Eurasia International Course 2026 Bahas Pemanfaatan Kecerdasan Buatan dan Robotika dalam Pendidikan Inklusif

Jakarta, 1 Juni 2026 – Eurasia International Course 2026 kembali menyelenggarakan sesi pembelajaran internasional secara daring melalui Zoom dengan tajuk “Rethinking Digital Divide in Education: Pedagogical Accessibility and AI-Supported Learning Design.” Kegiatan ini menghadirkan Assist. Prof. Darmawansah dari Global Foreign Language Education Program, Providence University, Taichung City, Taiwan, sebagai pembicara, serta Fajar Aditya Nugroho sebagai moderator.

Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh moderator yang memperkenalkan latar belakang akademik dan perjalanan karier pembicara sebagai akademisi Indonesia yang saat ini mengajar di Taiwan. Setelah sesi perkenalan, pemateri mengajak para peserta untuk berpartisipasi dalam diskusi interaktif menggunakan ClassPoint, sebuah platform yang kerap digunakannya dalam proses pembelajaran sehari-hari. Melalui platform tersebut, peserta berbagi pengalaman mengenai berbagai tools AI yang sering digunakan, seperti ChatGPT, Gemini, Perplexity, dan lainnya.

Dalam pemaparannya, Assist. Prof. Darmawansah menjelaskan bahwa AI tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu dalam mencari informasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih efektif. Menurutnya, penggunaan AI harus diimbangi dengan kemampuan manusia untuk mengelola dan berkolaborasi dengan teknologi tersebut. “AI can improve performance, AI is good for learning, but AI will be nothing without collaboration with people,” ujarnya.

Selain membahas berbagai tools AI yang dapat digunakan untuk kebutuhan desain dan pembelajaran, pemateri juga menjelaskan pemanfaatan teknologi immersive learning, seperti virtual reality (VR) dan metaverse. Teknologi tersebut dirancang untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan kolaboratif, sekaligus meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran.

Pada sesi selanjutnya, Assist. Prof. Darmawansah turut memperkenalkan penggunaan robot edukatif sebagai media pembelajaran. Salah satu contoh yang dipaparkan adalah Kebbi Robot, yaitu robot yang dapat berinteraksi dengan peserta didik melalui percakapan, kuis, hingga kegiatan storytelling. Robot tersebut dirancang untuk membantu meningkatkan keterampilan komunikasi, kreativitas, serta kemampuan berpikir komputasional peserta didik.

Menurutnya, teknologi seharusnya digunakan untuk mendukung proses pembelajaran yang bermakna, bukan sekadar mengikuti tren sesaat. Ia menekankan bahwa pendidik tidak harus selalu mengembangkan teknologi dari awal, tetapi perlu mampu menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan pembelajaran. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi perlu dipadukan dengan desain instruksional yang tepat.

Menutup sesi pemaparan, Assist. Prof. Darmawansah menyampaikan harapannya agar robot edukatif yang saat ini sedang dikembangkannya dapat diterapkan di Indonesia. Selain dimanfaatkan sebagai media pembelajaran interaktif, robot tersebut juga dapat digunakan sebagai sarana digital storytelling yang mengangkat budaya lokal Indonesia.

Bersama salah satu mahasiswanya yang berasal dari Medan, ia tengah mengembangkan konsep pembelajaran berbasis robot dengan mengangkat legenda Malin Kundang. Melalui program tersebut, robot dapat bergerak, berbicara, dan mengikuti alur cerita yang telah diprogram, sehingga peserta didik dapat belajar teknologi sekaligus mengenal budaya Indonesia dengan cara yang lebih menarik dan interaktif (NRR/NJNA/CKG/FISHMed2026).

Share this article

© 2025 Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum – Universitas Negeri Jakarta