Mega Ayu Permatasari, M.Si (kiri) sebagai moderator sesi pertama seminar internasional dengan pembicara Prof. Felina C. Young, DBA (kanan), pada Jumat 17/4/2026 (doc. FISHMed) Jakarta, 17 April 2026 — Memasuki hari kedua pelaksanaan The 1st International Conference on Global Social and Business (ICGSB) 2026, semangat penguatan budaya riset kembali terasa dalam rangkaian seminar internasional yang berlangsung di Gedung SFD, Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta, Tower B lantai 10. Kegiatan ini diikuti secara hybrid oleh para koordinator program studi, dosen, serta mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) UNJ. Pada sesi pertama, peserta mengikuti pemaparan bertajuk “Mixed Methods in Organizational Research” yang disampaikan oleh Prof. Dr. Felina C. Young, DBA dan dimoderatori oleh Mega Ayu Permatasari, M.Si. Dalam sesi ini, Prof. Young menekankan bahwa riset kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan tuntutan utama dalam dunia akademik global. “You’ve got to research, otherwise you’re going to perish. That is now the expectation of universities globally,” ujarnya, menegaskan bahwa perguruan tinggi saat ini menuntut para akademisi untuk terus aktif meneliti agar tetap relevan dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Tidak hanya menyoroti pentingnya produktivitas akademik, Prof. Young juga membagikan pandangan yang membumi tentang proses menulis penelitian. Menurutnya, menulis tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Riset justru dapat tumbuh dari rasa ingin tahu, kebiasaan membaca, dan keberanian untuk terus belajar. Ia mengingatkan bahwa umpan balik tidak seharusnya ditakuti, melainkan diterima sebagai bagian dari proses bertumbuh. “When you get feedback, you become excited, then writing research is not difficult,” jelasnya. Melalui sesi ini, peserta diajak melihat bahwa mixed methods bukan sekadar penggabungan metode kuantitatif dan kualitatif, tetapi sebuah pendekatan yang menuntut ketajaman berpikir, sistematika kerja, dan keberanian untuk menjawab persoalan secara lebih utuh. Prof. Young menegaskan bahwa inovasi dalam riset harus menghasilkan manfaat nyata, bukan hanya memenuhi kebutuhan akademik semata. Karena itu, penelitian harus dibangun di atas proses yang sistematis, dapat dipertanggungjawabkan, dan taat pada etika. “We have to follow strict ethical standards,” tegasnya. Lebih jauh, sesi ini juga menyampaikan pesan kuat bagi para peneliti muda. Prof. Young mendorong mahasiswa dan akademisi pemula untuk memulai dari hal yang paling dekat dengan minat mereka, lalu menumbuhkannya dengan membaca, menulis, dan mengeksplorasi berbagai pendekatan penelitian, baik kuantitatif, kualitatif, maupun mixed methods. Ia mengingatkan bahwa perjalanan akademik bukanlah ajang untuk membandingkan diri dengan orang lain, melainkan proses untuk terus menjadi lebih baik dari diri sendiri. Suasana seminar berlangsung hangat dan interaktif. Peserta tampak antusias mengikuti pemaparan hingga sesi diskusi. Sejumlah pertanyaan yang muncul menunjukkan bahwa topik mixed methods dipandang relevan, terutama bagi akademisi yang ingin mengembangkan riset yang tidak hanya kuat secara metodologis, tetapi juga berdampak bagi masyarakat. Sesi ini ditutup dengan pemberian plakat apresiasi kepada Prof. Young oleh Dr. E. Nugrahaeni P.S., M.Si selaku Wakil Dekan III FISH UNJ. Melalui sesi ini, ICGSB 2026 tidak hanya menghadirkan diskusi akademik, tetapi juga menegaskan kembali nilai penting penelitian sebagai praktik pembelajaran sepanjang hayat. Riset diposisikan bukan semata sebagai kewajiban institusional, melainkan sebagai jalan untuk merawat rasa ingin tahu, membangun inovasi, dan menghasilkan kontribusi yang bermakna di tengah perubahan zaman. Penulis: RSKPF, RDS, NRR, NA Tim FISH Media Center 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (40) Kemahasiswaan (17) Penelitian (11) Pengabdian (10) Pengajaran (28) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (37) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
FISH UNJ Gandeng Philippine Women’s University dan Tiga Kampus Nasional, Dorong Transformasi Sosial di Era Digital melalui 1st ICGSB 2026
Jakarta, 16 April 2026 – Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH), Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sukses menyelenggarakan Seminar Internasional 1st International Conference & Doctoral Research Presentation dengan tajuk “Global Social & Business Transformation: Innovation, Sustainability, and Strategic Leadership in the Digital Era”. Kegiatan yang dilaksanakan sebagai wadah bagi akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara untuk bertukar gagasan dan memperkuat kolaborasi global, berlangsung di Gedung 1A Lantai 10, Kampus A, Universitas Negeri Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan berbagai pembicara hebat, di antaranya Prof. Dr. Felina C. Young, DBA selaku Chancellor Philippine Women’s University, Prof. Dr. Komarudin, M.Si. selaku Rektor Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. Ir. Aisyah Endah Palupi, M.Pd. selaku Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI Jawa Tengah, Prof. Nina Yulietni, S.P., M.Si., Ph.D. selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Filipina, Dr. Shirley C. Agrupis, Ph.D. selaku Chairperson Commission on Higher Education (CHED) Filipina, Prof. Emer. Dr. Barjoyai Bardai selaku profesor emeritus dari Malaysia University of Science and Technology (MUST), serta Nozomi Kawarazuka selaku peneliti dari International Potato Center (CIP). Selain itu, sambutan pembuka disampaikan oleh Firdaus Wajdi, M.A., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta. Duta FISH UNJ membuka rangkaian acara yang diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia, Indonesia Raya dan lagu kebangsaan Filipina, Lupang Hinirang, sebagai simbol kolaborasi internasional. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Dr. Ir. Ja’far Amiruddin, M.T. Sambutan pembuka disampaikan oleh Firdaus Wajdi, M.A., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dan lintas disiplin dalam menghadapi transformasi global di era digital. Sambutan kemudian dilanjutkan oleh Prof. Dr. Komarudin, M.Si. selaku Rektor Universitas Negeri Jakarta. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa transformasi global di era digital tidak hanya menuntut kemajuan analitis, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap prosesnya. “Global transformation in the digital era requires more than analytical advancement. It demands empathy, sustainable action, and strategic leadership that places humanity at the center of progress,” ujarnya. Selain itu, beliau juga menegaskan komitmen UNJ dalam memperluas kerja sama internasional guna mendorong inovasi dan pembangunan berkelanjutan. Sebagai bentuk konkret dari penguatan kolaborasi internasional, kegiatan ini turut dirangkaikan dengan agenda penandatanganan kerja sama antara Philippine Women’s University (PWU) dengan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), PWU dengan Universitas Insan Pembangunan Indonesia (UNIPI), PWU dengan Universitas Ibnu Khaldun Bogor (UIKA), PWU dengan Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), serta kerja sama antara UNIPI dan UNJ. Momentum ini menjadi langkah strategis dalam memperluas jejaring kemitraan global serta mendorong kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Prof. Dr. Felina C. Young, DBA selaku Chancellor Philippine Women’s University, yang menegaskan pentingnya kerja sama internasional dalam menghadapi dinamika global. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Prof. Dr. Francisca Sestri G., S.E. selaku Rektor Universitas Insan Pembangunan Indonesia (UNIPI), Prof. Dr. Widyasari, M.Pd. selaku Rektor Universitas Ibnu Khaldun Bogor (UIKA), serta Arif Nurudin, S.T., M.T. selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), yang secara keseluruhan menekankan pentingnya sinergi antarperguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan riset di tingkat global. Sesi seminar diawali oleh Prof. Nina Yulietni, S.P., M.Si., Ph.D. selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Filipina yang menyampaikan paparan mendalam terkait isu-isu strategis dalam kerja sama pendidikan internasional. Selanjutnya, Dr. Shirley C. Agrupis, Ph.D. selaku Chairperson Commission on Higher Education (CHED) Filipina memaparkan perspektif penting terkait pengembangan pendidikan tinggi di tingkat global. Materi berikutnya disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Aisyah Endah Palupi, M.Pd. selaku Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI Jawa Tengah yang menyoroti pengalaman dan strategi dalam penguatan sistem pendidikan tinggi. Dilanjutkan oleh Prof. Emer. Dr. Barjoyai Bardai dari Malaysia University of Science and Technology (MUST) yang memberikan wawasan akademik mendalam terkait transformasi sosial dan bisnis. Sesi seminar juga menghadirkan Nozomi Kawarazuka dari International Potato Center (CIP) yang membahas perspektif global dalam riset dan pengembangan di sektor pertanian. Selain itu, turut hadir sesi pembicara undangan oleh Prof. Dr. Robertus Robet, M.A. serta Dr. Syamsulbahri, DBA., Ph.D. yang menyampaikan berbagai gagasan kritis dan perspektif strategis berdasarkan pengalaman akademik dan profesional mereka. Melalui rangkaian kegiatan ini, Seminar Internasional FISH UNJ tidak hanya menjadi wadah pertukaran gagasan, tetapi juga memperkuat kolaborasi lintas negara dalam mendorong inovasi, keberlanjutan, dan kepemimpinan strategis di era digital. Penulis: JRPS, ZH, CKG, GIC, ZR Tim FISH Media Center 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (39) Kemahasiswaan (17) Penelitian (10) Pengabdian (10) Pengajaran (28) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (37) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
Eurasia UNJ 2026 Dorong Wawasan Global Mahasiswa Melalui Diskusi AI dan Budaya Indonesia – Jepang
Jakarta, 2 Maret 2026 — Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) menyelenggarakan kegiatan The Eurasia International Course 2026 – Session 4 dengan tema “The Impact of AI Technology on The Development of Culture Comparison of Indonesia and Japan”. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Dianni Risda, S.Pd., M.Ed. dari Universitas Pendidikan Indonesia, sebagai narasumber utama yang membahas bagaimana perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memengaruhi dinamika budaya di dua negara dengan karakteristik berbeda, yaitu Indonesia dan Jepang, mulai dari transformasi nilai, pola interaksi masyarakat, hingga adaptasi budaya tradisional di era digital. Acara yang berlangsung di Ruang Serba Guna, Gedung K FISH UNJ. Peserta yang terdiri dari mahasiswa dan civitas akademika mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang untuk memperluas wawasan mengenai dampak perkembangan teknologi AI terhadap budaya, khususnya dalam konteks perbandingan antara Indonesia sebagai negara berkembang dan Jepang sebagai negara maju dengan teknologi tinggi. Kegiatan diawali oleh perwakilan mahasiswa berprestasi (mawapres) Diploma Program Studi Usaha Perjalanan Wisata (UPW) yang bertugas sebagai pembuka acara sebelum memasuki sesi utama. Sesi utama kemudian diisi oleh pemaparan materi dari Dr. Dianni Risda. Pada presentasinya, ia mengajak peserta untuk merefleksikan pandangan umum masyarakat terhadap Jepang. Jepang sering diasosiasikan dengan berbagai simbol budaya dan kemajuan, seperti Gunung Fuji sebagai ikon alam, kimono dan geisha sebagai representasi budaya tradisional, hingga kota Tokyo sebagai pusat modernitas. Selain itu, Jepang juga dikenal melalui anime yang mendunia, industri otomotif yang maju, serta perayaan budaya seperti Hina Matsuri dan Kodomo no Hi. Bahkan dalam bidang teknologi, Jepang telah mengembangkan inovasi seperti HAL (Hybrid Assistive Limb) atau power assist robot yang menunjukkan kemajuan dalam integrasi teknologi dengan kehidupan manusia. Lebih lanjut, Jepang di mata dunia dipandang sebagai negara dengan kemajuan sains dan teknologi yang pesat, sistem pendidikan yang menjunjung tinggi disiplin dan keramahan, serta kemampuan menjaga keseimbangan antara budaya tradisional dan modern. Keindahan alam dan kekuatan budaya pop juga menjadi daya tarik global, di samping budaya kerja yang dikenal kuat dan produktif. Namun demikian, Dr. Dianni juga menyoroti berbagai permasalahan yang dihadapi Jepang, seperti kondisi geografis yang rawan bencana, tantangan demografis berupa populasi menua, keterbatasan sumber daya alam (SDA), hingga isu ekonomi dan sosial yang muncul akibat tekanan modernisasi. Hal ini menjadi poin penting dalam memahami bagaimana teknologi, termasuk AI, berperan dalam membantu mengatasi tantangan tersebut. Dalam penjelasannya mengenai AI, Dr. Dianni mendefinisikan kecerdasan buatan sebagai teknologi yang memungkinkan mesin untuk meniru kemampuan kognitif manusia, seperti belajar, berpikir, dan mengambil keputusan. AI saat ini telah merambah berbagai sektor, termasuk budaya, dimana teknologi ini dapat memengaruhi cara manusia berinteraksi, menciptakan karya, hingga melestarikan tradisi. Pada bagian inti, ia membahas perbandingan pengaruh AI terhadap perkembangan budaya di Indonesia dan Jepang. Jepang dinilai lebih siap dalam mengintegrasikan AI ke dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pelestarian budaya melalui digitalisasi dan inovasi teknologi. Sementara itu, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar, namun masih menghadapi tantangan dalam pemanfaatan teknologi AI secara optimal untuk mendukung pelestarian dan pengembangan budaya tersebut. Sesi tanya jawab menjadi momen interaktif yang dimanfaatkan peserta untuk menggali lebih dalam berbagai isu, mulai dari dampak AI terhadap identitas budaya, peluang kolaborasi teknologi lintas negara, hingga tantangan etika dalam penggunaan AI. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama sesi berlangsung. Sebagai narasumber, Dr. Dianni Risda memiliki pengalaman internasional yang kuat, di antaranya pernah terlibat sebagai penerjemah dalam proyek Japan International Cooperation Agency (JICA) serta menjadi dosen di Nihon University Jepang. Ia juga pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Pengembangan Program Kerja Sama Internasional di UPI Bandung. Pengalaman tersebut memperkuat kompetensinya dalam menjelaskan keterkaitan antara budaya Jepang, etika kerja, dan kemajuan teknologi. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama antara narasumber, panitia, dan seluruh peserta sebagai bentuk dokumentasi dan apresiasi atas terselenggaranya acara, serta pemberian sertifikat dari FISH UNJ kepada Narasumber. Melalui kegiatan ini, FISH UNJ diharapkan selalu mendorong internasionalisasi akademik serta meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap peran teknologi, khususnya AI, dalam membentuk masa depan budaya di tingkat global. Authors: JRPS, NRR, SA Editor: Team FISH Media Center 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (38) Kemahasiswaan (17) Penelitian (9) Pengabdian (10) Pengajaran (28) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (36) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
UNJ Eurasia 2026 Bersama FISH UNJ Soroti Kesenjangan Digital dan Akses Pendidikan di Era Teknologi
Jakarta, 30 Maret 2026 — Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) menyelenggarakan kegiatan The Eurasia International Course 2026 – Session 1 dengan tema “Digital Divide and Accessibility Issues in Educational Problems”. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum dari Universitas Pendidikan Ganesha sebagai narasumber utama yang membahas isu kesenjangan digital serta tantangan aksesibilitas dalam pendidikan, sekaligus menyoroti pentingnya keadilan akses di era digital. Acara yang berlangsung di Ruang Serba Guna, Gedung K FISH UNJ ini dimulai pada pukul 12.58 WIB ini dihadiri peserta yang terdiri dari mahasiswa dan sivitas akademika mengikuti kegiatan sebagai bagian dari penguatan wawasan terkait perkembangan teknologi dan dampaknya dalam kehidupan sosial. Memasuki sesi utama, Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum memaparkan materi mengenai peran teknologi dalam pendidikan. Teknologi dinilai mampu mempermudah akses informasi dan mendukung proses pembelajaran. Namun, masih terdapat kesenjangan akses serta perbedaan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi di berbagai kelompok masyarakat. Pembahasan juga menyoroti relasi gender dalam teknologi. Perempuan masih menghadapi berbagai hambatan, baik dari segi akses maupun stereotip yang berkembang. Laki-laki lebih sering diasosiasikan dengan inovasi dan penguasaan teknologi, sementara perempuan dianggap kurang terlibat. Pandangan ini muncul dari konstruksi sosial yang terus berulang dalam kehidupan sehari-hari. “Teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat, tetapi juga menjadi bagian dari relasi kuasa yang membentuk cara pandang dan posisi seseorang dalam masyarakat,” ujar Ibu Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum. Selain itu, narasumber menjelaskan bahwa teknologi memiliki dua sisi. Dampak positif terlihat dari kemudahan komunikasi dan akses informasi. Dampak negatif muncul dalam bentuk bias gender, ketimpangan akses, serta dominasi kelompok tertentu dalam pemanfaatan teknologi. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi terbuka yang melibatkan peserta secara aktif. Berbagai pertanyaan disampaikan terkait pengaruh teknologi terhadap pemahaman gender di kalangan generasi muda serta peran pendidikan dalam membangun kesadaran kritis. Diskusi ini menjadi ruang untuk memperdalam pemahaman mengenai hubungan antara teknologi, gender, dan pendidikan. Sesi dokumentasi bersama antara narasumber, panitia, dan peserta menjadi penutup kegiatan hari ini. Melalui penyelenggaraan The Eurasia International Course 2026, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) diharapkan dapat memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai kesenjangan digital, aksesibilitas pendidikan, serta mendorong terciptanya pemanfaatan teknologi yang lebih adil dan inklusif. Kegiatan kemudian ditutup dengan closing remarks pada pukul 15.08 WIB yang merangkum poin-poin penting dari pemaparan materi serta diskusi yang telah berlangsung. Sebagai bentuk apresiasi, penyelenggara menyerahkan sertifikat kepada narasumber atas kontribusinya dalam berbagi pengetahuan kepada peserta. Penulis: QJY Editor : TIM FISH MEDIA CENTER 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (37) Kemahasiswaan (17) Penelitian (9) Pengabdian (10) Pengajaran (27) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (36) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
Borong Gelar Terfavorit dan Terketat, FISH UNJ Jadi Fakultas Paling Diburu di SNBT 2025
JAKARTA – Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) membuktikan diri sebagai “rumah” bagi program studi paling prestisius di lingkungan universitas. Berdasarkan data hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2025 yang dirilis oleh Admisi UNJ, tiga program studi unggulan FISH berhasil mendominasi daftar 10 besar prodi terfavorit dan terketat di UNJ. Dominasi di Daftar Terfavorit Dua program studi dari FISH mencatatkan angka peminat yang luar biasa dan menempatkan posisi elit pilihan calon mahasiswa: D4 Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Digital memuncaki daftar sebagai prodi nomor 1 paling favorit di seluruh UNJ dengan total 4.684 pendaftar. S1 Ilmu Komunikasi menyusul di peringkat ke-4 dengan meraih 2.780 pendaftar. Tingginya antusiasme menunjukkan bahwa rumpun ilmu komunikasi di bawah naungan FISH merupakan bidang yang sangat diminati oleh generasi muda saat ini. Tingkat Persaingan Paling Kompetitif Tidak hanya unggul dalam jumlah peminat, program studi di FISH juga menjadi yang paling sulit ditembus karena tingkat keketatannya yang sangat tinggi: S1 Ilmu Komunikasi menyabet gelar sebagai prodi terketat nomor 1 di UNJ dengan persentase hanya 0,86%. Artinya, rasio kelulusannya tidak sampai 1 orang dari 100 pendaftar. D4 Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Digital berada di posisi kedua terketat dengan angka 0,96%. S1 Ilmu Hukum melengkapi prestasi fakultas dengan masuk dalam jajaran 10 besar prodi terketat di posisi ke-9, dengan tingkat keketatan 1,93%. Pencapaian luar biasa dari ketiga prodi ini (S1 Ilmu Komunikasi, D4 Humas & Komunikasi Digital, serta S1 Ilmu Hukum) mempertegas posisi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum sebagai pusat keunggulan akademik yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan. Keberhasilan program studi di FISH mendominasi daftar terfavorit dan terketat sekaligus mencerminkan standar kualitas pendidikan yang tinggi, sehingga menjadikannya magnet utama bagi calon mahasiswa terbaik dari seluruh Indonesia. [] Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (36) Kemahasiswaan (17) Penelitian (9) Pengabdian (10) Pengajaran (26) Pengumuman (4) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (6) Prodi (19) Program Unggulan (36) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
FISH UNJ Sambut Mahasiswa Program SEA Teacher dari Filipina
JAKARTA – Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggelar agenda penyambutan resmi bagi para mahasiswa peserta program SEA Teacher yang ditempatkan di Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS). Pertemuan ini dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 31 Maret 2026, bertempat di Gedung K FISH UNJ. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program pertukaran guru di Asia Tenggara (SEA Teacher) yang bertujuan untuk mempererat kolaborasi pendidikan antarnegara. Pertemuan yang diadakan di Ruang 212 Lantai 2 Gedung K tersebut dimaksudkan sebagai ajang perkenalan sekaligus pemberian sambutan resmi sebelum para peserta memulai kegiatan utama mereka di lingkungan kampus. Kehadiran Delegasi Internasional Terdapat dua mahasiswa asal Filipina yang menjadi tamu utama dalam program kali ini, yaitu: Ayessa Mae Tumabotabo dari West Visayas State University. Vea Grace Baconguis dari Xavier University. Acara penyambutan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan FISH UNJ, di antaranya: Firdaus Wajdi, M.A., Ph.D. (Dekan FISH). Dr. Kurniawati, M.Si. (Wakil Dekan I). Dr. Aris Munandar, M.Si. (Wakil Dekan II). Prof. Dr. Desy Safitri, M.Si. (Koordinator Program Studi S1 Pendidikan IPS) Nandi Kurniawan, M.Pd (Dosen Program Studi S1 Pendidikan IPS). Kehadiran lengkap jajaran pimpinan ini menunjukkan komitmen FISH UNJ dalam mendukung internasionalisasi program studi, khususnya dalam mencetak tenaga pendidik yang memiliki wawasan global melalui kolaborasi dengan universitas-universitas di Asia Tenggara. [] Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (36) Kemahasiswaan (17) Penelitian (9) Pengabdian (10) Pengajaran (26) Pengumuman (3) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (5) Prodi (19) Program Unggulan (36) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
UNJ EURASIA 2026 DORONG INTERNASIONALISASI FISH UNJ MELALUI PEMBAHASAN FRAMEWORK TEKNOLOGI DIGITAL DALAM DIGITAL SOCIOLOGY
Jakarta, 9 Maret 2026 — Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) menyelenggarakan kegiatan The Eurasia International Course 2026 – Session 2 dengan tema “Theoretical Framework in Digital Sociology.” Kegiatan ini menghadirkan Dr. Rusfadia Saktiyanti Jahja, M.Si., Koordinator Program Studi Sosiologi UNJ, sebagai narasumber utama yang membahas berbagai perspektif teoritis untuk memahami bagaimana teknologi digital membentuk interaksi sosial, identitas, serta dinamika masyarakat kontemporer. Dalam pemaparannya, Dr. Rusfadia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar pada cara masyarakat berinteraksi, berkomunikasi, serta membangun relasi sosial. Oleh karena itu, kajian sosiologi digital menjadi penting untuk memahami dampak teknologi terhadap kehidupan sosial secara lebih mendalam. Menurutnya, sosiologi digital tidak hanya mempelajari penggunaan teknologi, tetapi juga menelaah bagaimana teknologi memengaruhi struktur sosial, pola komunikasi, hingga pembentukan identitas individu di ruang digital. Dr. Rusfadia menekankan beberapa alasan penting mengapa sosiologi digital perlu dipelajari. Pertama, untuk memahami dampak teknologi terhadap masyarakat secara luas. Kedua, untuk mengkaji perubahan pola interaksi sosial dan ruang sosial yang kini banyak terjadi di dunia digital. Ketiga, untuk mempelajari fenomena-fenomena baru yang muncul di ruang digital seperti hoaks, perundungan siber (cyber bullying), dan kejahatan siber (cybercrime). Keempat, kajian ini juga penting dalam proses perumusan kebijakan publik agar mampu merespons perubahan sosial yang dipicu oleh perkembangan teknologi. Selain membahas urgensi sosiologi digital, Rusfadia juga menguraikan berbagai perubahan struktural yang terjadi dalam masyarakat digital. Salah satu perubahan yang paling terlihat terjadi pada institusi keluarga. Menurutnya, teknologi digital telah mempermudah komunikasi dalam keluarga, terutama melalui penggunaan video call dan pesan instan yang memungkinkan anggota keluarga tetap berinteraksi meskipun berada di lokasi yang berjauhan. Perubahan serupa juga terjadi dalam dunia kerja. Rusfadia menjelaskan bahwa kemajuan teknologi telah memungkinkan munculnya sistem kerja jarak jauh atau remote work, yang mengubah dinamika kerja konvensional. Pekerja kini tidak selalu harus hadir secara fisik di kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Selain itu, perkembangan platform digital juga melahirkan fenomena gig economy, yaitu sistem ekonomi berbasis proyek atau pekerjaan sementara yang difasilitasi oleh platform digital. Dalam sistem ini, individu dapat mengambil pekerjaan jangka pendek tanpa harus terikat dalam hubungan kerja tetap. Dalam kajian sosiologi digital, Rusfadia juga menyoroti beberapa konsep penting yang menjadi fokus penelitian. Salah satunya adalah isu akses terhadap informasi. Ia menjelaskan bahwa kemiskinan informasi tidak hanya berkaitan dengan kepemilikan perangkat teknologi, tetapi juga terkait dengan kemampuan individu dalam mengakses, memproses, dan memanfaatkan informasi secara efektif. Konsep lain yang dibahas adalah public sphere atau ruang publik digital. Dalam konteks ini, Rusfadia mengutip pemikiran sosiolog Colin Sparks yang menekankan dua unsur penting dalam ruang publik, yaitu adanya jaminan akses bagi seluruh warga serta hak masyarakat untuk bernegosiasi dan berpartisipasi secara bebas dalam diskursus publik. Di akhir pemaparannya, Rusfadia menyoroti pentingnya analisis big data dalam penelitian sosial kontemporer. Big data umumnya dipahami sebagai kumpulan data dalam jumlah besar yang memiliki karakteristik beragam, kompleks, dan sering kali tidak terstruktur. Metode analisis big data awalnya berkembang dalam ilmu pengetahuan alam, namun kini telah banyak digunakan dalam berbagai bidang seperti bisnis, industri permainan video, hingga ilmu sosial. Kegiatan The Eurasia International Course 2026 – Session 2 ini diharapkan dapat memperluas pemahaman mahasiswa dan akademisi mengenai perkembangan sosiologi digital serta implikasinya terhadap kehidupan sosial di era teknologi. Selain itu, diskusi yang berlangsung juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan mengenai bagaimana ilmu sosial dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital yang terus berkembang. [] Penulis: AF, GS, SS Editor: TIM FISH MEDIA CENTER 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (35) Kemahasiswaan (17) Penelitian (9) Pengabdian (10) Pengajaran (25) Pengumuman (3) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (5) Prodi (19) Program Unggulan (36) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
FISH UNJ Perkuat Strategi Capaian IKU Berdampak melalui Forum Audiensi Fakultas
Jakarta, 5 Maret 2026 — Kegiatan audiensi Indikator Kinerja Utama (IKU) Berdampak Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum tahun 2026, telah dilakukan bersama dekanat di Ruang 212, Gedung K FISH UNJ. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya fakultas dalam memahami serta mengoptimalkan penerapan IKU sebagai tolak ukur keberhasilan kinerja di tingkat fakultas. Kegiatan ini dibuka oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Firdaus Wajdi, M.A., Ph.D., dalam sambutannya beliau menekankan pentingnya pemahaman bersama mengenai IKU sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas kinerja akademik dan institusi di lingkungan fakultas. Dalam kegiatan tersebut, pemaparan materi mengenai Indikator Kinerja Utama disampaikan oleh Prof. Dr Umiatin, M.Si dan Erika Takidah, SE, AK., M.Si., CA, Ph.D. Keduanya menjelaskan berbagai indikator yang menjadi dasar penilaian kinerja perguruan tinggi serta bagaimana implementasi IKU dapat diterapkan secara optimal di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum. Indikator Kinerja Utama (IKU) merupakan instrumen yang digunakan oleh perguruan tinggi untuk mengukur capaian kinerja dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam konteks Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, pembahasan mengenai IKU menjadi penting karena berkaitan langsung dengan upaya peningkatan kualitas akademik, pengembangan penelitian, serta kontribusi nyata fakultas kepada masyarakat. Melalui pembahasan ini, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum berupaya memperkuat pemahaman mengenai indikator-indikator yang menjadi penilaian kinerja perguruan tinggi, sekaligus menyesuaikan berbagai program dan kegiatan yang ada di lingkungan fakultas agar sejalan dengan target capaian IKU. Hal ini diharapkan dapat mendorong setiap program studi, unit kerja, serta seluruh civitas akademika di lingkungan FISH untuk berperan aktif dalam meningkatkan mutu pendidikan dan kinerja institusi. Kegiatan ini juga menjadi ruang diskusi untuk mengevaluasi berbagai langkah yang telah dilakukan serta merumuskan strategi yang dapat mendukung pencapaian target IKU di Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum. Dengan adanya pembahasan ini, diharapkan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta dapat terus meningkatkan kualitas pelaksanaan tridarma perguruan tinggi serta memperkuat kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pelayanan kepada masyarakat (NR & GS). Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (34) Kemahasiswaan (17) Penelitian (9) Pengabdian (10) Pengajaran (24) Pengumuman (3) Penjaminan Mutu (38) Prestasi (5) Prodi (19) Program Unggulan (36) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
UNJ Eurasia 2026 Dorong Internasionalisasi FISH UNJ Melalui Pembahasan AI dan Industri Kreatif Asia Tenggara
Jakarta, 2 Maret 2026 — Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) menyelenggarakan kegiatan The Eurasia International Course 2026 – Session 1 dengan tema “Information Society, Artificial Intelligence, and Creative Industries in Southeast Asia”. Kegiatan ini menghadirkan Assoc. Prof. Asawin Nedpogaeo, Ph.D. dari National Institute of Development Administration (NIDA), Thailand, sebagai narasumber utama yang membahas perkembangan masyarakat informasi serta peran kecerdasan buatan dalam industri kreatif di kawasan Asia Tenggara. Acara yang berlangsung di Ruang Serba Guna, Gedung K FISH UNJ ini dimulai pada pukul 12.45 WIB dengan sesi registrasi peserta sekaligus pengecekan teknis. Peserta yang terdiri dari mahasiswa dan sivitas akademika mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang untuk memperluas wawasan mengenai transformasi digital dan dampaknya terhadap perkembangan industri kreatif di era teknologi. Memasuki pukul 13.00 WIB, kegiatan resmi dibuka oleh pembawa acara yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari pihak penyelenggara atau perwakilan departemen pada pukul 13.05 WIB. Dalam sambutannya, penyelenggara menyampaikan pentingnya kolaborasi akademik internasional dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, khususnya terkait pemanfaatan kecerdasan buatan di berbagai sektor. Sesi utama berupa public lecture oleh Assoc. Prof. Asawin Nedpogaeo yang berlangsung mulai pukul 13.10 hingga 13.55 WIB. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bagaimana konsep information society berkembang seiring dengan kemajuan teknologi digital serta bagaimana kecerdasan buatan mulai memainkan peran strategis dalam mendorong inovasi di sektor industri kreatif. Ia juga menyoroti peluang dan tantangan yang dihadapi negara-negara di Asia Tenggara dalam memanfaatkan teknologi tersebut secara optimal. Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan panel discussion atau diskusi terarah pada pukul 13.55 hingga 14.25 WIB. Pada sesi ini, berbagai pandangan dan perspektif mengenai pemanfaatan teknologi digital serta implikasinya terhadap ekonomi kreatif dibahas secara lebih mendalam. Diskusi ini menjadi ruang bagi peserta untuk memahami isu tersebut dari sudut pandang akademik maupun praktik. Interaksi dengan peserta semakin aktif pada sesi tanya jawab yang berlangsung pukul 14.25 hingga 14.50 WIB. Para peserta memanfaatkan kesempatan ini untuk mengajukan berbagai pertanyaan terkait perkembangan kecerdasan buatan, transformasi digital, serta peluang pengembangan industri kreatif di kawasan Asia Tenggara. Kegiatan kemudian ditutup dengan closing remarks pada pukul 14.50 WIB yang merangkum poin-poin penting dari diskusi yang telah berlangsung. Sebagai bentuk apresiasi, penyelenggara juga menyerahkan sertifikat kepada narasumber atas kontribusinya dalam berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada peserta. Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan panel discussion atau diskusi terarah pada pukul 13.55 hingga 14.25 WIB. Pada sesi ini, berbagai pandangan dan perspektif mengenai pemanfaatan teknologi digital serta implikasinya terhadap ekonomi kreatif dibahas secara lebih mendalam. Diskusi ini menjadi ruang bagi peserta untuk memahami isu tersebut dari sudut pandang akademik maupun praktik. Interaksi dengan peserta semakin aktif pada sesi tanya jawab yang berlangsung pukul 14.25 hingga 14.50 WIB. Para peserta memanfaatkan kesempatan ini untuk mengajukan berbagai pertanyaan terkait perkembangan kecerdasan buatan, transformasi digital, serta peluang pengembangan industri kreatif di kawasan Asia Tenggara. Kegiatan kemudian ditutup dengan closing remarks pada pukul 14.50 WIB yang merangkum poin-poin penting dari diskusi yang telah berlangsung. Sebagai bentuk apresiasi, penyelenggara juga menyerahkan sertifikat kepada narasumber atas kontribusinya dalam berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada peserta. Sesi dokumentasi bersama antara narasumber, panitia, dan peserta kegiatan menjadi penutup kegiatan hari ini. Melalui penyelenggaraan The Eurasia International Course 2026, FISH UNJ berharap dapat memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus mendorong peningkatan pemahaman mahasiswa mengenai perkembangan teknologi, masyarakat informasi, dan peluang industri kreatif di tingkat regional maupun global. Penulis: JRPS, BMF, LM Editor: TIM FISH MEDIA CENTER 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (34) Kemahasiswaan (17) Penelitian (9) Pengabdian (10) Pengajaran (24) Pengumuman (3) Penjaminan Mutu (37) Prestasi (5) Prodi (19) Program Unggulan (35) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru
FISH UNJ dan NIDA Thailand Perkuat Kerja Sama Internasional melalui Penandatanganan MoA
Jakarta, 2 Maret 2026 – Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggelar Focus Group Discussion (FGD) kerja sama internasional bersama National Institute of Development Administration (NIDA), Thailand, sebagai langkah strategis dalam memperkuat kolaborasi akademik di bidang pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung K FISH UNJ Lantai 2, Ruang 212, yang menjadikan forum dialog produktif untuk merumuskan arah kemitraan yang berkelanjutan dan berorientasi pada peningkatan daya saing global. Kegiatan dihadiri langsung oleh Dekan FISH UNJ, Firdaus Wajdi, M.A., Ph.D., serta Associate Professor sekaligus Dekan Graduate School of Communication Arts Management and Innovation dari National Institute of Development Administration (NIDA) Thailand, Asawin Nedpogaeo, Ph.D. Turut hadir jajaran Wakil Dekan FISH UNJ, Ketua dan Sekretaris Senat Akademik FISH, serta para Koordinator Program Studi. Kegiatan dibuka oleh Duta FISH UNJ dan dilanjutkan dengan sambutan Firdaus Wajdi, M.A., Ph.D., selaku Dekan FISH, beliau menyampaikan apresiasi atas kehadiran delegasi NIDA Thailand sekaligus menegaskan pentingnya memperluas jejaring akademik internasional sebagai bagian dari penguatan tridarma perguruan tinggi. Dalam sambutannya, dekan FISH UNJ juga menegaskan komitmen fakultas untuk membangun kerja sama jangka panjang yang berkelanjutan. “We really would like to have a long-term cooperation with your university, particularly in research, teaching, and community services. We hope this discussion will open opportunities for academic exchange, involving our staff and students in international programs at your institution,” ujarnya. Memasuki agenda berikutnya, FISH UNJ memaparkan profil fakultas yang mencakup visi, program studi, capaian akademik, serta berbagai program yang telah dan akan dikembangkan. Pemaparan ini bertujuan memberikan gambaran komprehensif mengenai potensi kerja sama yang dapat dijajaki kedua institusi. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif antara jajaran pimpinan dan perwakilan program studi dari kedua institusi. Diskusi membahas peluang kolaborasi konkret, mencakup kerja sama dalam bidang pendidikan, riset, serta pertukaran dosen dan mahasiswa. Dalam paparannya, Prof. Asawin menyampaikan bahwa NIDA membuka peluang bagi lulusan FISH UNJ, khususnya dari Program Studi Ilmu Komunikasi, untuk melanjutkan studi magister di Thailand. Ia menegaskan bahwa NIDA memiliki program internasional berbahasa Inggris yang dirancang untuk menjangkau mahasiswa dari berbagai negara. Menurutnya, bidang komunikasi di Thailand telah berkembang pesat selama lebih dari empat dekade, seiring dengan pertumbuhan industri media. Dalam 15 tahun terakhir, NIDA melakukan transformasi kurikulum dengan memasukkan aspek inovasi dan teknologi digital ke dalam studi komunikasi. “Communication in Thailand has been popular for more than 40 years. But today, we move forward with innovation and digital integration, digital marketing, data analytics, big data, and AI. Communication is no longer only about traditional media, but also about virtual and digital transformation,” jelasnya. Diskusi tersebut juga menyinggung peluang pemberian beasiswa bagi mahasiswa internasional serta kemungkinan kerja sama penelitian tematik dalam bidang komunikasi, media digital, dan isu-isu sosial kontemporer. Hal ini disambut antusias oleh para Koordinator Program Studi yang melihat potensi besar kolaborasi lintas negara dalam penguatan kapasitas akademik dan internasionalisasi kurikulum. Dalam rangkaian kegiatan ini, kedua institusi juga melakukan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) sebagai payung hukum kerja sama yang mencakup bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Penandatanganan ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat komitmen kolaborasi jangka panjang antara Universitas Negeri Jakarta melalui FISH UNJ dan NIDA Thailand. Assoc. Prof. Asawin Nedpogaeo, Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dari FISH UNJ serta menegaskan pentingnya kolaborasi lintas negara di kawasan Asia. “I am glad to be here. Collaboration is very significant for us. In Thailand, we believe that strong academic communication and international partnerships are essential, otherwise institutions will be left behind. That is why this year we emphasize special collaborations like this,” ujarnya. Ia juga menjelaskan bahwa NIDA memiliki struktur pendidikan yang kuat, dengan penekanan pada riset dan tahapan akademik yang sistematis, di mana mahasiswa menyelesaikan sejumlah mata kuliah inti sebelum memasuki fase penelitian. Menurutnya, model tersebut membuka peluang besar untuk kolaborasi riset bersama dan pertukaran akademik antar institusi. Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol kemitraan yang telah terjalin, sekaligus penegasan komitmen kedua belah pihak untuk menindaklanjuti hasil diskusi dalam program-program kolaboratif yang konkret dan berkelanjutan. Sebagai mitra strategis, National Institute of Development Administration (NIDA) merupakan salah satu institusi pendidikan tinggi terkemuka di Thailand yang berfokus pada bidang administrasi publik, kebijakan, pembangunan, dan ilmu sosial. Berdasarkan SCImago Institutions Rankings (SIR) 2025, NIDA secara konsisten menempati posisi 10 besar nasional di Thailand. SCImago Institutions Rankings merupakan sistem pemeringkatan global yang disusun berdasarkan kinerja publikasi ilmiah, tingkat sitasi, serta dampak penelitian yang terindeks dalam basis data Elsevier Scopus. Capaian tersebut menunjukkan bahwa NIDA memiliki reputasi akademik yang kuat serta kontribusi signifikan dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat global. Kolaborasi ini sekaligus menegaskan komitmen FISH UNJ untuk bermitra dengan institusi bereputasi internasional dalam rangka meningkatkan daya saing dan eksposur global sivitas akademika. Penulis: MARL, HH, & JAH Editor: TIM FISH MEDIA CENTER 2026 Share this article Pencarian More than 2 results are available in the PRO version (This notice is only visible to admin users) Kategori Berita Berita (458) Internasionalisasi (33) Kemahasiswaan (17) Penelitian (9) Pengabdian (10) Pengajaran (23) Pengumuman (3) Penjaminan Mutu (37) Prestasi (5) Prodi (19) Program Unggulan (35) Tak Berkategori (12) Tata Kelola (21) Zona Integritas (3) Berita Terbaru