Terakreditasi Unggul — LAMDIK 2027

Program Studi

Pendidikan Agama Islam

Prodi keagamaan Islam pertama di Perguruan Tinggi Umum di lingkungan Kemdiktisaintek RI. Menyiapkan pendidik yang moderat, kompeten, dan berwawasan global sejak 2004.

Tentang

Pendidikan Agama Islam UNJ

Akreditasi

Unggul

17

Dosen

500

Mahasiswa

400

Alumni

Dr. Sari Narulita, Lc., M.Si​

Koordinator Prodi S1 PAI UNJ​

SAMBUTAN

Selamat datang di rumah belajar calon pendidik Islam

"Kami percaya guru agama masa depan bukan hanya penguasa teks, tetapi juga pembaca zaman."

Program Studi Pendidikan Agama Islam FISH UNJ hadir untuk menyiapkan pendidik yang menguasai khazanah keislaman sekaligus cakap membaca tantangan pendidikan kontemporer.

Sejak berdiri pada 2004, kami konsisten mengusung moderasi beragama sebagai ruh pembelajaran.

INFORMASI

Berita Terbaru

Pesantren memiliki posisi strategis dalam pengembangan pendidikan Islam yang responsif terhadap berbagai tantangan sosial dan ekologis kontemporer. Selain menjalankan fungsi pendidikan keagamaan, pesantren memiliki potensi untuk membangun kesadaran ekologis, mengembangkan praktik keberlanjutan, serta membentuk karakter masyarakat yang peduli terhadap lingkungan. Perspektif tersebut menjadi salah satu pijakan bagi kunjungan tim Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ke Pesantren Nurul Haramain, Lombok, pada 28 Agustus 2026.

Kunjungan ini merupakan bagian dari International Collaboration Research dengan judul “Sustainable Ecopesantren Education Management Model for Disaster Mitigation Strategies and SDGs Achievement”. Penelitian ini diketuai oleh Dr. Rihlah Nur Aulia, MA, bersama tim dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UNJ, yaitu Dr. Sari Narulita dan Mushlihin, MA. Penelitian ini dikembangkan melalui kolaborasi internasional dengan Assoc. Prof. Dr. Khalilah Zakariya dari Department of Landscape Architecture, Kuliyyah of Architecture and Environmental Design, International Islamic University Malaysia.

Kehadiran tim peneliti di Pesantren Nurul Haramain diarahkan untuk memperoleh pemahaman empiris mengenai praktik pengelolaan pendidikan yang mengintegrasikan dimensi keislaman dan kepedulian terhadap ekologi. Tim berkesempatan berdialog dengan pimpinan pondok pesantren serta mengamati secara langsung berbagai upaya yang telah dikembangkan untuk membangun lingkungan pendidikan berbasis kesadaran ekologis.

Nurul Haramain dipandang memiliki posisi penting dalam konteks tersebut karena dikenal sebagai salah satu pelopor pesantren ekoteologi. Konsep ini menempatkan relasi manusia dengan lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan. Dengan perspektif demikian, pendidikan lingkungan tidak ditempatkan sebagai agenda yang berdiri sendiri, melainkan diintegrasikan dengan nilai, praktik, dan budaya kehidupan pesantren.

Perspektif tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan fokus penelitian yang dikembangkan oleh tim PAI UNJ. Perubahan lingkungan dan meningkatnya risiko bencana menuntut pendekatan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan kesadaran, karakter, kapasitas adaptasi, serta perilaku yang mendukung keberlanjutan. Pesantren, dengan karakter pendidikan yang berlangsung secara integratif antara pembelajaran dan kehidupan sehari-hari, memiliki potensi besar untuk menjadi ruang pengembangan model pendidikan tersebut.

Melalui penelitian ini, tim berupaya mengkaji kemungkinan pengembangan model manajemen pendidikan ekopesantren yang berkelanjutan, yang dapat berkontribusi pada strategi mitigasi bencana sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pengalaman empiris yang berkembang di Nurul Haramain menjadi salah satu sumber penting untuk memahami bagaimana prinsip keberlanjutan dapat diimplementasikan dalam konteks pendidikan Islam.

Kunjungan tersebut juga memiliki dimensi kelembagaan yang semakin kuat dengan turut hadirnya Dr. Andy Hadiyanto, Wakil Rektor IV UNJ, serta Rudi M. Barnansyah, MA, dari unsur kerja sama universitas. Kehadiran unsur pimpinan dan bidang kerja sama UNJ menunjukkan bahwa agenda riset ini tidak hanya diarahkan pada pengembangan pengetahuan akademik, tetapi juga pada penguatan jejaring dan kemitraan kelembagaan.

Dalam konteks tersebut, pertemuan dengan pimpinan Pesantren Nurul Haramain menjadi momentum strategis untuk menjajaki kerja sama antara Pesantren Nurul Haramain dan Universitas Negeri Jakarta. Kerja sama yang berpotensi dikembangkan tidak hanya mencakup penelitian, tetapi juga pertukaran pengetahuan, pengembangan kapasitas, pendidikan, serta berbagai program akademik yang relevan dengan isu keberlanjutan dan penguatan pendidikan Islam.

Kolaborasi ini sekaligus memperlihatkan pentingnya membangun ekosistem pengetahuan yang mempertemukan perguruan tinggi, pesantren, dan mitra internasional. Perguruan tinggi memiliki kapasitas akademik dan metodologis, pesantren memiliki pengalaman praksis dan basis komunitas, sedangkan kolaborasi internasional membuka perspektif komparatif serta memperluas jejaring keilmuan. Sinergi ketiganya dapat menghasilkan pendekatan yang lebih kontekstual sekaligus relevan secara lebih luas.

Bagi Program Studi Pendidikan Agama Islam UNJ, penelitian ini memperkuat komitmen untuk mengembangkan pendidikan Islam yang mampu merespons persoalan-persoalan aktual. Isu lingkungan, mitigasi bencana, dan pembangunan berkelanjutan tidak semestinya ditempatkan di luar diskursus pendidikan agama. Sebaliknya, nilai-nilai keislaman dapat menjadi landasan etik dalam membangun kesadaran ekologis, tanggung jawab sosial, serta perilaku yang mendukung keberlanjutan.

Dengan demikian, kunjungan ke Pesantren Nurul Haramain tidak berhenti menjadi agenda pengumpulan data penelitian. Ia menjadi bagian dari proses membangun dialog akademik dan kelembagaan untuk menemukan praktik pendidikan yang relevan dengan tantangan masa depan.

Dari Lombok, riset tentang ekopesantren menemukan ruang dialog yang lebih luas: mempertemukan nilai keislaman, kesadaran ekologis, mitigasi bencana, agenda SDGs, dan kolaborasi internasional dalam satu ikhtiar membangun pendidikan yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, keberlanjutan bukan hanya persoalan bagaimana menjaga lingkungan, tetapi juga bagaimana mendidik manusia agar memiliki pengetahuan, kesadaran, dan tanggung jawab untuk melestarikannya. Di titik inilah pesantren memiliki peluang strategis untuk berkontribusi dalam membangun masyarakat yang tangguh, berkelanjutan, dan berorientasi pada kemaslahatan.

Keikutsertaan dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Negeri Jakarta dalam Seminar Nasional MKWK dan Sarasehan Nasional Isu-Isu Kebangsaan di Mataram, Lombok, pada 26–27 Agustus 2026, menjadi lebih dari sekadar agenda akademik. Ia menjadi ruang untuk berbagi gagasan, mempertemukan pengalaman, memperkuat jejaring, sekaligus meneguhkan kembali posisi Pendidikan Agama Islam dalam menjawab tantangan kehidupan mahasiswa dan masyarakat yang terus berubah. Dalam forum nasional yang mempertemukan berbagai perguruan tinggi tersebut, PAI UNJ hadir melalui Dr. Andy Hadiyanto, Dr. Sari Narulita, Dr. Rihlah Nur Aulia, Mushlihin, M.A., dan Rudi Barnansyah. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa dosen PAI tidak hanya menjalankan peran di ruang kelas, tetapi juga aktif berpartisipasi dalam percakapan akademik nasional tentang arah pendidikan tinggi, karakter, kebangsaan, dan masa depan generasi muda.

Rangkaian kegiatan berlangsung selama 2 hari. Hari pertama diisi dengan seminar dan rapat kerja nasional, sedangkan hari kedua menghadirkan invited speaker, presentasi paralel, pengumuman pemenang, dan dilanjutkan dengan Sasambo Archipelagic Study and Tour. Dalam rangkaian tersebut, Dr. Andy Hadiyanto tampil sebagai salah satu narasumber pada sesi invited speaker. Sementara itu, Dr. Sari Narulita, Dr. Rihlah Nur Aulia, dan Mushlihin, M.A. menyampaikan gagasan dan pemikiran mereka dalam sesi presentasi paralel. Rudi Barnansyah turut hadir sebagai bagian dari delegasi PAI UNJ. Dengan demikian, kontribusi PAI UNJ tidak berhenti pada kehadiran, tetapi juga hadir melalui gagasan, penelitian, refleksi, dan praktik akademik yang dibawa ke ruang nasional.

Gagasan yang disampaikan Dr. Andy Hadiyanto menjadi salah satu titik penting dalam forum tersebut. Pendidikan agama di perguruan tinggi perlu direorientasi agar tidak berhenti pada pembentukan kesalehan personal, tetapi mampu melahirkan mahasiswa yang memiliki karakter, kepekaan sosial, dan kemampuan menerjemahkan nilai-nilai agama ke dalam kehidupan nyata. Pendidikan agama harus mampu menjembatani nilai-nilai keislaman dengan persoalan kemanusiaan, kebangsaan, lingkungan, etika digital, keberagaman, serta berbagai tantangan kehidupan kontemporer. Dengan cara pandang ini, agama tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan yang selesai ketika perkuliahan berakhir, tetapi sebagai sumber nilai yang membentuk cara mahasiswa berpikir, bersikap, mengambil keputusan, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Perspektif tersebut menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan posisi MKWK sebagai mata kuliah strategis dalam membentuk karakter mahasiswa. PAI memiliki peluang besar untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya menjawab pertanyaan “apa yang harus diyakini”, tetapi juga “bagaimana keyakinan itu diwujudkan dalam kehidupan”. Nilai kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, keadilan, penghormatan terhadap perbedaan, kepedulian terhadap lingkungan, serta semangat membangun kehidupan bersama merupakan nilai agama yang sekaligus relevan dengan agenda pembangunan berkelanjutan.

Semangat itu juga tercermin dalam karya yang dipresentasikan oleh para dosen PAI UNJ. Dr. Sari Narulita mengangkat tema “Menghadapi Hambatan Akademik dan Teknis: Resiliensi Mahasiswa Tunanetra Prodi PAI dalam Perkuliahan MKU”. Tema ini memperlihatkan pentingnya menghadirkan pendidikan yang inklusif dan memastikan bahwa setiap mahasiswa memperoleh kesempatan yang setara untuk berkembang. Pendidikan berkualitas tidak cukup hanya berbicara mengenai capaian akademik, tetapi juga mengenai kemampuan perguruan tinggi dalam menciptakan lingkungan belajar yang ramah terhadap keberagaman kondisi mahasiswa.

Dr. Rihlah Nur Aulia, melalui kajian “Revitalisasi Tata Kelola MKWK: Mengurai Problematika dan Merumuskan Inovasi Pengembangan SDM”, mengajak peserta untuk melihat bahwa kualitas MKWK juga sangat ditentukan oleh tata kelola dan kesiapan sumber daya manusia. Pembelajaran yang baik membutuhkan ekosistem yang baik. Karena itu, penguatan PAI tidak hanya membutuhkan inovasi materi dan metode pembelajaran, tetapi juga penguatan kapasitas dosen, tata kelola, kolaborasi antarperguruan tinggi, serta keberanian untuk melakukan pembaruan.

Sementara itu, Mushlihin, S.Pd.I., M.A. mengangkat tema “Rekontekstualisasi Nilai-Nilai Agama Sebagai Pedoman Hidup Kontemporer: Analisis Arah Baru Kebijakan KMA No. 158 Tahun 2026.” Gagasan tersebut mendapatkan apresiasi melalui penghargaan sebagai Best Presenter. Pencapaian ini tentu patut diapresiasi bukan hanya sebagai prestasi personal, tetapi juga sebagai bagian dari capaian PAI UNJ dalam forum akademik nasional. Ia menunjukkan bahwa gagasan tentang pendidikan agama yang kontekstual memiliki ruang yang kuat untuk dibahas, dikembangkan, dan dikolaborasikan pada tingkat nasional.

Jika ditarik lebih jauh, seluruh kontribusi tersebut memiliki irisan yang kuat dengan Sustainable Development Goals (SDGs). PAI dapat mengambil peran nyata dalam mewujudkan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, melalui pembelajaran yang inklusif, relevan, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Perhatian terhadap mahasiswa tunanetra juga berkelindan dengan SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, karena pendidikan yang berkeadilan harus memastikan bahwa keterbatasan tertentu tidak menjadi alasan bagi seseorang untuk kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan bermutu. Penguatan karakter, moderasi beragama, etika, tanggung jawab sosial, dan kehidupan bersama yang damai relevan dengan SDG 16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh. Sementara itu, forum nasional yang mempertemukan berbagai perguruan tinggi dalam pengembangan MKWK menjadi bagian dari semangat SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Dari perspektif PAI, SDGs dengan demikian tidak perlu dipandang sebagai agenda yang berdiri di luar agama. Sebaliknya, ia dapat menjadi ruang untuk mengaktualisasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan agama berbicara tentang manusia yang bermartabat; SDGs berbicara tentang pembangunan yang tidak meninggalkan manusia. Pendidikan agama mengajarkan tanggung jawab; pembangunan berkelanjutan membutuhkan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan. Pendidikan agama menanamkan kepedulian dan keadilan; pembangunan berkelanjutan membutuhkan keberpihakan terhadap kelompok yang rentan dan terpinggirkan. Di titik inilah PAI memiliki peluang untuk memberikan kontribusi yang khas: menghadirkan dimensi moral dan spiritual dalam agenda pembangunan manusia.

Rangkaian kegiatan di Lombok kemudian ditutup dengan Sasambo Archipelagic Study and Tour. Kunjungan ke Penginang Lombok di kawasan Sukarara, Desa Ende, dan Sirkuit Mandalika memberikan pengalaman yang melengkapi ruang akademik yang telah berlangsung sebelumnya. Perjalanan tersebut dapat dimaknai sebagai pembelajaran kontekstual tentang bagaimana budaya, masyarakat, identitas, kreativitas, dan modernitas berjalan berdampingan. Sukarara menghadirkan kekayaan tradisi dan kerajinan lokal; Desa Ende memperlihatkan kehidupan budaya masyarakat; sementara Mandalika menggambarkan wajah pembangunan dan modernitas Indonesia.

Bagi PAI, pengalaman tersebut memiliki makna tersendiri. Pendidikan agama tidak semestinya hanya berlangsung melalui teks dan ruang kelas. Kehidupan masyarakat adalah ruang belajar yang luas. Budaya adalah ruang untuk memahami kearifan. Perjumpaan dengan masyarakat adalah ruang untuk membangun empati. Perubahan sosial adalah ruang untuk menguji relevansi nilai. Bahkan perjalanan wisata pun dapat menjadi ruang refleksi tentang bagaimana manusia menjaga identitas, mengembangkan potensi ekonomi, menghormati lingkungan, dan membangun kehidupan bersama.

Dari Lombok, para dosen PAI UNJ membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman seminar dan perjalanan. Mereka membawa gagasan bahwa pendidikan agama harus terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman tanpa kehilangan akar nilai-nilai. PAI perlu hadir sebagai pendidikan yang membentuk manusia beragama sekaligus manusia yang mampu hidup bersama, berpikir kritis, menghargai perbedaan, peduli terhadap sesama, dan bertanggung jawab terhadap masa depan.

Pada akhirnya, keikutsertaan PAI UNJ dalam forum nasional MKWK 2026 menjadi bagian dari perjalanan untuk memperluas makna pendidikan agama. PAI tidak cukup hanya mengajarkan apa yang benar, tetapi juga perlu membentuk kemampuan mahasiswa untuk menghadirkan kebenaran itu dalam tindakan yang bermanfaat. Nilai agama harus menjadi karakter, karakter harus menjadi tindakan, dan tindakan harus memberi dampak bagi kehidupan.

Dari ruang seminar di Mataram hingga perjumpaan dengan budaya Lombok, dari presentasi ilmiah hingga penghargaan Best Presenter, dari pembahasan MKWK hingga refleksi tentang SDGs, semuanya bermuara pada satu ikhtiar: menghadirkan Pendidikan Agama Islam yang semakin kontekstual, inklusif, humanis, dan berdampak dalam mewujudkan generasi berkarakter menuju Indonesia Emas 2045.

Menjadi mahasiswa bukan sekadar berpindah dari bangku sekolah ke ruang kuliah. Ia adalah perjalanan memasuki dunia baru: dunia yang menuntut kemandirian, keberanian mengambil keputusan, kemampuan berkolaborasi, sekaligus keteguhan dalam menjaga nilai dan integritas. Semangat itulah yang mewarnai rangkaian PKKMB Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UNJ 2026 yang berlangsung pada 11, 26, dan 27 Agustus 2026.

Mengusung tema “ASTRANARA: Akselerasi Transformasi Mahasiswa Berintegritas Menuju Peradaban Unggul,” PKKMB PAI dirancang bukan hanya sebagai kegiatan penyambutan mahasiswa baru, tetapi juga sebagai pintu pertama untuk mengenalkan kehidupan akademik, budaya PAI, organisasi kemahasiswaan, serta nilai-nilai keislaman yang menjadi karakter Program Studi PAI.

Rangkaian perjalanan itu dimulai pada 11 Agustus 2026** melalui PRA PKKMB yang dilaksanakan secara daring. Sejak pagi, mahasiswa baru diajak untuk mengenal lebih dekat dunia akademik di PAI. Materi tentang kurikulum dan tutorial pengisian KRS memberikan bekal praktis agar mahasiswa tidak sekadar hadir di kampus, tetapi juga memahami cara merancang perjalanan studi mereka. Wawasan kemudian diperluas melalui materi mengenai prospek dunia kerja lulusan PAI, yang membuka pandangan bahwa lulusan PAI memiliki ruang pengabdian dan pengembangan diri yang luas. Rangkaian tersebut semakin hidup melalui pemilihan koordinator mahasiswa dan pelaksanaan Forum Group Discussion (FGD). Antusiasme mahasiswa dalam berdiskusi dan bertanya menjadi tanda bahwa mereka tidak hanya datang untuk mendengarkan, tetapi juga siap untuk terlibat.

Namun, suasana PKKMB benar-benar terasa ketika mahasiswa baru bertemu secara langsung pada 26 Agustus 2026 dalam PASS PKKMB di Gedung Ki Hajar Dewantara, Kampus A UNJ. Hari itu menjadi momentum ketika nama, wajah, dan cerita mulai menemukan ruang dalam sebuah keluarga baru bernama PAI.

Pekikan semangat mahasiswa baru, pengenalan dosen, sesi motivasi bersama mahasiswa berprestasi, diskusi, ice breaking, hingga games menghadirkan suasana yang hangat dan penuh energi. Di tengah keseruan tersebut, mahasiswa belajar sesuatu yang jauh lebih penting: bahwa kehidupan kampus tidak dibangun sendiri. Ada teman untuk bertumbuh, dosen untuk membimbing, organisasi sebagai ruang belajar, dan keluarga besar PAI sebagai tempat untuk berproses.

Bahkan ketika muncul kendala teknis berupa keterlambatan pembukaan gedung, panitia tidak membiarkan situasi tersebut mengganggu keseluruhan agenda. Koordinasi dan penyesuaian dilakukan di lapangan agar rangkaian tetap berjalan. Pengalaman ini sekaligus memperlihatkan bahwa sebuah kegiatan yang baik tidak selalu berarti kegiatan tanpa kendala, tetapi kegiatan yang mampu merespons kendala dengan cepat, tenang, dan kolaboratif.

Kemeriahan 26 Agustus kemudian dilanjutkan dengan pertemuan yang tidak kalah penting pada 27 Agustus 2026, ketika program studi mempertemukan mahasiswa baru dengan wali mahasiswa melalui Zoom. Jika dua rangkaian sebelumnya banyak berbicara kepada mahasiswa, pertemuan ini memperluas ruang komunikasi kepada keluarga. Koordinator Program Studi, Pembina OPMAWA, serta panitia memperkenalkan para dosen PAI sekaligus memberikan pengantar mengenai kehidupan akademik dan kiat sukses dalam menjalani perkuliahan.

Langkah ini memiliki makna yang kuat. Pendidikan mahasiswa tidak berlangsung dalam ruang terpisah dari keluarga. Komunikasi antara program studi dan wali mahasiswa merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang saling mendukung. PKKMB akhirnya tidak hanya mempertemukan mahasiswa dengan kampus, tetapi juga mempertemukan keluarga dengan lingkungan akademik yang akan menjadi bagian penting dari perjalanan putra-putri mereka.

Dari tiga rangkaian tersebut, terlihat bahwa PKKMB PAI 2026 memiliki tujuan yang jauh melampaui orientasi awal mahasiswa. Mahasiswa baru memperoleh pemahaman tentang sistem akademik, prospek profesi, organisasi kemahasiswaan, serta budaya PAI. Mereka juga mulai membangun komunikasi, ukhuwah, kerja sama, serta keberanian untuk berprestasi dan berkontribusi.

Di sinilah ASTRANARA menemukan maknanya. Transformasi mahasiswa tidak terjadi dalam semalam. Ia dimulai dari keberanian untuk mengenal lingkungan baru, bertanya ketika belum memahami, membangun relasi, belajar bekerja sama, berani berorganisasi, serta menetapkan cita-cita untuk berprestasi. Integritas pun tidak cukup sekadar menjadi slogan. Ia harus tumbuh melalui disiplin, tanggung jawab, kepedulian, dan konsistensi dalam menjalani setiap proses.

PKKMB PAI 2026 juga menunjukkan bahwa semangat mahasiswa baru bukan sekadar euforia sesaat. Antusiasme dalam diskusi, keterlibatan dalam kegiatan kelompok, semangat mengikuti games, hingga perhatian terhadap materi menjadi modal awal untuk membangun kultur akademik yang aktif dan kolaboratif.

Karena itu, 11, 26, dan 27 Agustus 2026 bukan sekadar tiga tanggal dalam kalender kegiatan PAI. Ketiganya menjadi tiga tahap awal dalam sebuah perjalanan: mengenal, terhubung, lalu bertumbuh.

Kini mahasiswa baru PAI 2026 telah membuka halaman pertamanya. Mereka datang dengan latar belakang, mimpi, dan karakter yang berbeda-beda. Namun, di PAI, perbedaan itu dipertemukan dalam satu semangat: menjadi insan akademis yang religius, berintegritas, berprestasi, dan bermanfaat.

PKKMB boleh saja berakhir. Pekikan semangat boleh mereda. Games dan ice breaking boleh menjadi kenangan. Namun, pesan terpentingnya baru akan dimulai ketika mahasiswa memasuki ruang perkuliahan, menghadapi tugas, berdiskusi dengan dosen, berorganisasi, menjalani proses akademik, dan kelak hadir di tengah masyarakat sebagai pendidik dan insan yang membawa perubahan.

Selamat datang, mahasiswa PAI 2026.

ASTRANARA bukan sekadar tema penyambutan. Ia adalah ajakan untuk bergerak: bertransformasi dengan integritas, bertumbuh melalui kolaborasi, dan mempersiapkan diri menuju peradaban yang unggul.

CHANGHUA, TAIWAN — Pendidikan Agama Islam tidak lagi cukup dipahami sebagai proses pembelajaran di ruang kelas. Di tengah dunia yang semakin terbuka, PAI perlu menghadirkan mahasiswa yang mampu memahami keberagaman, berdialog dengan ilmu pengetahuan, membaca persoalan global, serta tetap kokoh dalam nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.

Semangat tersebut tercermin dalam perjalanan Mohammad Dzaky Zaidan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (UNJ), saat mengikuti Summer Chinese Language Short-Term Study Tour di Da-Yeh University (DYU), Taiwan, pada 16–30 Juli 2026. Program tersebut diikuti mahasiswa UNJ bersama peserta internasional dan menghadirkan pengalaman belajar bahasa Mandarin, budaya, sejarah, agama, sains, hingga lingkungan.

Bagi PAI UNJ, keberangkatan Dzaky bukan sekadar perjalanan akademik ke luar negeri. Ia menjadi gambaran tentang bagaimana internasionalisasi pendidikan dapat membentuk mahasiswa yang berani keluar dari zona nyaman, memperluas cakrawala, dan menemukan relevansi nilai-nilai Islam dalam kehidupan global. Selama dua pekan di DYU, Dzaky mengikuti pembelajaran Mandarin secara intensif. Pagi hingga siang ia mengikuti kelas bahasa, sedangkan sore hari diisi dengan berbagai kegiatan budaya. Peserta menyelesaikan lima level pembelajaran Mandarin dan mengikuti delapan lokakarya budaya, mulai dari membuat mochi, kue nanas, lumpia, dan congyoubing, hingga melukis kain dan bermain board game berbahasa Mandarin bersama peserta dari berbagai negara.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa bahasa asing bukan sekadar keterampilan tambahan. Bahasa membuka pintu untuk memahami manusia, budaya, dan peradaban. Bagi mahasiswa PAI, kemampuan ini menjadi modal penting untuk menjadi pendidik yang mampu berkomunikasi dengan generasi yang semakin beragam serta membangun dialog di tengah masyarakat global.

Namun, semakin jauh Dzaky berada dari Indonesia, semakin kuat pula kesadarannya untuk menjaga identitas keislamannya. Selama program berlangsung, ia bersama mahasiswa Indonesia lainnya tetap melaksanakan salat Jumat secara mandiri di lingkungan kampus. Imam, khatib, dan muazin berasal dari kalangan mahasiswa Indonesia. Ia juga menyempatkan diri mengunjungi Masjid NU Changhua dan bersilaturahmi dengan komunitas Muslim Indonesia yang sebagian besar merupakan pekerja migran. Pengalaman ini memberikan pesan penting: menjadi mahasiswa global tidak berarti kehilangan akar. Justru, perjumpaan dengan dunia dapat memperkuat identitas sekaligus menumbuhkan kemampuan menghargai perbedaan.

Bagi PAI UNJ, pengalaman tersebut juga memperluas gambaran tentang ruang pengabdian lulusan. Sarjana PAI tidak hanya dapat berkiprah di sekolah atau madrasah, tetapi juga memiliki peluang untuk berperan sebagai pendidik, komunikator, dan penyuluh agama bagi komunitas Muslim di berbagai belahan dunia.

Perjalanan Dzaky kemudian berkembang menjadi pembelajaran tentang moderasi beragama. Ia mengunjungi Kuil Baguashan dan Xuanguang Temple serta berbagai situs sejarah dan budaya Taiwan. Perjumpaan langsung dengan tradisi dan keyakinan yang berbeda ia refleksikan melalui perspektif studi agama-agama dan moderasi beragama.

Pengalaman seperti ini memberi makna baru dalam pembelajaran PAI. Moderasi beragama tidak berhenti menjadi konsep yang dibahas di kelas. Ia tumbuh melalui pengalaman memahami perbedaan, membangun dialog, dan melihat bagaimana masyarakat lain menjalankan tradisi mereka. Mahasiswa PAI perlu memiliki keberanian untuk mengenal dunia agar mampu mendidik generasi yang hidup dalam keberagaman.

Menariknya, pembelajaran Dzaky tidak berhenti pada agama dan budaya. Ia juga menyentuh isu lingkungan ketika mengunjungi pangkalan operasi dan pemeliharaan ladang angin lepas pantai Changfang-Xidao dan Zhong Neng. Di sana, ia melihat secara langsung bagaimana energi terbarukan dikembangkan sebagai bagian dari masa depan yang berkelanjutan. Sebagai mahasiswa PAI, pengalaman tersebut ia hubungkan dengan konsep khalifah fil ardh dan fiqh al-bi’ah. Manusia memiliki amanah untuk menjaga bumi. Dari sini terlihat bahwa pendidikan Islam memiliki ruang yang luas untuk menjawab persoalan global. Perubahan iklim, energi bersih, dan keberlanjutan bukan hanya persoalan teknologi. Semua juga membutuhkan landasan moral dan spiritual.

Di National Museum of Natural Science di Taichung, Dzaky kembali menemukan pengalaman yang mempertemukan sains dengan perspektif keislaman. Ia melihat bagaimana pengetahuan tentang alam semesta, kehidupan, manusia, dan lingkungan disampaikan kepada masyarakat secara menarik. Pengalaman itu ia hubungkan dengan gagasan integrasi ilmu atau wahdatul ulum, bahwa sains dan wahyu dapat menjadi jalan untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah melalui ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Di titik inilah pengalaman Dzaky relevan dengan arah pengembangan PAI UNJ. Mahasiswa PAI tidak cukup hanya menjadi ahli dalam bidang keagamaan. Mereka perlu menjadi pembelajar yang mampu menghubungkan agama dengan sains, teknologi, lingkungan, budaya, serta persoalan kemanusiaan.

Perjalanan tersebut juga membawanya pada pembelajaran sejarah. Di 1895 Taiwan Resistance Peace Memorial Park, Dzaky mempelajari kisah masyarakat lokal yang mempertahankan tanah kelahirannya dari invasi Jepang. Baginya, pengalaman tersebut mengingatkan pada nilai kecintaan terhadap tanah air yang juga dikenal dalam tradisi pendidikan Islam di Indonesia.

Semakin banyak tempat yang dikunjungi, semakin luas pula cara pandangnya. Taiwan menjadi ruang belajar yang mempertemukan identitas, agama, sejarah, sains, budaya, dan lingkungan. Inilah pembelajaran yang tidak selalu dapat ditemukan dalam buku.

Bahkan, perjalanan tersebut memberikan dampak yang lebih luas bagi institusi. Pada 29 Juli 2026, UNJ dan Da-Yeh University menandatangani MoU pertama yang membuka peluang pengembangan kerja sama akademik dan pertukaran mahasiswa di masa mendatang. Artinya, langkah seorang mahasiswa dapat membuka jalan bagi mahasiswa lain.

Pengalaman Dzaky juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Pembelajaran lintas negara mendukung SDG 4: Quality Education melalui pengalaman pendidikan yang berkualitas dan berwawasan global. Interaksi dengan komunitas Muslim Indonesia di Taiwan memperkuat semangat SDG 10: Reduced Inequalities. Pengalaman tentang energi terbarukan dan refleksi khalifah fil ardh menunjukkan relevansi SDG 13: Climate Action. Dialog lintas budaya dan agama berkontribusi pada SDG 16: Peace, Justice and Strong Institutions, sementara MoU UNJ–DYU memperkuat SDG 17: Partnerships for the Goals.

Pada akhirnya, dua pekan di Changhua menjadi lebih dari sekadar program belajar bahasa Mandarin. Dzaky pulang membawa pengalaman tentang bagaimana sebuah masyarakat merawat sejarah, menghargai keberagaman, mengembangkan energi bersih, mengelola pengetahuan, dan tetap menyediakan ruang bagi kehidupan keagamaan di tengah masyarakat yang mayoritas bukan Muslim.

Bagi PAI UNJ, kisah Dzaky bukan untuk berhenti menjadi cerita tentang satu mahasiswa. Justru, kisah ini diharapkan menjadi pemantik keberanian bagi mahasiswa PAI lainnya. Ada banyak peluang yang mungkin selama ini terasa jauh: pertukaran mahasiswa, short course, konferensi internasional, belajar bahasa asing, penelitian lintas negara, hingga membangun jejaring dengan mahasiswa dari berbagai budaya. Pengalaman Dzaky menunjukkan bahwa kesempatan global dapat dimulai dari satu keberanian sederhana: berani mencoba dan berani keluar dari zona nyaman.

Tidak semua mahasiswa harus pergi ke Taiwan. Tidak semua harus mengikuti program yang sama. Tetapi setiap mahasiswa dapat memulai langkahnya sendiri—menguasai bahasa asing, mengikuti kegiatan internasional, aktif dalam organisasi, membangun jejaring, mengikuti kompetisi, melakukan riset, atau sekadar mulai berani berbicara dengan mahasiswa dari latar belakang yang berbeda. Sebab, internasionalisasi PAI bukan hanya tentang siapa yang berhasil berangkat ke luar negeri. Internasionalisasi adalah tentang semakin banyak mahasiswa yang berani membuka jendela dunia. Dzaky telah membuka salah satu jendela itu. Kini, giliran mahasiswa PAI UNJ lainnya untuk melihat dunia, menemukan peluang, dan membawa pulang pengalaman bermanfaat bagi Indonesia.

Belajar agama untuk memahami dunia.
Belajar dari dunia untuk memperkaya keberagamaan.
Dan membawa nilai-nilai Islam untuk menghadirkan kemaslahatan.

Dari PAI UNJ, langkah kecil menuju dunia dapat menjadi awal perubahan yang lebih besar.

 

INFORMASI

Kegiatan Mahasiswa

INFORMASI

Agenda dan Pengumuman

MEDIA

Kanal YouTube PAI UNJ

Cerita Alumni

Ahmad Nur Fahmi

banyak cerita seru semasa kuliah di UNJ mulai dari akademis, kegiatan sehari-hari, hingga asmara.

Ahmad Nur Fahmi

banyak cerita seru semasa kuliah di UNJ mulai dari akademis, kegiatan sehari-hari, hingga asmara.

Ahmad Nur Fahmi

banyak cerita seru semasa kuliah di UNJ mulai dari akademis, kegiatan sehari-hari, hingga asmara.