Jakarta, 23 September 2026 — Program Studi S1 Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Jakarta (UNJ), menyelenggarakan kegiatan International Lecturer dalam mata kuliah Globalization Issues dengan menghadirkan Abdul Razaque Chhachhar, Ph.D., Assistant Professor pada Department of Media and Communication Studies, University of Sindh, Jamshoro, Pakistan. Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti oleh mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi FISH UNJ angkatan 2024.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya internasionalisasi pembelajaran di lingkungan FISH UNJ dengan membuka ruang akademik lintas negara bagi mahasiswa. Dalam perkuliahan yang diampu oleh Nada Arina Romli, M.I.Kom., mahasiswa tidak hanya mempelajari isu global sebagai rangkaian peristiwa yang melampaui batas negara, tetapi juga diajak memahami bagaimana isu tersebut dipilih, dibingkai, didistribusikan, diinterpretasikan, hingga diperdebatkan melalui media dunia.
Mengangkat tema “Global Issues in World Media,” Chhachhar menjelaskan bahwa isu seperti perubahan iklim, perang dan perdamaian, migrasi, pandemi, kemiskinan, kecerdasan artifisial, hak asasi manusia, serta ketahanan pangan dan energi menjadi isu media ketika memasuki ruang komunikasi publik, perdebatan, kebijakan, dan perhatian masyarakat. Ia menekankan bahwa perjalanan sebuah peristiwa menjadi berita global melewati berbagai tahapan, mulai dari observasi, seleksi berita, pemilihan sumber, framing, publikasi, distribusi melalui platform, hingga interpretasi audiens.
Salah satu pembahasan utama dalam kuliah tersebut adalah agenda-setting dan framing. Chhachhar menjelaskan bahwa perhatian media dapat memengaruhi isu apa yang dianggap penting oleh publik, sementara framing menentukan aspek tertentu dari realitas yang ditonjolkan dalam pemberitaan. Peristiwa yang sama, misalnya, dapat dikonstruksi sebagai persoalan keamanan, krisis kemanusiaan, masalah ekonomi, maupun perselisihan politik.
“Media may not tell us exactly what to think, but through agenda-setting they influence what deserves our attention, and through framing they shape the lens through which we understand it. Therefore, being globally informed also means learning to ask: what is being highlighted, and what has been left outside the frame?” ujar Chhachhar dalam sesi perkuliahan.
Pesan tersebut mengajak mahasiswa untuk tidak berhenti pada aktivitas mengonsumsi informasi. Literasi media global membutuhkan kemampuan membandingkan sumber, memeriksa bukti, mengenali frame, serta menyadari suara atau perspektif yang tidak hadir dalam suatu pemberitaan. Materi perkuliahan juga menegaskan bahwa tidak ada satu media yang dapat memberikan gambaran lengkap atas kompleksitas sebuah isu global.
Perspektif Global South turut menjadi perhatian penting. Mahasiswa diajak melihat bahwa analisis media global perlu memberi ruang terhadap suara dan pengetahuan yang berasal dari Asia, Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah, dan kawasan lainnya. Sumber berbahasa Inggris maupun perspektif Barat tidak semestinya secara otomatis dianggap universal. Perbandingan media justru perlu mempertimbangkan perbedaan konteks budaya, bahasa, kepemilikan media, akses, audiens, dan cara suatu isu dibingkai.
Kegiatan International Lecturer ini relevan dengan komitmen FISH UNJ terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education melalui pembelajaran berkualitas dengan perspektif internasional dan penguatan literasi kritis mahasiswa. Diskusi mengenai akses terhadap informasi, hak asasi manusia, etika media, representasi kelompok rentan, serta akuntabilitas institusi juga beririsan dengan SDG 16: Peace, Justice and Strong Institutions. Sementara itu, kolaborasi akademik antara Universitas Negeri Jakarta dan University of Sindh merepresentasikan semangat SDG 17: Partnerships for the Goals, khususnya melalui pertukaran pengetahuan dan jejaring pendidikan lintas negara.
Melalui kegiatan ini, FISH UNJ terus mendorong pembelajaran yang tidak hanya membawa isu global ke dalam ruang kelas, tetapi juga membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk mempertanyakan bagaimana realitas global dikonstruksi dan siapa yang memperoleh ruang untuk mendefinisikannya. Dalam ekosistem informasi yang semakin dipengaruhi media sosial, algoritma, kreator, dan kecerdasan artifisial, kemampuan membaca media secara kritis menjadi bagian penting dari kompetensi calon komunikator di tengah masyarakat global.


