Pesantren memiliki posisi strategis dalam pengembangan pendidikan Islam yang responsif terhadap berbagai tantangan sosial dan ekologis kontemporer. Selain menjalankan fungsi pendidikan keagamaan, pesantren memiliki potensi untuk membangun kesadaran ekologis, mengembangkan praktik keberlanjutan, serta membentuk karakter masyarakat yang peduli terhadap lingkungan. Perspektif tersebut menjadi salah satu pijakan bagi kunjungan tim Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ke Pesantren Nurul Haramain, Lombok, pada 28 Agustus 2026.
Kunjungan ini merupakan bagian dari International Collaboration Research dengan judul “Sustainable Ecopesantren Education Management Model for Disaster Mitigation Strategies and SDGs Achievement”. Penelitian ini diketuai oleh Dr. Rihlah Nur Aulia, MA, bersama tim dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UNJ, yaitu Dr. Sari Narulita dan Mushlihin, MA. Penelitian ini dikembangkan melalui kolaborasi internasional dengan Assoc. Prof. Dr. Khalilah Zakariya dari Department of Landscape Architecture, Kuliyyah of Architecture and Environmental Design, International Islamic University Malaysia.
Kehadiran tim peneliti di Pesantren Nurul Haramain diarahkan untuk memperoleh pemahaman empiris mengenai praktik pengelolaan pendidikan yang mengintegrasikan dimensi keislaman dan kepedulian terhadap ekologi. Tim berkesempatan berdialog dengan pimpinan pondok pesantren serta mengamati secara langsung berbagai upaya yang telah dikembangkan untuk membangun lingkungan pendidikan berbasis kesadaran ekologis.
Nurul Haramain dipandang memiliki posisi penting dalam konteks tersebut karena dikenal sebagai salah satu pelopor pesantren ekoteologi. Konsep ini menempatkan relasi manusia dengan lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan. Dengan perspektif demikian, pendidikan lingkungan tidak ditempatkan sebagai agenda yang berdiri sendiri, melainkan diintegrasikan dengan nilai, praktik, dan budaya kehidupan pesantren.
Perspektif tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan fokus penelitian yang dikembangkan oleh tim PAI UNJ. Perubahan lingkungan dan meningkatnya risiko bencana menuntut pendekatan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan kesadaran, karakter, kapasitas adaptasi, serta perilaku yang mendukung keberlanjutan. Pesantren, dengan karakter pendidikan yang berlangsung secara integratif antara pembelajaran dan kehidupan sehari-hari, memiliki potensi besar untuk menjadi ruang pengembangan model pendidikan tersebut.
Melalui penelitian ini, tim berupaya mengkaji kemungkinan pengembangan model manajemen pendidikan ekopesantren yang berkelanjutan, yang dapat berkontribusi pada strategi mitigasi bencana sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pengalaman empiris yang berkembang di Nurul Haramain menjadi salah satu sumber penting untuk memahami bagaimana prinsip keberlanjutan dapat diimplementasikan dalam konteks pendidikan Islam.
Kunjungan tersebut juga memiliki dimensi kelembagaan yang semakin kuat dengan turut hadirnya Dr. Andy Hadiyanto, Wakil Rektor IV UNJ, serta Rudi M. Barnansyah, MA, dari unsur kerja sama universitas. Kehadiran unsur pimpinan dan bidang kerja sama UNJ menunjukkan bahwa agenda riset ini tidak hanya diarahkan pada pengembangan pengetahuan akademik, tetapi juga pada penguatan jejaring dan kemitraan kelembagaan.
Dalam konteks tersebut, pertemuan dengan pimpinan Pesantren Nurul Haramain menjadi momentum strategis untuk menjajaki kerja sama antara Pesantren Nurul Haramain dan Universitas Negeri Jakarta. Kerja sama yang berpotensi dikembangkan tidak hanya mencakup penelitian, tetapi juga pertukaran pengetahuan, pengembangan kapasitas, pendidikan, serta berbagai program akademik yang relevan dengan isu keberlanjutan dan penguatan pendidikan Islam.
Kolaborasi ini sekaligus memperlihatkan pentingnya membangun ekosistem pengetahuan yang mempertemukan perguruan tinggi, pesantren, dan mitra internasional. Perguruan tinggi memiliki kapasitas akademik dan metodologis, pesantren memiliki pengalaman praksis dan basis komunitas, sedangkan kolaborasi internasional membuka perspektif komparatif serta memperluas jejaring keilmuan. Sinergi ketiganya dapat menghasilkan pendekatan yang lebih kontekstual sekaligus relevan secara lebih luas.
Bagi Program Studi Pendidikan Agama Islam UNJ, penelitian ini memperkuat komitmen untuk mengembangkan pendidikan Islam yang mampu merespons persoalan-persoalan aktual. Isu lingkungan, mitigasi bencana, dan pembangunan berkelanjutan tidak semestinya ditempatkan di luar diskursus pendidikan agama. Sebaliknya, nilai-nilai keislaman dapat menjadi landasan etik dalam membangun kesadaran ekologis, tanggung jawab sosial, serta perilaku yang mendukung keberlanjutan.
Dengan demikian, kunjungan ke Pesantren Nurul Haramain tidak berhenti menjadi agenda pengumpulan data penelitian. Ia menjadi bagian dari proses membangun dialog akademik dan kelembagaan untuk menemukan praktik pendidikan yang relevan dengan tantangan masa depan.
Dari Lombok, riset tentang ekopesantren menemukan ruang dialog yang lebih luas: mempertemukan nilai keislaman, kesadaran ekologis, mitigasi bencana, agenda SDGs, dan kolaborasi internasional dalam satu ikhtiar membangun pendidikan yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, keberlanjutan bukan hanya persoalan bagaimana menjaga lingkungan, tetapi juga bagaimana mendidik manusia agar memiliki pengetahuan, kesadaran, dan tanggung jawab untuk melestarikannya. Di titik inilah pesantren memiliki peluang strategis untuk berkontribusi dalam membangun masyarakat yang tangguh, berkelanjutan, dan berorientasi pada kemaslahatan.


