara Indonesia dan Taiwan. Meskipun hubungan diplomatik resmi antara kedua pihak memiliki keterbatasan, kerja sama di bidang ekonomi dan pendidikan tetap berjalan dan memberikan manfaat nyata bagi keduanya. Dalam sesi sosialisasi beasiswa, Dr. Teddy Sim menjelaskan bahwa mahasiswa berprestasi berkesempatan memperoleh keringanan biaya pendidikan sebagai bentuk dukungan akademik dari National Chung Cheng University. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi dalam sesi tanya jawab, dengan melontarkan beragam pertanyaan kritis mulai dari isu sejarah dan politik kawasan hingga informasi praktis seputar studi di Taiwan. Dokumentasi foto bersama Dr. Teddy Sim bersama Wakil Dekan III, Wakil Dekan I dan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISHMed) Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa UNJ semakin terbuka terhadap peluang studi internasional dan mampu memahami pentingnya perspektif global dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Penulis: IM dan CMFISH Media Center 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (46) Kemahasiswaan (17) Penelitian (14) Pengabdian (10) Pengajaran (28) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (40) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
Eurasia International Course 2026 Sesi 8 Bahas Makna Komunitas Baru di Tengah Perubahan Dunia
Jakarta, 4 Mei 2026 — Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) kembali menyelenggarakan The Eurasia International Course 2026 melalui sesi kedelapan yang mengangkat tema “Towards a New Community: Its Necessity & Meaning”. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Chung Joon Kon dari Eurasia Foundation sebagai narasumber utama dan dimoderatori oleh Mega Ayu Permatasari, M.Si. Sesi berlangsung secara hybrid, dengan peserta yang hadir langsung di Ruang Serba Guna, Gedung K FISH UNJ, serta peserta yang mengikuti kegiatan secara daring. Dalam sesi ini, Prof. Chung Joon Kon mengajak peserta untuk merefleksikan kembali makna komunitas dalam kehidupan manusia dan perkembangan dunia kontemporer. Ia membuka pemaparannya dengan memperkenalkan Eurasia Foundation sebagai lembaga yang memiliki tujuan untuk berkontribusi terhadap penghapusan konflik di dunia serta mendorong terciptanya masyarakat yang harmonis dan damai. Melalui prinsip keterbukaan, kebebasan berpikir, kebebasan berkeyakinan, serta tidak berpihak pada kepentingan politik tertentu, Eurasia Foundation menekankan pentingnya dialog lintas bangsa, budaya, dan nilai kemanusiaan. Prof. Chung menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya memiliki dua aktivitas utama dalam kehidupan sosial, yaitu kepemilikan dan relasi. Kepemilikan berkaitan dengan kebutuhan, keinginan, perkembangan teknologi, dan penciptaan kesejahteraan. Sementara itu, relasi berkaitan dengan keteraturan, harmoni, perkembangan organisasi, dan pembentukan komunitas. Menurutnya, kemajuan teknologi dan kekayaan tidak cukup untuk membangun kehidupan bersama apabila tidak diimbangi dengan relasi sosial yang sehat, terbuka, dan berorientasi pada perdamaian. Salah satu gagasan penting yang disampaikan dalam sesi ini adalah perlunya melihat komunitas baru sebagai respons terhadap batas-batas lama yang dibentuk oleh manusia. Prof. Chung menggunakan metafora “wall” atau dinding untuk menggambarkan adanya batas internal maupun sistemik yang dapat memisahkan individu, masyarakat, dan negara. Batas tersebut tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga muncul dalam cara berpikir, struktur sosial, sistem politik, dan pandangan terhadap identitas. Karena itu, membangun komunitas baru berarti berupaya melampaui sekat-sekat tersebut melalui pemahaman yang lebih luas, inklusif, dan manusiawi. Dalam pemaparannya, Prof. Chung juga mengajak peserta memahami komunitas melalui tiga perspektif, yaitu waktu, ruang, dan manusia. Ketiganya menjadi unsur penting dalam melihat bagaimana relasi sosial terbentuk dan berubah. Perubahan zaman, pergeseran ruang kehidupan, serta dinamika hubungan antarmanusia menuntut lahirnya cara pandang baru dalam memahami dunia. Di tengah perubahan global yang semakin cepat, komunitas tidak lagi dapat dipahami hanya dalam batas lokal atau nasional, tetapi perlu dibaca sebagai ruang bersama yang memungkinkan pertukaran gagasan, budaya, dan nilai kemanusiaan. Pembahasan semakin menarik ketika Prof. Chung menyoroti pentingnya memahami Asia dan dunia melalui perspektif yang beragam. Ia menekankan bahwa pendekatan menuju komunitas baru membutuhkan kemampuan untuk “lulus” atau bergerak melampaui cara pandang lama yang terlalu sempit. Dalam konteks Eurasia, peserta diajak melihat kawasan ini sebagai ruang besar yang memiliki kekayaan sejarah, populasi, budaya, dan potensi hubungan antarbangsa. Dengan keragaman tersebut, Eurasia dapat menjadi titik penting untuk membangun kesadaran global yang lebih dialogis dan inklusif. Prof. Chung turut mengaitkan pemikirannya dengan gagasan tentang negara dan warga negara. Ia menjelaskan bahwa negara pada dasarnya merupakan produk buatan manusia yang dibentuk untuk menjamin kehidupan, kebebasan, dan keamanan bersama. Namun, ketika dunia menghadapi kebutuhan baru, manusia juga perlu memikirkan bentuk komunitas baru yang mampu menjawab tantangan zaman. Dalam hal ini, komunitas baru tidak dimaksudkan untuk menolak keberadaan negara, tetapi untuk mengembalikan negara pada peran dasarnya, yaitu melindungi kehidupan manusia dan menciptakan kondisi agar masyarakat dapat hidup lebih bebas, nyaman, damai, dan bahagia. Melalui contoh bencana Gempa Tohoku dan kecelakaan Fukushima 2011, Prof. Chung menunjukkan bahwa persoalan antara negara, warga, dan kehidupan manusia sering kali menjadi semakin kompleks ketika menghadapi krisis besar. Peristiwa semacam itu memperlihatkan bahwa tantangan kemanusiaan tidak selalu dapat diselesaikan hanya melalui batas administratif atau sistem negara yang kaku. Diperlukan solidaritas, keterbukaan, dan kesadaran bersama untuk membangun komunitas yang mampu merespons persoalan lintas batas. Mega Ayu Permatasari, M.Si. sebagai moderator dan Dr. Dianni Risda, S.Pd., M.Ed sebagai translator bahasa Jepang, memandu jalannya diskusi secara interaktif, sehingga peserta dapat memahami gagasan besar yang disampaikan narasumber dalam konteks akademik dan sosial yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Format hybrid juga memberikan ruang partisipasi yang lebih luas bagi peserta, baik yang hadir secara langsung maupun yang mengikuti melalui platform daring. Sesi kedelapan Eurasia International Course 2026 ini menjadi bagian dari upaya FISH UNJ dalam memperluas wawasan global mahasiswa dan sivitas akademika. Melalui tema komunitas baru, kegiatan ini tidak hanya membahas hubungan antarnegara, tetapi juga mengajak peserta untuk melihat kembali peran manusia dalam membangun dunia yang lebih damai, inklusif, dan bermakna. Materi sesi menegaskan bahwa komunitas masa depan perlu dibangun dengan menghargai keberagaman, membuka ruang dialog, serta melampaui dinding-dinding lama yang membatasi kehidupan bersama.[] Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (45) Kemahasiswaan (17) Penelitian (13) Pengabdian (10) Pengajaran (28) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (39) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
Becoming Liquid Society : Digitalization And Informational Society By Prof. Dr. Robertus Robet, MA
Jakarta, 27 April 2026 – Kegiatan seminar ini mengambil tema Becoming Liquid Society: Digitalization and Informational Society menghadirkan Prof. Dr. Robertus Robet, M.A. sebagai narasumber utama, dengan Fajar Aditya Nugroho, M.Par sebagai moderator. Acara dibuka oleh moderator sebelum dilanjutkan dengan pemaparan materi yang menyoroti perubahan besar dalam kehidupan manusia akibat digitalisasi. Dalam pemaparannya, Prof Robert menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah membuat manusia semakin bergantung pada sistem digital. Ia mencontohkan Neil Harbisson yang mencangkokkan antena di kepalanya untuk mengakses informasi, sebagai gambaran bahwa batas antara manusia dan teknologi semakin kabur. Hal ini menunjukkan bahwa konsep manusia “pure authentic” semakin sulit ditemukan karena teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan, sejalan dengan gagasan dalam Cyborg Society. Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia meningkat hingga 229,4 juta jiwa pada tahun 2025, dengan tingkat penetrasi 80,66 persen. Mayoritas pengguna berasal dari generasi muda (digital native), dengan aktivitas utama seperti media sosial, akses informasi, transaksi online, dan hiburan digital. Fenomena ini kemudian dikaitkan dengan konsep liquid modernity dari Zygmunt Bauman dalam Liquid Modernity, yang menggambarkan perubahan dari masyarakat yang stabil menuju masyarakat yang cair, fleksibel, dan penuh ketidakpastian. Dalam kondisi ini, hubungan sosial menjadi lebih lemah, identitas bersifat sementara, dan kekuasaan tidak lagi terpusat pada institusi, melainkan tersebar dalam jaringan. Hal ini juga diperkuat oleh konsep network society dari Manuel Castells. Setelah pemaparan materi, moderator memberikan tanggapan singkat sebelum sesi tanya jawab (Q&A) dimulai. Pertanyaan diajukan oleh Muhammad Aldi dari Pendidikan Sosiologi dan Marco dari Ilmu Komunikasi. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian plakat apresiasi kepada narasumber, sesi foto bersama, dan diakhiri dengan penutupan oleh moderator. Kegiatan ini menegaskan bahwa digitalisasi tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga mengubah struktur sosial, cara berpikir, dan pola interaksi manusia dalam masyarakat yang semakin cair atau liquid society. [] FISH Media Center 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (44) Kemahasiswaan (17) Penelitian (13) Pengabdian (10) Pengajaran (28) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (39) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
FISH UNJ Perkuat Diseminasi Inovasi melalui Partisipasi dalam Pameran PKM UNJ
Presentasi Robotik ARUNA untuk pengangkut sampah laut di wilayah Muara Angke dari Fakultas Teknik UNJ (Doc. FISHMed) Jakarta, 23 April 2026 — Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan Pameran Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) di Aula Bung Hatta, Gedung Pascasarjana, Rabu (23/4), sebagai bagian dari upaya diseminasi hasil pengabdian kepada masyarakat sekaligus penguatan kolaborasi dengan berbagai mitra. Kegiatan ini menghadirkan partisipasi lintas fakultas di lingkungan UNJ dengan menampilkan beragam inovasi berbasis keilmuan serta membuka ruang interaksi antara sivitas akademika, mahasiswa, dan masyarakat. Keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan ini turut memperkuat posisi UNJ sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pendidikan, tetapi juga pada kontribusi nyata di tengah masyarakat. Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) turut ambil bagian melalui booth pameran yang menyajikan informasi akademik dan hasil karya yang berkaitan dengan aktivitas pendidikan dan pengabdian. Acara yang dipandu oleh MC dari Duta UNJ ini dibuka oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UNJ, Prof. Dr. Ifan Iskandar, M.Hum. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya keberlanjutan kolaborasi antara perguruan tinggi dan mitra dalam menciptakan program yang berdampak luas. “Semoga melalui kegiatan seperti ini, UNJ tidak hanya menciptakan (lulusan yang berprofesi menjadi) guru, tetapi juga bisa bermanfaat bagi masyarakat. Terima kasih kepada mitra UNJ atas kesediaannya terus berkolaborasi bersama kami, dan teman-teman lembaga terkait yang terus mengusahakan agar UNJ selalu berdampak,” ujarnya. Pelaksanaan program pengabdian turut ditampilkan melalui penampilan peserta dampingan yang menjadi pembuka rangkaian acara. Tari Manuk Bulak dibawakan sebagai hasil dari pelatihan seni berbasis budaya populer yang menyasar generasi muda, sementara anak-anak Rusunawa Jatinegara Kaum menampilkan puisi dan pantomim melalui pendekatan literasi dan ekspresi diri. Penampilan berlangsung di hadapan peserta kegiatan dan memperlihatkan proses pembinaan yang telah dijalankan, termasuk perkembangan kemampuan serta kepercayaan diri peserta selama mengikuti pendampingan. Kunjungan Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Dr. Kurniawati bersama Teddy Y.H. Sim dari National Chung Cheng University Taiwan ke booth PKM FISH (Doc. FISHMed) Sesi utama kegiatan menghadirkan paparan dan focus group discussion (FGD) yang memuat berbagai program pengabdian dari beragam bidang keilmuan sebagai respons kebutuhan masyarakat dalam setiap kompleksitas permasalahan yang berbeda. Program yang dipresentasikan mencakup BiblioKonseling Sastra Bandingan sebagai strategi pembentukan karakter pelajar Pancasila di Rusunawa Jatinegara Kaum, penerapan alat antropometri “Nimbang Balita” untuk mendukung digitalisasi layanan posyandu, kontribusi dalam pendampingan Sekolah Swasta Gratis (RSSG) di Kota Depok, pelatihan Tari Manuk Bulak berbasis budaya populer, serta inovasi teknologi robotik ARUNA untuk navigasi dan pengangkutan sampah di wilayah Muara Angke. Sesi diskusi setelah pemaparan berlangsung dalam suasana yang aktif dan terbuka, dengan keterlibatan peserta dari kalangan sivitas akademika maupun mitra. Pertanyaan, tanggapan, dan berbagai sudut pandang disampaikan secara langsung selama forum berlangsung, mencakup pengalaman implementasi program di lapangan, tantangan yang dihadapi, serta kemungkinan pengembangan program agar dapat menjangkau lebih banyak pihak. Pameran booth turut menjadi sarana strategis dalam memperluas jangkauan diseminasi inovasi kepada publik. Setiap fakultas di UNJ menampilkan karya dan informasi dengan pendekatan yang beragam, sehingga pengunjung dapat berpindah dari satu booth ke booth lainnya sambil mengenal karakter dan fokus keilmuan masing-masing, sekaligus membuka ruang interaksi langsung dengan perwakilan fakultas. Foto bersama di depan booth FISH pada FGD Diseminasi PKM UNJ 2026 (Doc. FISHMed) Booth FISH menampilkan berbagai elemen yang merepresentasikan aktivitas akademik dan pengabdian, mulai dari buku hasil karya dosen dan mahasiswa, merchandise fakultas, informasi seputar program studi, hingga poster program pengabdian. Susunan materi tersebut memberikan gambaran mengenai lingkungan akademik di FISH serta keterkaitannya dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Di antara partisipasi fakultas lainnya, booth FISH menjadi salah satu yang ramai dikunjungi oleh peserta. Pengunjung secara antusias mengamati berbagai karya yang dipamerkan, sekaligus mengajukan pertanyaan seputar inovasi yang ditampilkan, proses pembelajaran di lingkungan FISH, hingga peluang yang dapat diperoleh dari masing-masing program studi. Melalui partisipasi dalam kegiatan ini, FISH menunjukkan kontribusinya dalam mendukung penguatan ekosistem pengabdian yang kolaboratif serta memperluas akses masyarakat terhadap inovasi berbasis keilmuan. Keterlibatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya UNJ dalam memastikan bahwa hasil pengabdian tidak hanya berhenti pada implementasi, tetapi juga terdiseminasi dan memberikan manfaat yang berkelanjutan. Penulis: BMF dan KASTim FISH Media Center 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (45) Kemahasiswaan (17) Penelitian (14) Pengabdian (10) Pengajaran (28) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (39) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
Digitalisasi Menghidupkan Sejarah, Eurasia International Course 2026 Bahas Transformasi Makna Artefak
Jakarta, 20 April 2026 — Eurasia International Course (EIC) 2026 kembali menghadirkan diskusi akademik melalui sesi keenam yang mengangkat tema Digitalisasi dan Transformasi Makna Artefak Sejarah dalam Masyarakat Kontemporer. Bertempat di Ruang Serba Guna, Gedung K Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Jakarta (UNJ), kegiatan ini menghadirkan Agus Hermanto, S.Pd., M.Hum., Kepala Sub-Direktorat Pelestarian Sejarah, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, Agus Hermanto, S.Pd., M.Hum. menegaskan bahwa digitalisasi menjadi langkah penting dalam upaya pelestarian sejarah di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial masyarakat modern. Menurutnya, sejarah bukan hanya kumpulan cerita masa lalu, tetapi merupakan narasi hidup yang harus terus dihadirkan agar tetap relevan di era kontemporer. Agus Hermanto, S.Pd., M.Hum. menjelaskan, digitalisasi membuka peluang baru dalam pengelolaan dan pemanfaatan artefak sejarah melalui teknologi seperti pemindaian 3D, fotografi resolusi tinggi, serta basis data digital. Melalui teknologi tersebut, artefak tidak lagi terbatas pada ruang fisik museum, tetapi dapat diakses masyarakat secara lebih luas. Ia menyebut digitalisasi memiliki tiga pilar utama, yaitu konversi digital, aksesibilitas publik, dan preservasi. Ketiga aspek tersebut dinilai mampu mendorong transformasi cara masyarakat berinteraksi dengan sejarah, dari yang sebelumnya bersifat pasif menjadi lebih interaktif dan imersif. “Pengunjung tidak lagi hanya melihat sejarah, tetapi juga dapat mengalaminya melalui tur virtual, pameran daring, dan teknologi 360 derajat,” jelas Agus. Sebagai contoh implementasi, Agus Hermanto, S.Pd., M.Hum. menyoroti platform Museum Cagar Budaya yang menyediakan akses koleksi secara daring, serta berbagai inovasi lain seperti aplikasi digital sejarah, media audiovisual, dan platform SIREL Heritage. Berbagai platform tersebut juga dinilai menjadi pendekatan yang efektif untuk menjangkau generasi muda, khususnya Gen-Z dan milenial. Namun demikian, Agus Hermanto, S.Pd., M.Hum. juga mengingatkan bahwa digitalisasi menghadirkan sejumlah tantangan, mulai dari persoalan autentisitas konten, kesenjangan teknologi, hingga keberlanjutan penyimpanan data. Oleh karena itu, verifikasi sumber, pengelolaan metadata, dan sistem penyimpanan jangka panjang menjadi aspek penting yang harus diperhatikan. Melalui sesi ini, peserta memperoleh pemahaman bahwa digitalisasi tidak hanya berperan dalam menjaga keberadaan artefak sejarah, tetapi juga memperkuat identitas budaya bangsa di tengah arus globalisasi. Kegiatan ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, institusi budaya, akademisi, dan generasi muda dalam memastikan warisan sejarah tetap hidup dan relevan bagi masyarakat kontemporer. Penulis: Asha, Reyna Tim FISH Media Center 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (43) Kemahasiswaan (17) Penelitian (13) Pengabdian (10) Pengajaran (28) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (38) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru