Keikutsertaan dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Negeri Jakarta dalam Seminar Nasional MKWK dan Sarasehan Nasional Isu-Isu Kebangsaan di Mataram, Lombok, pada 26–27 Agustus 2026, menjadi lebih dari sekadar agenda akademik. Ia menjadi ruang untuk berbagi gagasan, mempertemukan pengalaman, memperkuat jejaring, sekaligus meneguhkan kembali posisi Pendidikan Agama Islam dalam menjawab tantangan kehidupan mahasiswa dan masyarakat yang terus berubah. Dalam forum nasional yang mempertemukan berbagai perguruan tinggi tersebut, PAI UNJ hadir melalui Dr. Andy Hadiyanto, Dr. Sari Narulita, Dr. Rihlah Nur Aulia, Mushlihin, M.A., dan Rudi Barnansyah. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa dosen PAI tidak hanya menjalankan peran di ruang kelas, tetapi juga aktif berpartisipasi dalam percakapan akademik nasional tentang arah pendidikan tinggi, karakter, kebangsaan, dan masa depan generasi muda.
Rangkaian kegiatan berlangsung selama 2 hari. Hari pertama diisi dengan seminar dan rapat kerja nasional, sedangkan hari kedua menghadirkan invited speaker, presentasi paralel, pengumuman pemenang, dan dilanjutkan dengan Sasambo Archipelagic Study and Tour. Dalam rangkaian tersebut, Dr. Andy Hadiyanto tampil sebagai salah satu narasumber pada sesi invited speaker. Sementara itu, Dr. Sari Narulita, Dr. Rihlah Nur Aulia, dan Mushlihin, M.A. menyampaikan gagasan dan pemikiran mereka dalam sesi presentasi paralel. Rudi Barnansyah turut hadir sebagai bagian dari delegasi PAI UNJ. Dengan demikian, kontribusi PAI UNJ tidak berhenti pada kehadiran, tetapi juga hadir melalui gagasan, penelitian, refleksi, dan praktik akademik yang dibawa ke ruang nasional.
Gagasan yang disampaikan Dr. Andy Hadiyanto menjadi salah satu titik penting dalam forum tersebut. Pendidikan agama di perguruan tinggi perlu direorientasi agar tidak berhenti pada pembentukan kesalehan personal, tetapi mampu melahirkan mahasiswa yang memiliki karakter, kepekaan sosial, dan kemampuan menerjemahkan nilai-nilai agama ke dalam kehidupan nyata. Pendidikan agama harus mampu menjembatani nilai-nilai keislaman dengan persoalan kemanusiaan, kebangsaan, lingkungan, etika digital, keberagaman, serta berbagai tantangan kehidupan kontemporer. Dengan cara pandang ini, agama tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan yang selesai ketika perkuliahan berakhir, tetapi sebagai sumber nilai yang membentuk cara mahasiswa berpikir, bersikap, mengambil keputusan, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Perspektif tersebut menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan posisi MKWK sebagai mata kuliah strategis dalam membentuk karakter mahasiswa. PAI memiliki peluang besar untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya menjawab pertanyaan “apa yang harus diyakini”, tetapi juga “bagaimana keyakinan itu diwujudkan dalam kehidupan”. Nilai kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, keadilan, penghormatan terhadap perbedaan, kepedulian terhadap lingkungan, serta semangat membangun kehidupan bersama merupakan nilai agama yang sekaligus relevan dengan agenda pembangunan berkelanjutan.
Semangat itu juga tercermin dalam karya yang dipresentasikan oleh para dosen PAI UNJ. Dr. Sari Narulita mengangkat tema “Menghadapi Hambatan Akademik dan Teknis: Resiliensi Mahasiswa Tunanetra Prodi PAI dalam Perkuliahan MKU”. Tema ini memperlihatkan pentingnya menghadirkan pendidikan yang inklusif dan memastikan bahwa setiap mahasiswa memperoleh kesempatan yang setara untuk berkembang. Pendidikan berkualitas tidak cukup hanya berbicara mengenai capaian akademik, tetapi juga mengenai kemampuan perguruan tinggi dalam menciptakan lingkungan belajar yang ramah terhadap keberagaman kondisi mahasiswa.
Dr. Rihlah Nur Aulia, melalui kajian “Revitalisasi Tata Kelola MKWK: Mengurai Problematika dan Merumuskan Inovasi Pengembangan SDM”, mengajak peserta untuk melihat bahwa kualitas MKWK juga sangat ditentukan oleh tata kelola dan kesiapan sumber daya manusia. Pembelajaran yang baik membutuhkan ekosistem yang baik. Karena itu, penguatan PAI tidak hanya membutuhkan inovasi materi dan metode pembelajaran, tetapi juga penguatan kapasitas dosen, tata kelola, kolaborasi antarperguruan tinggi, serta keberanian untuk melakukan pembaruan.
Sementara itu, Mushlihin, S.Pd.I., M.A. mengangkat tema “Rekontekstualisasi Nilai-Nilai Agama Sebagai Pedoman Hidup Kontemporer: Analisis Arah Baru Kebijakan KMA No. 158 Tahun 2026.” Gagasan tersebut mendapatkan apresiasi melalui penghargaan sebagai Best Presenter. Pencapaian ini tentu patut diapresiasi bukan hanya sebagai prestasi personal, tetapi juga sebagai bagian dari capaian PAI UNJ dalam forum akademik nasional. Ia menunjukkan bahwa gagasan tentang pendidikan agama yang kontekstual memiliki ruang yang kuat untuk dibahas, dikembangkan, dan dikolaborasikan pada tingkat nasional.
Jika ditarik lebih jauh, seluruh kontribusi tersebut memiliki irisan yang kuat dengan Sustainable Development Goals (SDGs). PAI dapat mengambil peran nyata dalam mewujudkan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, melalui pembelajaran yang inklusif, relevan, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Perhatian terhadap mahasiswa tunanetra juga berkelindan dengan SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, karena pendidikan yang berkeadilan harus memastikan bahwa keterbatasan tertentu tidak menjadi alasan bagi seseorang untuk kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan bermutu. Penguatan karakter, moderasi beragama, etika, tanggung jawab sosial, dan kehidupan bersama yang damai relevan dengan SDG 16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh. Sementara itu, forum nasional yang mempertemukan berbagai perguruan tinggi dalam pengembangan MKWK menjadi bagian dari semangat SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Dari perspektif PAI, SDGs dengan demikian tidak perlu dipandang sebagai agenda yang berdiri di luar agama. Sebaliknya, ia dapat menjadi ruang untuk mengaktualisasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan agama berbicara tentang manusia yang bermartabat; SDGs berbicara tentang pembangunan yang tidak meninggalkan manusia. Pendidikan agama mengajarkan tanggung jawab; pembangunan berkelanjutan membutuhkan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan. Pendidikan agama menanamkan kepedulian dan keadilan; pembangunan berkelanjutan membutuhkan keberpihakan terhadap kelompok yang rentan dan terpinggirkan. Di titik inilah PAI memiliki peluang untuk memberikan kontribusi yang khas: menghadirkan dimensi moral dan spiritual dalam agenda pembangunan manusia.
Rangkaian kegiatan di Lombok kemudian ditutup dengan Sasambo Archipelagic Study and Tour. Kunjungan ke Penginang Lombok di kawasan Sukarara, Desa Ende, dan Sirkuit Mandalika memberikan pengalaman yang melengkapi ruang akademik yang telah berlangsung sebelumnya. Perjalanan tersebut dapat dimaknai sebagai pembelajaran kontekstual tentang bagaimana budaya, masyarakat, identitas, kreativitas, dan modernitas berjalan berdampingan. Sukarara menghadirkan kekayaan tradisi dan kerajinan lokal; Desa Ende memperlihatkan kehidupan budaya masyarakat; sementara Mandalika menggambarkan wajah pembangunan dan modernitas Indonesia.
Bagi PAI, pengalaman tersebut memiliki makna tersendiri. Pendidikan agama tidak semestinya hanya berlangsung melalui teks dan ruang kelas. Kehidupan masyarakat adalah ruang belajar yang luas. Budaya adalah ruang untuk memahami kearifan. Perjumpaan dengan masyarakat adalah ruang untuk membangun empati. Perubahan sosial adalah ruang untuk menguji relevansi nilai. Bahkan perjalanan wisata pun dapat menjadi ruang refleksi tentang bagaimana manusia menjaga identitas, mengembangkan potensi ekonomi, menghormati lingkungan, dan membangun kehidupan bersama.
Dari Lombok, para dosen PAI UNJ membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman seminar dan perjalanan. Mereka membawa gagasan bahwa pendidikan agama harus terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman tanpa kehilangan akar nilai-nilai. PAI perlu hadir sebagai pendidikan yang membentuk manusia beragama sekaligus manusia yang mampu hidup bersama, berpikir kritis, menghargai perbedaan, peduli terhadap sesama, dan bertanggung jawab terhadap masa depan.
Pada akhirnya, keikutsertaan PAI UNJ dalam forum nasional MKWK 2026 menjadi bagian dari perjalanan untuk memperluas makna pendidikan agama. PAI tidak cukup hanya mengajarkan apa yang benar, tetapi juga perlu membentuk kemampuan mahasiswa untuk menghadirkan kebenaran itu dalam tindakan yang bermanfaat. Nilai agama harus menjadi karakter, karakter harus menjadi tindakan, dan tindakan harus memberi dampak bagi kehidupan.
Dari ruang seminar di Mataram hingga perjumpaan dengan budaya Lombok, dari presentasi ilmiah hingga penghargaan Best Presenter, dari pembahasan MKWK hingga refleksi tentang SDGs, semuanya bermuara pada satu ikhtiar: menghadirkan Pendidikan Agama Islam yang semakin kontekstual, inklusif, humanis, dan berdampak dalam mewujudkan generasi berkarakter menuju Indonesia Emas 2045.